Capaian Inseminasi Buatan Sudah di Atas 92% dari Target

Rabu, 13 Desember 2017 – 12:21 WIB
Pertemuan Evaluasi Upsus Siwab Nasional Tahun 2017 tanggal 10-11 Desember 2017 di Surabay, Jawa Timur. Foto: Kementan

jpnn.com, SURABAYA - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyatakan, capaian inseminasi buatan (IB) nasional berdasar data kumulatif hingga 8 Desember 2017 adalah sebanyak 3.690.721 ekor atau 92,27 persen dari target 4 juta ekor. Hal tersebut disampaikan saat Pertemuan Evaluasi Upsus Siwab Nasional Tahun 2017 tanggal 10-11 Desember 2017 di Surabay, Jawa Timur, Senin (11/12).

Tujuan pertemuan yang dihadiri oleh para kepala dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan seluruh Indonesia dan kepala unit pelaksana teknis (UPT) serta direktur lingkup Ditjen PKH itu untuk mengetahui hasil capaian pelaksanaan Upaya Khusus sapi Indukan wajib Bunting (Upsus Siwab) 2017.

BACA JUGA: Kementan Dukung Pemberantasan Rasuah di Sektor Pergulaan

Dalam pertemuan tersebut Diarmita mengatakan, kegiatan UPSUS SIWAB menjadi fokus utama jajaran Ditjen PKH tahun 2017 dan akan dilanjutkan pada tahun 2018. Menurutnya, Upsus Siwab merupakan langkah nyata pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri. 

“Dari laporan iSKHNAS (sistem informasi kesehatan hewan nasional, red) per 8 Desember 2017,  jumlah kebuntingan nasional mencapai 1.624.614 ekor atau 54,13 persen dari target tiga juta ekor, serta jumlah kelahiran sebanyak 706.314 ekor,” kata I Ketut Diarmita. “Capaian masih terus kita evaluasi sampai tahun 2018, mengingat tanda-tanda kebuntingan baru bisa dideteksi setelah beberapa bulan setelah sapi di IB,” ungkapnya. 

BACA JUGA: Kementan: Capaian Upaya Khusus SIWAB 92,27 Persen

Lebih lanjut Diarmita mengatakan, ada beberapa kegiatan untuk mendukung Upsus Siwab. Pertama adalah penanganan gangguan reproduksi tahun 2017 yang menjangkau 288.345  ekor sapi dan sebanyak 281.117 ekor dilakukan penanganan gangguan reproduksi. 

“Hal ini artinya untuk penanganan gangguan reproduksi tercapai 93,7 persen dari yang targetkan sebanyak 300.000 ekor, sedangkan untuk kesembuhannya terealisasi sebanyak 149.615 ekor atau 53 persen dari target 200.000 ekor.

BACA JUGA: Pejabat Sekretariat Diminta Tingkatkan Pengawasan Kerja

Menurut Diarmita, gangguan reproduksi pada akseptor merupakan salah satu penyebab kegagalan kebuntingan. Untuk itu, upaya penanganan gangguan reproduksi secara terus-menerus dilakukan dan menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan guna mendukung keberhasilan UPSUS SIWAB.

Kedua, untuk mempertahankan struktur betina dewasa dan angka betina produktif sebagai akseptor yang akan di IB, maka telah dilaksanakan pencegahan pemotongan betina produktif di 17 Provinsi.  “Sampai dengan akhir November 2017 telah diselamatkan atau ditolak pemotongannya sebanyak 6.974 ekor,” ungkapnya. “Implementasi penanggulangan pemotongan betina produktif tersebut bekerja sama dengan BAHARKAM POLRI”, ujarnya.

Ketiga untuk menjamin aktivitas pelayanan dalam pelaksanaan Upsus Siwab, Ditjen PKH menargetkan produksi semen beku pada tahun 2018 sebanyak enam juta yang dihitung berdasarkan services per conception (SC) 2 yang akan disebar ke seluruh peternak di Indonesia. Ketersediaan dan produksi semen beku di balai inseminasi buatan pemerintah, yaitu, BBIB Singosari, BIB Lembang dan BIBD Kalimantan Selatan  sebanyak 9.040.003 dosis, sedangkan jumlah semen beku yang sudah didistribusikan pada tahun ini sebanyak 5.995.075 dosis ke peternak seluruh Indonesia.

Keempat, Ditjen PKH bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dalam proses distribusi N2 cair dan semen beku dengan menggunakan pesawat ATR Garuda pada 44 rute penerbangan. “Kita lakukan kerja sama ini untuk mengatasi kendala akan sulitnya mendapatkan N2 cair di lapangan,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan sarana tersebut di lapangan merupakan faktor yang sangat penting dalam menyukseskan UPSUS SIWAB.

Kelima, untuk penguatan pakan telah dilakukan pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) yang terealisasi seluas 5.925 hektare atau 62,45 persen dari target 9.487 hektare. Sedangkan pakan konsentrat terealisasi 2.747 ton atau 92,65 persen dari target 2.965 ton.

Diarmita mengungkapkan, saat ini merupakan tahun pertama pelaksanaan UPSUS SIWAB. Sehingga, kendala dan permasalahan yang terjadi pada tahun ini terus dicarikan solusinya agar pelaksanaan pada 2018 dapat berjalan lebih baik.

“Untuk kelancaran pelaksanaan tahun 2018 kami mengajak kepada seluruh pihak untuk all out bersama-sama mewujudkan target yang telah kita tetapkan,” imbaunya.

Selain itu dia juga mengharapkan pedoman pelaksanaan UPSUS SIWAB Tahun 2018 agar disempurnakan dengan berkaca pada pelaksanaan tahun 2017. ”Kita semua tentunya berharap UPSUS SIWAB ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mewujudkan target pembangunan peternakan,” katanya.

Karena itu Diarmita juga mengharapkan Upsus Siwab bisa mempercepat peningkatan populasi sapi dan kerbau dapat terwujud sesuai dengan yang ditargetkan Presiden Joko Widodo. “Demi mewujudkan Swasembada Daging Sapi di tahun 2026,” ucapnya menambahkan.(eno/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jelang Natal dan Tahun Baru, Stok Pangan di NTT Dijamin Aman


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler