BPPSDMP Kementan Bangun Soliditas Pengembangan Food Estate Merespons Restriksi Pangan Global

Minggu, 04 Oktober 2020 – 14:18 WIB
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi saat sosialisasi pengembangan Food Estate di Palangka Raya, Kalteng. Foto: Humas Kementan RI.

jpnn.com, PALANGKA RAYA - Pemerintah terus mengembangkan kemandirian pangan melalui program Food Estate di Kalimantan Tengah (Kalteng). Treatment ini dilakukan merespons restriksi pangan global sebagai imbas negatif pandemi Covid-19.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) pun terus melakukan penguatan terhadap program ini melalui sosialisasi yang berlangsung pada Jumat (2/10), di Palangka Raya, Kalteng.

BACA JUGA: 2,6 Juta Lembar Kartu Tani Sudah Terdistribusikan di Jawa Tengah

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Food Estate menjadi program sangat super prioritas. Implementasi program ini akan dimulai awal Oktober ini.

"Untuk itu, pengecekan dan evaluasi kesiapannya harus dilakukan secara menyeluruh. Selain terus membangun komunikasi, kami juga menyampaikan berbagai informasi terbaru terkait Food Estate pada stakeholder pertanian di Kalteng,” ungkap Mentan Syahrul.

BACA JUGA: Berita Duka, Bupati Ibnu Saleh Meninggal Kena Covid-19

Sosialisasi tersebut membuktikan adanya soliditas dalam mengembangkan program Food Estate tersebut. Hadir pada acara ini para petani, penyuluh, praktisi, juga stakeholder pertanian lainnya yang berasal dari Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa tren restriksi terlihat dengan adanya pembatasan ekspor komoditi pangan oleh negara-negara di dunia. Kazakhstan misalnya, membatasi ekspor gandum di angka 200 ribu ton dan 70 ribu ton untuk komoditi tepung terigu.

BACA JUGA: Irwan Fecho: Ada Insentif untuk Guru dan Majelis Taklim dari Azizah-Ruhama

Rusia juga ikut membatasi ekspor gandum di angka 7 juta ton dari rentang April-Juni 2020. Pembatasan ekspor gandum juga dilakukan Ukraina dengan slot 20,2 juta ton untuk periode 2019-2020.

“Indonesia tidak boleh lagi tergantung impor pangan. Kita harus bisa menyediakan pangannya sendiri. Untuk itu program Food Estate harus sukses di Kalteng. Food Estate ini sebagai jawaban atas restriksi pangan global. Penguatannya kini terus dilakukan termasuk melalui sosialisasi lanjutan ini,” jelas Dedi.

Food Estate di Kalteng akan mengembangkan komoditas padi, hortikultura, peternakan, dan perikanan. Luasan per klasternya sekitar 1.000 hektare. Program ini melakukan pendekatan pertanian dari hulu hingga hilir.

Dalam pengembangannya, Food Estate Kalteng akan memiliki luas potensial 164,6 ribu hektare. Untuk luas fungsional 85,45 ribu hektare, dan sisa luas fungsional 79,1 ribu hektare. Dukungan penuh pun diberikan oleh Kementan melalui pengalokasian anggaran.

“Kementan sudah menyuntikan anggaran yang akan dialirkan dalam berbagai program, seperti alsintan, pupuk, center of excellence, pengembangan untuk hortikultura, juga SDM. Output kegiatan pendampingan juga tersedianya sarana IT di Kostrada dan Kostratani," jelas Dedi.

Kelebihan dari Food Estate adalah mengakomodir kepentingan petani dari hulu ke hilir. Program ini dikembangkan secara bisnis dan menguntungkan. Nantinya petani tidak boleh lagi menjual gabah, tapi harus dalam bentuk beras.

"Hal ini untuk mencapai keuntungan maksimal bagi petani. Semakin ke hilir untungnya bertambah besar,” tukasnya.

Melalui Food Estate, nantinya petani akan berkelompok dalam menjalankan aktivitas bisnis. Berbentuk korporasi, setiap unit aktivitas bisnis diisi oleh Poktan dan Gapoktan.  

Selain padi, mereka akan mengembangkan potensi lain. Beberapa di antaranya seperti sayuran, buah, itik, hingga ikan. Ikan yang diusahakan adalah haruan dan lele. Apalagi lahan gambut pada Food Estate memiliki potensi yang cukup besar.

“Seluruh potensi akan dikembangkan, meski lahan yang diusahakannya adalah gambut atau rawa. Jenis lahan ini tetap kompetitif asalkan dilakukan secara sungguh-sungguh. Lahan gambut tetap potensial dan menjanjikan. Itik dan ikan bisa dikembangkan di sana,” pungkas Dedi.(adv/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler