BRI Harus Fokus Segmen UMKM

Rabu, 22 Oktober 2014 – 04:24 WIB

jpnn.com - KERJA ekstra manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI) membuahkan hasil. Itu setelah nasabah kredit usaha rakyat (KUR) hijrah ke kredit komersil. Tercatat sebanyak 942.763 nasabah KUR telah bermigrasi.

Berdasar data perseroan, hingga September 2014, perpindahan nasabah KUR mencapai 942.763 debitur. Di mana plafon pinjaman dari nasabah tersebut mencapai angka senilai Rp 15,3 triliun.

BACA JUGA: Masih Berbentuk Perum, Perhutani Belum Bisa IPO

”Ini tak lepas dari langkah kami mendorong nasabah,” ungkap Budi Satria, Sekretaris Perusahaan BRI, di Jakarta, baru-baru ini.

Migrasi itu, klaim Budi, merupakan salah satu indikator keberhasilan penyaluran KUR. Itu merefleksikan debitor pelaku usaha mikro berpindah akses pembiayaan komersial. Selain itu, migrasi tersebut menunjukkan bisnis semakin bagus dan menjadi bankable serta telah mempunyai aset riil, yang dapat menjadi jaminan untuk pemberian kredit dengan nominal lebih besar.

BACA JUGA: Telkomsel Perkuat Pasar Korporat

Adapun realisasi kumulatif KUR per September 2014 secara keseluruhan mencapai Rp 110,07 triliun. Angka itu terdiri dari KUR Ritel senilai Rp 20,09 triliun, dengan jumlah debitur sebanyak 114.591 orang. Sedang untuk realisasi KUR Mikro tercatat sebesar Rp 89,97 triliun, dengan 10.901.101 debitur.

Penyaluran KUR itu dari sisi ekonomi, didominasi sektor perdagangan mencapai Rp 67,5 triliun dengan jumlah debitur sebesar 7,2 juta. Sektor kedua terbesar adalah pertanian, sebesar Rp 16,3 triliun dengan jumlah 1,7 juta debitur. Di mana nasabah KUR itu merupakan pemula dan belum bankable.

BACA JUGA: RUPSLB Bank Mutiara Setujui Pengambilalihan oleh J Trust

Di sisi lain, perseroan disarankan untuk lebih fokus sebagai bank rakyat. Itu penting dan strategis supaya Indonesia mempunyai bank berkelas dunia. Dan, itu merupakan salah satu dari tujuh skenario besar sekaligus bagian dari strategi penataan lansekap perbankan nasional.

”Itu cita-cita nasional supaya bank mampu bersaing baik di ASEAN dan global,” tambah Sigit Pramono, Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas).

Karena itu sambung Sigit, perseroan harus melakukan re-fokus sebagai bank usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Selanjutnya, mendukung pembangunan sektor pertanian dan perikanan.
Skenarionya, seluruh portofolio kredit korporasi perseroan diserahkan atau dijual kepada megamerger BNI-Mandiri.

”Sebaliknya portofolio kredit UMKM BNI-Mandiri diserahkan atau dijual kepada BRI,” ucapnya.

Indonesia sebut Sigit, setidaknya harus menyiapkan tujuh skenario besar konsolidasi perbankan nasional. Langkah itu mendesak dan relevan menyusul pemberlakuan integrasi pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun depan. Dan, khususnya untuk perbankan, arena MEA berlaku pada edisi 2019 mendatang. (far/indopos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berpotensi Menguat di Hari Pelantikan Jokowi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler