Cerita Praka Nodi, Anak Petani Anggota Paspampres

Selasa, 10 Oktober 2017 – 00:05 WIB
Praka Nodi (tengah), anggota Paspamres, bersama dua rekannya bersenjata lengkap, saat kedatangan Presiden Jokowi di lokasi Embung Rawa Sari, Kaltara, Jumat (6/10). Foto: YULIANA WIDHY JANUARTIWI/ RADAR TARAKAN/JPNN.com

jpnn.com - PRAKA Nodi, anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) merupakan putra daerah Provinsi Kaltara. Dia ikut bertugas mengawal Presiden Jokowi saat berkunjung ke Provinsi Kaltara, Kamis - Jumat (5-6/10) lalu. Berikut ulasannya.

Andi Pausiah - Tanjung Selor

BACA JUGA: Jokowi: Ibu dan Bapak Sangat Beruntung

BUNYI sirine menandakan kedatangan rombongan Presiden Jokowi sudah tiba di Embung Rawa Sari, Jumat (6/10).

Ratusan warga yang berbaur tumpah ruah memadati sepanjang Jalan Rawa Sari Indah. Ada yang datang hanya mengenakan daster, pun ada pula yang membawa anak mereka yang masih kecil.

BACA JUGA: Gerindra: Sudah Serbasusah Begini Masih Mau Pilih Jokowi?

Mereka rela berdesak-desakan sejak pukul 08.00 Wita dan berpeluh karena sengatan sinar matahari kian terasa. Semua demi menyambut kedatangan Presiden Jokowi.

Arak-arakan rombongan pengawal bermotor bersenjata menjaga ketat mobil yang ditumpangi presiden.

BACA JUGA: Presiden Jokowi: Asal TNI dan Polri Solid, Selesai Semuanya

Para anggota Paspampres yang tampak gagah-gagah dan tegap, berjaga di garis batas polisi.

Siapa sangka, di antara pengawal tersebut, ternyata ada yang berasal dari putra Kaltara sendiri. Yah dia, Nodi, pria kelahiran Desa Sentaban, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Provinsi Kaltara.

"Benar saya asli kelahiran Malinau," ungkap Nodi memulai percakapannya sembari sesekali menyeka keringat yang membasahi seluruh wajahnya, usai perjalanan panjang mengawal presiden dengan kendaraan bermotor dari lokasi hotel tempat Presiden Jokowi menginap.

Kata Nodi, mengawal seorang presiden tentu bukan profesi yang mudah. Harus siap bertaruh nyawa. Karena prinsip seorang pengawal dan paspampres, harus bisa menjadi perisai untuk presiden.

Diceritakan Nodi, awal mulanya ia sama sekali tak terpikir untuk menjadi bagian dari Paspampres. Sebelum menjadi bagian pengawal kepresidenan, pendidikan awal kemiliterannya dimulai di Banjarmasin, Secata Gunung Kupang.

Setelah itu, ia lanjut masuk dan bertugas ke Batalion Raider Balikpapan, Kaltim selama 4 tahun. Hingga sampai mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seleksi menjadi anggota Paspampres.

Proses seleksi pun begitu ketat. Karena diseleksi di tiap daerah. Masing-masing taruna perwakilan daerah pun terpilih, termasuk Nodi. Tahapannya harus lolos seleksi fisik.

Kedua, lanjut Nodi, jujur, loyal dan disiplin. Itu modal kepercayaan yang harus dipegang teguh oleh seorang pengawal. Dan ketiga, seperti diungkapkan di awal percakapannya, harus berani bertaruh nyawa.

"Setelah itu kami dibawa ke Jakarta. Dilatih dan menjadi pengawal pribadi kurang lebih dua tahun setelah itu sekarang menjadi tim penyelamatan presiden dan tugasnya juga sama, tidak berbeda," urai pria kelahiran 28 Desember 1988 ini.

Dia tak menyangka bisa sampai ke istana. Rasa bangga tentu ada, terlebih karena latar belakang dirinya yang berasal dari seorang anak petani. Namun itu tak membuatnya sombong.

Sesuai prinsip seorang prajurit TNI, harus siap ditempatkan di mana saja termasuk mengamankan presiden.

Dari ratusan anggota Paspamres, ia menjadi salah seorang yang ditunjuk bertugas mengawali Presiden Jokowi ke Kaltara.

Itu pertama kalinya dia mengawal orang nomor satu di Indonesia ini ke Kaltara, setelah sekian lama meninggalkan kampung halamannya, Desa Sentaban yang berlokasi jauh di hulu sungai Malinau.

"Yang kedua kalinya saya kemarin kawal bapak ke Kaltim. Kalau ke Kaltara ini yang pertama," ujar pria yang mengaku terakhir kali kembali ke kampung halaman yakni sejak 2006 lalu.

Nodi baru menikah 2016 lalu. Jauh dari keluarga, salah satu risiko dari seorang prajurit TNI.

"Istri di Kutai Barat, orang tua di Malinau. Dan saya tidak bisa setiap saat pulang karena tugas. Harus dijalani dan alhamdulillah istri mendukung," ujar suami dari Desi ini.

Suka dan duka sebagai prajutit mau tak mau harus dihadapi dan dilalui. Dari kurang tidur, dan tetap harus stand by menanti perintah atasan ke manapun presiden akan berkunjung, itu sudah menjadi risiko.

Kiatnya, pengawal harus selalu sehat, rajin berolah raga. Karena harus siap berjaga dua kali 24 jam. Meski demikian, tetap diberlakukan sistem shift.

Di lapangan, berdasarkan pengalamannya, sampai saat ini tak pernah menemui kendala. Menghadapi kerumunan warga yang ingin mendekat ke presiden, sudah hal yang biasa.

"Alhamdulillah tidak sampai berlebihan perlakuan mereka ke presiden karena warga pun mengerti," ujar pria berdarah asli Dayak Saben ini.

Pengalaman lain yang mengesankan ke saat pelosok dan ke wilayah perbatasan. Melelahkan sudah pasti. Namun, bagi prajurit TNI itu hal biasa karena sudah kerap dijalani.

Terlebih dirinya lahir dari desa terpencil. "Tantangannya naik perahu dan ketemu giram itu sering kami lalui ke pelosok Kalimantan. Intinya harus sehat," urainya.

"Kami harus siap dengan konsekuensinya. Termasuk harus tetap waspada meski sudah disterilkan lokasi sebelum kedatangan presiden. Jika ada kejadian tak terduga dan dianggap membahayakan, utamakan amankan objek VVIP terlebih dahulu," tegasnya.

Dia mengatakan, dukungan dan doa kedua orang tuanyalah yang membawa dirinya sampai bisa seperti saat ini. Ia bahkan mengakui sejak 2006 lalu meninggalkan tanah kelahiran, baru dua kali pulang kampung.

"Kalau sekarang meski sedang ke Kaltara tapi tidak bisa ke Malinau. Jauh, empatjam waktunya ke sana. Dan harus terbang lagi besok mengawal bapak. Yah, tunggu waktu cuti saja," pungkas anak pertama dari tiga bersaudara ini. (***/nri)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Internal PPP Ingin Jenderal Gatot Dampingi Jokowi di Pilpres


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler