Cerita Romeo dan Julia di Pemakaman Ibunda Bupati Tana Toraja

Rabu, 07 Januari 2015 – 04:46 WIB
Ma 'peliang. Prosesi dan Suasana pemakaman almarhum Puang Dina Lona Londongallo ibunda bupati Tana Toraja yang diletakkan pada sakahsatu liang batu sebagai kuburannya di Suaya Kaero Sangalla pekan lalu. Foto Fajar Online/JPNN.com

jpnn.com - Puang Dina Lona Londongallo, ibunda Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung dimakamkan di Lembang, Kecamatan Sanggalla, Kabupaten Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan, Sabtu (3/1) lalu. Menariknya, prosesi ritual pemakaman ini menghadirkan cerita Romeo dan Julia, sebuah roman percintaan karya Shakespeare yang melegenda.

Jenazah Puang Dina Lona Londongallo kembali diletakkan satu tempat di pelataran abadi dalam satu kuburan batu berbentuk liang di Suaya. Menurut Theofilus, peletakan jenazah itu menunjukkan bahwa orang tuanya adalah pasangan yang diabadikan dengan cinta.

BACA JUGA: Yusniar Pilih Jadi Penyelam agar Bisa Tolong Korban

Prosesi ritual adat pemakaman ini dikenal dengan istilah ma peliang. Lokasinya di sebuah tebing bukit Suaya, lokasi penguburan leluhur puang Batu yang salah satu keturunannya adalah ibunda Bupati Tana Toraja.

Bagaimana kisah percintaan itu ditunjukkan? Theofilus menceritakan bahwa ayahnya almarhum WM Allorerung meninggal tahun 1983 lalu.  Jenazahnya dipindahkan dari makamnya lalu diletakkan sehari di Suaya menunggu istrinya almarhum Puang Dina Lona Londongallo yang pemakamannya melalui prosesi adat di Kokkang, Rembon yang berlangsung selama beberapa hari di penghujung Desember 2014 lalu.

BACA JUGA: Hujat Saya, Maki Saya, Jika yang Saya Lakukan Tidak Sesuai...

Kerabat Theofilus, Batara Londongallo, kepada Fajar online (Grup JPNN.com) mengatakan kalau penguburan tersebut bak cerita Romeo dan Julia. Itu dilakukan karena anak-anaknya (Theofilus bersaudara) yang jumlan 13 orang merasakan cinta, sayang dan kasih dari orang tuanya.

Mereka  juga menyaksikan bagaimana kedua orangnya yang begitu mereka hormati dan harga memperlihatkan cinta yang abadi. ”Jadinya mereka bersepakat, keduanya dimakamkan dalam satu liang atau kuburan batu, satu tanda dan contoh bagaimana cinta yang abadi ditunjukkan, ” katanya.

BACA JUGA: Tak Mau Kecewakan Keluarga Korban, Buat 162 Peti dalam 24 Jam

Liang dimana menjadi kuburan ‘cinta' pasangan orang tua Theofilus ini di lokasi kawasan objek wisata Suaya, sebuah tebing dengan jumlah liang batu sebanyak 7 buah. Liang itu adalah liang daripada keturunan Puang Batu, bangsawan Toraja.

Theofilus sendiri mengatakan , kalau orang tuanya itu adalah teladan dan guru bagi dia dan saudaranya. Mereka berdua mampu menunjukkan bagaiman menata kehidupan untuk menjadi berkat bagi sesama. Kekagumannya itu disampaikan saat jelang penguburan ibunda. Bahkan dengan nada yang sedih ia mengenang almarhum ibunya yang menjadi sosok sentral setelah bapaknya meninggal dunia.

Almarhum puang Dina Lona Londong Allo menganbil alih peran almarhum suaminya untuk menjadi bapak dan ibu bagi semua anaknya. (fkt/awa/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lebih Baik Putus Cinta daripada Tidak Menolong Korban


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler