Bu Mega Tidak Antiasing, tetapi Khawatir Banget Budaya Indonesia Diklaim Negara Lain

Minggu, 22 Desember 2019 – 23:26 WIB
Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri di ajang Trisakti Tourism Award di Jakarta, Minggu (22/12) malam. Foto: Humas DPP PDIP

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbicara tentang pentingnya hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau paten bagi kebudayaan khas Indonesia. Presiden Kelima RI itu tak mau budaya Indonesia justru diklaim oleh asing.

Megawati menyatakan itu ketika berpidato pada pemberian Trisakti Tourism Award bagi kepala daerah yang punya kontribusi penting bagi pengembangan pariwisata di Grand Sahid Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (22/12). Menurutnya, saat ini sudah banyak orang asing yang menguasai budaya khas Indonesia, termasuk gamelan.

BACA JUGA: Megawati: Nyuwun Sewu Ada yang Bisik-Bisik, Ibu Sri Mulyani Ketat apa Pelit?

"Bukan sekarang saya antiasing, tidak, tetapi saya menjaga kelestarian budaya dan kesenian yang namanya rakyat Indonesia," ujarnya.

Putri Proklamator RI Bung Karno itu pun mengaku sudah membicarakan soal paten dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Yasonna H Laoly. Megawati meminta menteri yang juga kader PDIP itu mengurusi paten untuk kebudayaan bangsa.

BACA JUGA: Jelang Rakernas I PDIP, Megawati Keluarkan Instruksi Penting

“Saya sudah berbicara kepada beliau (Yasonna, red). Saya katakan hati-hati kalau orang luar itu ingin mengambil keanekaragaman negara, jangan dipikir mereka (negara luar) tidak ingin," lanjut dia.

Megawati menuturkan, Indonesia merupakan negeri yang kaya akan kebudayaan. Sebagai contoh, Indonesia memiliki circa 2.000 jenis permainan tradisional.

“Pagi tadi saya mendapatkan laporan, kami sedang mengumpulkan permainan tradisional Indonesia. Itu sudah terkumpulkan dua ribu," sebutnya.

Presiden Kelima RI itu juga meminta Yasonna menyosialisasikan pentingnya menjaga kekayaan intelektual. Megawati ingin para pelaku usaha kecil dan menengah juga melek akan HAKI.

“Masyarakat Indonesia seharusnya diajari untuk hal-hal sepetti itu. Sebenarnya hal yang tidak rumit, hal yang mudah (mematenkan usaha)," tutur dia.(mg10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler