Caleg Kerap Ngutang, Selalu Mencari Barang Termurah

Kamis, 17 April 2014 – 07:51 WIB

jpnn.com - HINGAR bingar Pemilu Legislatif, ternyata tidak serta merta membuat angin segar bagi pengusaha sablon.  Diantara mereka malah terpaksa mengerutkan dahi karena ulah para calon legislatif yang tidak mambayar karena tidak lolos duduk di parlemen.

 

----------
KING HENDRO ARIFIN, Tangerang
---------
Sore hari kemarin, INDOPOS (Grup JPNN) bertandang ke work shop milik Tarmin, 40 di kawasan fly over Sudirman, Kecamatan Copondoh, Kota Tangerang. Saat itu pria asli suku Jawa ini sedang sibuk membuat plakat yang dipesan langganannya.

BACA JUGA: Yunus, Bocah Penyemir Sepatu Yang Menderita TB Kelenjar

Work shop berukuran 5 x 7 meter tersebut terlihat padat. Beragam jenis hasil sablon terpampang jelas. Mulai dari Pin, stiker, kartu nama, stempel hingga beberapa kaos. Termasuk plakat, piagam dan neon box. Barang-barang tersebut sebagian ditempatkan di etalase kaca dan sebagian lainnya tergantung.

BACA JUGA: Malam Tiba, Kaum Perempuan pun Tak Keluar Rumah

Ribuan jenis barang tersebut membuat ruangan terasa sempit. Ditambah lagi Tarmin, menempatkan satu meja kerja khusus untuk mengerjakan barang-barang pesanan konsumen yang bisa diselesaikan hitungan jam. ”Beginilah tempatnya. Padat, sempit dan kotor,” katanya dengan nada bergurau.   
 
INDOPOS sempat tercengang mendengar pernyataan Tarmin yang sudah memulai bisnis Sablon sejak 10 tahun silam. Baginya, pesta demokrasi Pemilu Legislatif atau Pilpres tidak serta merta memberikan keuntungan bagi pengusaha sepertinya. Malah terkadang pengusaha menjadi bunting (istilah yang digunakannya menjelaskan kata merugi, red).

”Tidak terlalu tertarik juga kalau ada Caleg mesan barang-barang. Kalau mau langsung cash sih saya kerjain,” ujarnya sembri mengerjakan plakat yang terbuat dari plastik putih persegi.

BACA JUGA: Si Pembuat Bom Banting Setir Jadi Penyiar Radio

Alasan yang dikatakan Tarmin membuat jantung bedetak kencang. Bagaimana tidak, beberapa kali pengalamannya menyelesaikan pesanan Caleg. Seperti, kartu nama, Pin, stiker dan kaos lebih kepada kondisi merugi. Para caleg terangnya lebih banyak mengumbar janji untuk membayar. Namun pada kenyataannya, Caleg memilih tidak  menyelesaikan kewajibannya membayar seluruh pelunasan atas barang yang dipesan.

Kondisi ini selalu dilakukan para Caleg yang nyatanya kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi di parlemen. ”Banyak yang ngutang mas. Malas ngerjainnya. Apalagi, sablon sistem kami lebih mahal biaya produksinya dibanding Sablon menggunakan sistem cetak print,” ujarnya.

Disebutnya, untuk harga jual Pin saja, dirinya biasa menjual Rp400 rupiah per buah dengan pesanan minimal 1.000 Pin. Harga ini sendiri apabila dibandingkan dengan pengusaha yang sudah menggunakan digital printing jauh lebih mahal.

”Caleg itu selalu nyari harga yang lebih murah. Kalaupun ke tempat Sablon seperti kami yang masih manual, mereka pasti meminta untuk dberikan kelonggaran membayar. Kadang kalau Calegnya tidak jujur, hutangnya tidak dibayar,” paparnya.
 
Dalam masa kampanye Pileg yang baru saja selesai, Tarmin mengaku hanya menerima orderan dari salah satu Caleg yang memesan kartu nama bergambar foto Caleg , lambing partai dan surat suara milik Caleg. Orderan ini pun diterimanya karena caleg yang bersangkutan bersedia membayar tunai.

”Lebih seneng nunggu pesanan dari Pemda atau sekolah maupun perusahaan. Jarang tidak bayar meskipun pembayaran dilakukan berjangka,” ujarnya.

Senada, Budi Setiawan, pemilik Sablon di kawasn Dasana Indah Kelurahan Bojong Nangka Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang mengaku tidak terlalu tergiur dengan pesanan Caleg untuk menyediakan kaos partai. Menurutnya, para Caleg yang berduit biasanya langsung memesan kaos sablon ke kawasan Bandung atau Jakarta. Alasannya sepengetahuan Budi karena harga di Bandung maupun Jakarta jauh lebih murah apabila memesan dengan partai besar.

Budi sendiri mengaku mematok harga untuk satu kaos partai dengan bahan katun Rp30 sampai Rp35 ribu. Harga disesuaikan dengan jumlah warna yang harus disablon di kaos. Termasuk disesuaikan dengan kualitas bahan yang diminta.  

”Saya juga lebih memilih Caleg yang langsung mau bayar. Pengalaman yang sudah-sudah kalau ternyata Calegnya kalah, tidak mau bayar. Malah saya pernah dimarahin sama Caleg yang kalah karena menagih utang Sablon,” tutupnya.(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KPK Sita 74 Mobil dan 100 Properti


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler