Bulu Binatang Kembali Populer di Fashion

Kamis, 03 Oktober 2013 – 22:15 WIB

jpnn.com - SYDNEY - Penggunaan bulu binatang di dunia fashion kembali populer. Hal ini merujuk laporan World Society for the Protection of Animals. Tanpa disadari sudah jutaan binatang yang dibunuh hanya demi kemewahan pakaian dunia fashion.

Menurut lembaga tersebut, 80 persen bulu binatang asli dipasok di China. Negara ini tidak memiliki peraturan dan undang-undang berkaitan dengan perlindungan binatang.

BACA JUGA: Bank Tiongkok Danai Pembelian Pesawat Garuda Rp 19,6 Triliun

Seperti yang dilansir ABC, Rabu (2/10), revolusi fashion pernah terjadi di tahun 90-an saat adanya gerakan antipenggunaan bulu binatang. Kala itu, siapapun yang memakainya bisa langsung menjadi sasaran dari gerakan tersebut.

Pada 1994, sejumlah supermodel ternama dunia, seperti Naomi Campbell, Claudia Schiffer dan Elle Macpherson pernah dengan bangganya berpose telanjang untuk PETA atau gerakan pemerhati binatang. Para supermodel itu mengangkat slogan, "lebih baik telanjang dari pada memakai bulu-bulu binatang."

BACA JUGA: Rizal Yakini KADIN Bisa Lebih Disegani

Pasca kampanye tersebut, pembunuhan terhadap binatang-binatang demi kemewahan fashion dianggap sebagai tindakan yang sia-sia. Namun, tanpa diduga penggunaan bulu-bulu binatang untuk pakaian, jaket, mantel, dan aksesoris kembali muncul.

Majalah Vogue di Inggris melaporkan adanya penggunaan bulu-bulu binatang saat pagelaran busana untuk musim gugur dan dingin 2013. Majalah tersebut mengungkapkan hampir 70 persen desainer ternama menggunakan bulu binatang asli.

BACA JUGA: Pertamina Amankan Pasokan BBM di Bali Selama APEC

Lantas dari manakah bulu-bulu binatang ini berasal? Mereka yang pro dengan penggunaan bulu binatang menyatakan bulu-bulu ini didapatkan dari hewan-hewan yang telah dimanfaatkan dagingnya. Namun klaim ini dianggap tidak berdasar.

Perdagangan bulu-bulu binatang di dunia kebanyakan berasal dari bulu musang dan rubah. "80 persen dari industri bulu-bulu binatang berasal dari ternak yang di kandang sempit, mereka kehilangan kualitas hidupnya dan kemampuan untuk berperilaku sesuai insting alamiahnya," ujar juru bicara Animals Australia.

Bahkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Kanada, metode yang digunakan adalah menggunakan perangkap liar yang dianggap keji.

"Kebanyakan bulu-bulu yang digunakan dan pakaian-pakaian murah berasal dari kelinci yang diternakkan di China, dimana perlindungan terhadap binatang jarang dilakukan," sambungnya.

Profesor Adrian Linacre dari Flinders University di Australia melakukan analisa terhadap DNA sejumlah pakaian berbulu di Australia pada 2012 . Hasilnya, apa yang disebutkan berasal dari bulu kelinci, ternyata mengandung bulu kucing. Di tahun 2011, Humane Society International juga pernah melakukan penelitian yang sama dan hasilnya banyak bulu yang berasal dari anjing, dan bukan dari kelinci seperti yang disebutkan.

Di lain sisi, industri bulu palsu kini mulai berkembang, seiring dengan permintaan yang bertambah. Salah satunya adalah Unreal Fur dari Australia yang sengaja memproduksi pakaian dari bulu-bulu palsu. Mereka melihat adanya permintaan tinggi dari mereka yang senang menggunakan bulu-bulu, tetapi mulai sadar akan kesejahteraan binatang.

"Unreal Fur didirikan karena kecintaan terhadap binatang, sekaligus frustasi dengan kekejaman terhadap binatang yang kita gunakan," ujar Gilat Shani, desainer dari Unreal Fur. "

Tetapi sayangnya merk-merk fashion ternama dunia masih juga menggunakan bulu binatang asli pada produknya. Menurut Mark Oaten, CEO dari International Fur Trade Federation, merk ternama seperti Fendi, Marc Jacobs, Mulberry and Gucci masih mengedepankan penggunaan bulu karena dianggap lebih memiliki gaya. Akibatnya, penjualan bulu secara global telah meningkat 70 persen dalam satu dekade terakhir. Jumlahnya mencapai Rp 15 triliun. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pintu Darurat Dibuka Penumpang, Lion Air Periksa Kru


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler