Cendekiawan NU Sebut Para Pemecah Belah Telah Memelintir Makna Ketuhanan yang Berkebudayaan

Rabu, 08 Juli 2020 – 15:47 WIB
Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Zuhairi Misrawi alias Gus Mis. Foto: dok pribadi.

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Zuhairi Misrawi menilai ada pihak-pihak yang sengaja memelintir makna ketuhanan yang berkebudayaan.

Pria yang akrab disapa Gus Mis itu menyayangkan pihak-pihak itu menuduh konsep tersebut dengan menudingnya sebagai upaya menghapus sila Ketuhanan Yang Maha Esa di Pancasila.

BACA JUGA: Cendikiawan NU Dukung Kementan Kembangkan Antivirus Eucalyptus

"Mereka ingin mengaburkan pemikiran dan jasa Bung Karno dalam menggali Pancasila. Padahal Bung Karno dalam Pidato Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan pentingnya Ketuhanan Yang Maha Esa," kata cendikiawan NU itu dalam keterangan yang diterima, Rabu (8/7).

Gus Mis memandang mereka berupaya secara sistematis, masif, dan terstruktur menyebarluaskan informasi yang menyesatkan dan menebarkan fitnah terhadap khazanah pemikiran Bung Karno.

BACA JUGA: Kiai NU Jatim Nilai Kinerja Menag Fachrul Razi Kurang Maksimal

Untuk memahami ketuhanan yang berkebudayaan, dia menjelaskan bahwa Bung Karno menyatakan bahwa bangsa Indonesia bukan saja bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhannya sendiri.

"Yang Muslim bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih. Yang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada pada mereka, dan begitu seterusnya agama-agama yang lain. Marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia adalah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa," beber dia.

BACA JUGA: Dukung Unusia, Jazilul Fawaid: NU Ingin Membantu Pemerintah

Gus Mis menilai pernyataan Bung Karno itu hendak menegaskan bahwa Indonesia bukan negara sekuler dan tidak akan pernah menjadi negara sekuler. Karena dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, hakikatnya setiap warga bertuhan.

"Karena bertuhan, kita sejatinya mempunyai budi pekerti yang luhur, saling menghormati, saling menghargai, tidak egois, dan tidak pula fanatik. Cara bertuhan yang seperti itu, menurut Bung Karno disebut ketuhanan yang berkebudayaan," tegas dia.

Dalam konteks itu pula, lanjut dia, umat Islam harus menjadi penggerak kemajuan dengan terus membangun harmoni di antara sesama, menumbuhkan cinta Tanah Air, dan mengejar ketertinggalan dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan.

Apa yang ditunjukkan oleh NU dan Muhammadiyah dalam mendorong harmoni, memperkuat solidaritas kebangsaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan selaras dengan cita-cita dan mimpi Bung Karno.

Maka dari itu, Gus Mis menyayangkan jika belakangan ini ekspresi keagamaan di ruang publik hanya dijadikan sebagai instrumen politik yang memecah belah tali kebangsaan yang selama itu solid dan kukuh.

"Ada pihak-pihak yang secara sengaja hendak menggunakan agama sebagai alat politik yang memecah belah dengan cara menghembuskan fitnah dan provokasi yang tidak bertanggung jawab. Ini tentunya sangat disayangkan, karena sangat jauh dari esensi Ketuhanan Yang Mah Esa," pungkas pria lulusan Universitas al-Azhar, Kairo itu. (tan/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler