Ceria Sambut Baik Keinginan Presiden Jokowi soal Hilirisasi

Minggu, 05 Maret 2023 – 19:46 WIB
Ceria Nugraha Indotama menyambut baik keinginan Jokowi soal program hilirisasi. Foto (ilustrasi): cerindocorp

jpnn.com - JAKARTA - Kalangan pengusaha menyambut baik keinginan Presiden Jokowi yang pengin program hilirisasi pertambangan berlanjut meski kepala negara berganti.

Hilirisasi adalah strategi meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki negara. Hilirisasi juga berarti mengolah bahan baku menjadi barang siap pakai.

BACA JUGA: Pengusaha Sambut Baik Hilirisasi Industri Berorientasi Ekonomi Hijau

"Kami berharap pesan Presiden Jokowi kepada penerusnya itu dapat diwujudkan. Hilirisasi di pertambangan, merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, kami sangat butuh stabilitas kebijakan," kata Direktur Utama PT. Ceria Nugraha Indotama, Derian Sakmiwata.

Derian juga mengapresiasi ketegasan Presiden Jokowi yang akan memperluas hilirisasi bukan hanya di pertambangan, tetapi juga ke sektor lainnya.

BACA JUGA: Langkah Tegas Jokowi Terkait Hilirisasi Nikel Berhasil Ciptakan Daya Tambah Ekonomi

"Komitmen pemerintah melakukan hilirisasi tidak hanya di pertambangan perlu diapresiasi dan didukung oleh seluruh stakeholder, agar kekayaan bangsa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia," tutur Derian.

Dia menjelaskan, perusahaannya telah melakukan hilirisasi dan memberikan kontribusi kepada negara.

BACA JUGA: Luhut Binsar: Hilirisasi Membangun Ekosistem Industri Nasional

Ceria yang fokus di tambang nikel melaksanakan program hilirisasi dengan memanfaatkan energi terbarukan.

"Ceria sebagai salah satu perusahaan lokal Indonesia yang bergerak di sektor pertambangan khususnya nikel, telah memulai pembangunan smelter nikel di Sulawesi Tenggara," kata Derian.

Smelter yang dibangun Ceria di bawah pimpinan Derian Sakmiwata dan Cherisha Sakmiwata akan memiliki empat line dengan total produksi ditargetkan mencapai 252.000 ton ferronickel (FeNi) dengan kadar nikel 22 persen.

Smelter Ceria menggunakan teknologi terkini Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang diyakini memiliki efisiensi yang tinggi dan umur produksi yang lebih panjang.

Ceria juga akan membangun pengolahan bijih nikel dengan metode pelindian dan mengadaptasi teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dalam dua tahap. Masing-masing kapasitas setiap tahap adalah 156.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP).

"Ceria juga sedang melakukan studi kelayakan lanjutan untuk mengolah kembali produk FeNi dari smelter RKEF menjadi nickel matte dan dilajutkan menjadi nickel sulphate, sementara MHP dari pabrik HPAL akan diolah nikel sulphate dan cobalt sulphate," kata Derian.

Dia optimistis komitmen pemerintah terkait hilirisasi sumber daya alam bisa menjadikan iklim investasi menggeliat.

"Indonesia memiliki banyak bahan baku untuk energi hijau. Hilirisasi bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik," ujar Derian. (*/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler