Bukan Kehebatan Seks yang Membuat Pasangan Puas

Kamis, 10 Oktober 2013 – 16:05 WIB

jpnn.com - KONON yang dinamakan pasangan sejati adalah dua orang yang tak hanya saling mencintai, tapi juga mengetahui kegemaran satu sama lain atau apa yang dibenci satu sama lain.

Ternyata menurut sebuah studi baru, hal-hal sepele ini juga penting untuk memprediksi tingkat kepuasan seseorang terhadap hubungannya.

BACA JUGA: Peneliti Jerman Pastikan Diabetes Bisa Diturunkan

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Couple and Relationship Therapy ini pun mengungkapkan tingkat kepuasan seseorang terhadap hubungannya, tergantung pada tiga faktor.

Pertama, kemampuan berkomunikasi yang baik, kemudian pengetahuan tentang apa yang disukai atau dibenci pasangan, dan yang terakhir adalah life skill atau ketrampilan hidup (seperti mengelola keuangan, menjaga kesehatan, atau mempertahankan pekerjaan)

BACA JUGA: Populer di Inggris, Gelang Tembaga tak Terbukti Sembuhkan Rematik

Setelah menemukan tujuh faktor utama untuk memprediksi kuat tidaknya suatu hubungan, tim peneliti yang juga digawangi Robert Epstein, Ph.D. dari American Institute for Behavioral Research and Technology pun melakukan semacam survei online yang bertajuk Epstein Love Competencies Inventory. Survei ini berhasil menjaring 2.201 responden.

Hasilnya tak mengejutkan peneliti karena faktor teratas menurut pilihan responden adalah komunikasi. Namun peneliti malah terkejut ketika mendapati bahwa dua faktor lainnya adalah ketrampilan hidup dan pengetahuan tentang apa yang disukai/dibenci pasangan.

BACA JUGA: Wanita Obesitas Sulit Hamil

Faktanya, kompetensi lain seperti rasa cinta, seks, manajemen stres dan resolusi konflik justru tidak dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kepuasan seseorang terhadap hubungannya.

Mengapa ketiga faktor itu begitu penting? "Jelas saja mengetahui berbagai hal, mulai dari hari ulang tahun pasangan hingga ukuran baju mereka membuat hubungan makin lancar. Dan semakin banyak yang anda ketahui, maka akan membantu menciptakan ikatan yang lebih kuat dengan pasangan," kata Epstein, seperti dilansir laman Women's Health, Rabu (9/10).

Lalu mengapa ketrampilan hidup juga termasuk ke dalamnya? "Banyak pasangan yang bertengkar hanya karena kurangnya ketrampilan hidup. Ini termasuk masalah pekerjaan, keuangan bahkan bisa tidaknya pasangan membereskan rumah. Dan jika salah satu pihak tak memiliki hal ini, ini akan memberikan beban yang besar bagi hubungan," tandas Epstein.

Mengamini penjelasan Eipstein, pakar hubungan Diana Kirschner, Ph.D. pun mengatakan, "Ada semacam kegagalan personal dan rendahnya kepercayaan diri jika anda tidak memiliki ketrampilan hidup. Apalagi jika pasangan andalah yang tak memilikinya, ini akan menimbulkan penilaian yang buruk serta cibiran, salah satu hal terburuk dalam hubungan."

Beruntung kedua faktor itu masih bisa dipelajari dan diperbaiki. Agar bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci pasangan, Kirschner menyarankan untuk membuat sesi mendengar atau bercerita khusus dengan pasangan.

"Tapi usahakan agar sesi itu menyenangkan. Jika pasangan anda malu-malu, cobalah memulai perbincangan. Yang penting jangan menatap langsung ke matanya karena itu menunjukkan Anda tidak sedang mengintimidasinya," kata penulis buku 30 Days to Love: The Ultimate Relationship Turnaround Guide.

Sayangnya ketrampilan hidup tidaklah bisa dipelajari dalam waktu singkat, tapi anda bisa memulainya dari hal-hal paling mendasar. Orang yang tidak mempunyai ketrampilan hidup bisa saja mencari mentor, atau terapi untuk memperbaiki kekurangannya atau memperoleh pelatihan tentang apa yang ia tak bisa lakukan.

"Yang tak kalah penting pastikan pasangan terus memberikan dukungan dan apresiasi sepanjang proses itu," pungkas Kirschner. (fny/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Sekitar Bandara Rentan Terserang Stroke


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler