Catatan BMKG, Telah Terjadi 8 Kali Gempa yang Sangat Merusak di Selat Sunda

Jumat, 14 Januari 2022 – 22:36 WIB
Konferensi pers BMKG perihal gempa bumi berkekuatan 6,6 M di wilayah Banten pada Jumat (14/1/2022). (ANTARA/Asep Firmansyah/Youtube-Info BMKG)

jpnn.com, JAKARTA - Catatan sejarah memperlihatkan telah terjadi delapan kali gempa berkekuatan besar yang merusak sekitar Selat Sunda, Banten.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, gempa terjadi mulai periode 1851 hingga Agustus 2019, sebelum gempa 6,6 M mengguncang pada Jumat (14/1).

BACA JUGA: Cuaca Besok, BMKG Minta Warga di Sejumlah Kota Besar Indonesia Wajib Waspada

"Perlu kami sampaikan berdasarkan catatan sejarah kegempaan, sejak 1851 hingga 2019, telah terjadi beberapa kali gempa bumi di wilayah tersebut," ujar Dwikorita dalam konferensi pers yang diikuti dari Jakarta, Jumat.

Dia memerinci gempa kuat di sekitar Teluk Betung dan Selat Sunda menyebabkan gelombang tsunami setinggi 1,5 meter pada Mei 1851.

BACA JUGA: BMKG: Gempa Susulan Terjadi Lima Kali

Namun, tidak ada laporan berapa kekuatannya.

Kemudian, gempa yang juga tidak diketahui kekuatannya menyebabkan tsunami kecil pada 9 Januari 1852.

BACA JUGA: Oknum Pejabat Polrestabes Medan Diduga Terima Suap Bandar Narkoba, Edi Minta ini ke Kapolri

Tsunami di atas 30 meter akibat letusan Gunung Krakatau terjadi pada 27 Agustus 1883.

Lalu, gempa magnitudo 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda dan menyebabkan kerusakan di Banten pada 23 Februari 1903.

Terjadi terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pasca gempa kuat, pada 26 Maret 1928.

Namun, tidak diketahui berapa kekuatan getarannya.

Terjadi gempa kuat di Selat Sunda diiringi dengan kenaikan permukaan air laut atau tsunami pada 22 April 1958.

Terjadi longsoran akibat letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami pada 22 Desember 2018.

Kemudian, terjadi gempa magnitudo 7,4 yang merusak di Banten dan terjadi tsunami pada 2 Agustus 2019.

Mengingat wilayah sekitar Banten atau Selat Sunda kerap terjadi gempa dengan kekuatan merusak, Dwikorita meminta bangunan menggunakan konstruksi tahan gempa bumi.

Hal ini untuk menghindari risiko kerusakan.

"Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi," katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan Indonesia merupakan wilayah pertemuan lempeng sehingga rawan terjadi gempa.

Menurut dia, sudah semestinya masyarakat membangun hunian yang tahan gempa.

Masyarakat juga diminta untuk mengecek kondisi bangunannya dan jika menemukan kerusakan dan berpotensi rusak, untuk mengungsi untuk sementara.

"Gempa bumi ini tidak membunuh, tetapi yang membunuh itu dampaknya dari bangunan yang kurang kuat dan sebagainya, ini sangat membahayakan. Jadi, tolong diperhatikan dengan baik-baik," kata Setiyo.(Antara/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler