Cegah Gulung Tikar, LLP-KUKM Giat Latih Pebisnis Pemula

Jumat, 24 Maret 2017 – 19:29 WIB
Dirut LLP-KUKM Ahmad Zabadi (kiri) menunjukan sepatu buatan UKM binaan di Galeri Indonesia WOW, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Foto: source for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Star-up atau pebisnis pemula kian bermunculan. Namun, saat memulai bisnis mereka selalu terbentur oleh persaingan, sehingga akhirnya gulung tikar.

Karena itu, Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM) Kemenkop dan UKM menggandeng star-up dengan menggelar Wonderful Start-Up Academy (WSA) di Gedung SMESCO RumahKU (Rumahnya koperasi dan UKM) Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

BACA JUGA: Kemenkop Bubarkan Ribuan Koperasi di Lampung

Dalam program WSA tersebut, para pebisnis yang baru memulai usahanya dilatih mengelola bisnis. Contohnya, dari mulai membuka usaha, mengelola bisnis, merancang kemasan, hingga memasarkan produk agar bisa bersaing di pasaran.

’’Program WSA sudah diluncurkan sejak Januari lalu. Kini, sudah masuk sesi ke-18,’’ ujar Direktur Utama LLP-KUKM Ahmad Zabadi.

BACA JUGA: Kemenkop Beri Ruang ke Desainar Pemula Pamerkan Karya

Zabadi mengatakan, program WSA itu diikuti sekitar 60 start-up yang terpilih dan diikutsertakan dalam program mentoring. Di setiap sesi, para start-up mendapatkan pelatihan dari narasumber yang kompeten.

’’Sejak awal kami menghadirkan para mentor terbaik. Pada sesi awal kita menghadirkan Wisnu Dewobroto (head of Trisakti University Business Incubator) dan Johanes Adi Purnama Putra (manager Incubator Management Telkom),’’ ujarnya.

BACA JUGA: Produk UKM Binaan LLP-KUKM Tembus Pasar Korea

Zabadi menambahkan, pada sesi pertengahan, LLP-KUKM menghadirkan Hermawan Kartajaya (President of ICSB Indonesia, President of Asian Council for Small Business, Founder and Chairman Markplus, Inc. & IC-SME Foundation) dan Ahman Sya (Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata).

’’Semangat para star-up memang sangat besar. Kami pun membantu mengemas bagaimana strategi memasarkan produk agar bisa bersaing dan menembus pasar domestik. Salah satunya lewat program WSA,’’ ujar Zabadi.

Program WSA diharapkan menjadi terobosan baru untuk membimbing para star-up agar menghadirkan produk terbaik yang bisa dipasarkan dan dipromosikan lebih meluas lagi.

Sementara itu, dalam sesi kelas mentoring, Hermawan Kartajaya mengangkat materi Small Business Framework, Asia to The World. Hermawan membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai President of Asian Council for Small Business (ACSB).

’’Saat itu membuat saya mempunyai kesempatan mengetahui kenapa start-up bisa berhasil dan bisa gagal. Di situ saya melihat bahwa start-up itu sama dengan entrepreneurship,’’ ujarnya.

Agar menjadi sukses, kata dia, start-up harus memiliki 3 pedoman. Yakni, entrepreneurship opportunity, berani mengambil risiko, dan kolaborasi. Namun, kebanyakan orang membuat start-up, tetapi tidak mengetahui arti entrepreneurship.

’’Selain tiga hal tersebut, start-up juga harus kreatif dalam menghadapi kompetitor. Banyak start-up membuat sesuatu yang sama, sehingga tidak ada kreativitas,’’ tambahnya.

Karena itu, branding sebuah start-up harus dibentuk dan dibuat secara efektif, efisien, dan produktif. Start-up pun harus tahu market mana yang akan dimasuki, lalu tahu segmen, kompetitor, dan customer.

Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata, mengatakan bahwa ada tiga kunci untuk menjadi start-up sukses.

Yaitu, disiplin, kerja keras, dan percaya terhadap Tuhan. Menurut dia, disiplin itu bukan sesuatu yang mudah, tapi tidak mustahil untuk diterapkan oleh start-up.

’’Jangan mudah putus asa dan harus memiliki daya juang. Apalagi dilihat dari segi pariwisata, kita memiliki potensi daya tarik wisatanya yang sangat besar,’’ papar Ahman. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... UKM Mulai Menggeliat, LLP-KUKM Gandeng Pebisnis Pemula


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler