Cegah Penularan COVID-19 dengan Memahami Perilaku dan Temukan Informasi yang Tepat

Rabu, 04 November 2020 – 20:09 WIB
Ilustrasi warga mengenakan masker. Foto: Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Lembaga AC Nielsen bekerja sama United Nations Children's Fund (UNICEF) membuat survei terkait sikap masyarakat dalam praktik pencegahan Covid-19.

Survei tersebut turut menghitung pandangan publik terkait Covid-19.

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Upayakan Pemutakhiran Data

Sebanyak 69,6 persen responden di enam kota besar di Indonesia mengaitkan Covid-19 dengan aspek negatif seperti berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit.

UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri mengatakan, asosiasi negatif atas Covid-19 rupanya memiliki sisi positif, terutama dalam upaya mencegah penularan terhadap Covid-19.

BACA JUGA: Satgas Covid-19: Ingat, Virus Corona Tidak Pernah Libur

Rizky mengungkapkan itu dalam acara Dialog Produktif yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (4/11).

"Rasa takut apabila dimanfaatkan dengan benar, kemudian bisa mengarahkan ke arah perilaku yang lebih baik. Karena kalau tidak diolah dengan baik rasa takut ini hanya akan jadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku," ujar dia.

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Catat 3 Juta Orang Berkeliaran Selama Libur Panjang

Kemudian dalam survei yang sama, sebanyak 31,5 persen responden mengaku menerapkan 3M yakni mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker secara disiplin.

Sebanyak 36 persen dari total jumlah responden, melakukan dua dari perilaku 3M.

Sementara itu 23,2 persen melakukan satu dari perilaku 3M. Hanya 9,3 persen dari responden yang tidak melakukan kepatuhan terhadap 3M sama sekali.

“Apabila dianalisa secara individual, menjaga perilaku jaga jarak (47 persen) lebih rendah daripada memakai masker (71 persen) dan mencuci tangan (72 persen). Khusus untuk jaga jarak, ternyata didapatkan adanya aspek norma sosial yang berperan di sini seperti, merasa tidak enak menjauh dari orang lain, orang lain yang mendekat ke saya, atau berpikir bahwa semua orang juga tidak menjaga jarak,” terang Risang Rimbatmaja, Konsultan UNICEF.

Selanjutnya, kata Risang, terdapat konsep kesalahan persepsi di masyarakat terkait penularan Covid-19.

Tidak sedikit masyarakat menganggap orang sehat tidak bisa menularkan penyakit.

Hal itu, menurut Risang, menjadi faktor rendahnya penerapan perilaku menjaga jarak di kalangan masyarakat.

“Yang tidak kalah menonjol adalah salah persepsi, saya sehat atau orang lain sehat kenapa harus jaga jarak? Kelihatannya konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) masih belum betul-betul berada di benak masyarakat,” jelas Risang.

Sementara itu, Rizky menambahkan, seharusnya masyarakat luas perlu lebih mengetahui konsep OTG. Sebab, tanpa pengetahuan cukup atas itu membuat masyarakat tidak perlu menjaga jarak.

Menurut Rizky, ketika masyarakat mengetahui lebih jauh lagi soal cara penularan Covid-19, diyakini bahwa masyarakat akan melakukan pencegahan lebih disiplin lagi.

“Tentunya makin baik pengetahuannya makin berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan COVID-19 yang lebih baik dan disiplin," ujar Rizky.

Masih dalam survei yang sama, sebesar 71 persen responden berpikir bahwa penularan Covid-19 hanya melalui orang yang batuk dan bersin.

Hanya 23 sampai 25 persen responden yang menyebutkan penularan Covid-19 melalui berbicara dan bernapas.

Temuan ini menjelaskan, mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama lawan bicara tidak batuk atau bersin.

Lebih lanjut, kata Risky, mengedukasi masyarakat akan pentingnya perubahan perilaku menjadi penting.

Temuan riset menunjukkan, televisi adalah sumber informasi yang paling dipercayai masyarakat mengenai Covid-19, kemudian diikuti oleh koran, radio, media sosial, grup Whatsapp, pemberitaan media online, dan situs internet.

“Jadi kalau untuk perubahan perilaku, cari tahu yang terpercaya. Karena kalau terpercaya, asumsinya masyarakat akan mau melakukan perubahan yang disampaikan," tutur Rizky. (ast/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler