Gunung Agung Erupsi

Cerita Sedih dari Bandara Ngurah Rai

Selasa, 28 November 2017 – 20:12 WIB
Beberapa penumpang di Bandara Ngurah Rai tampak tertidur di emperan dengan menggunakan alas kardus. Foto: Zulfika Rahman/Radar Bali

jpnn.com, DENPASAR - Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Erupsi Gunung Agung berdampak ke penumpukan calon penumpang pesawat di Bandar Udara Ngurah Rai di Kabupaten Badung, Bali.

Sejak ditutup sekitar pukul 07.15 Wita, Senin (27/11), bandar udara paling sibuk kedua di Indonesia disesaki ribuan penumpang mulai dari terminal domestik hingga terminal internasional.

BACA JUGA: Gunung Agung Kritis, Pos Pantau Harus Dikosongkan

Petugas bandara dan juga masing-masing maskapai yang membuka gerai aduan untuk melakukan refund pun tampak sibuk melayani penumpang. Namun sebagian justru ada yang bertahan dan memilih untuk melanjutkan penerbangan hingga Selasa (28/11) ketika bandara sudah dinyatakan dibuka.

Sebagian penumpang juga tampak tertidur dengan menggunakan alas seadanya seperti kardus dan koran. Rasa cemas bercampur aduk terpancar dari wajah-wajah penumpang yang tidak bisa terbang akibat penutupan bandara.

BACA JUGA: Siklon Tropis Cempaka, AirNav Awasi Ketat Jalur Penerbangan

Salah seorang penumpang, Dediardus Sarto (25) dan tiga rekannya asal Flores tidak bisa terbang. Kondisi ini pun membuat dia dan tiga rekannya yang berangkat dari Pontianak pun pasrah dengan kondisi yang dihadapi.

“Saya dan teman berangkat dari Pontianak Minggu dini hari. Sampai jam tujuh pagi dan tidak bisa melanjutkan penerbangan pulang,” ujar pria yang bekerja sebagai buruh proyek tersebut.

BACA JUGA: PVMBG Prediksi Letusan Gunung Agung Sangat Dahsyat

Di tengah kondisi itu, sialnya uang miliknya pun habis. Sisa uang Rp 700 ribu tersebut sudah digunakan membeli tiket pesawat untuk terbang ke Flores.

Sementara sisa uang dari beberapa temannya juga mengalami kondisi sama. “Sisa uang kami bertiga itu tinggal Rp 100 ribu saja. Dan sudah dipakai makan tinggal puluhan ribu,” ucapnya.

Dengan kondisi itu, dia dan tiga temannya tersebut tidak bisa berbuat banyak, sementara kepastian dibukanya penerbangan belum diketahui.

Beruntung dia memiliki teman yang bekerja di kawasan Denpasar. “Kemungkinan nanti saya numpang makan sama teman saya. Maunya saya refund tiket, nantinya saya pakai beli tiket kapal laut,” tuturnya.

Lain halnya yang dirasakan Sabina Sangu (42), perempuan asal Bajawa Flores ini sangat terpukul dengan situasi yang terjadi. Sabina yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada Minggu malam ini juga tertahan saat melakukan transit di Bandara Ngurah Rai.

Perasaan sedih bercampur aduk yang dirasakan lantaran tidak bisa menghadiri pemakaman saudaranya sendiri. “Akan dimakamkan hari ini (Senin) sore. Padahal tinggal saya saja yang ditunggu oleh keluarga,” ucapnya sedih.

Mirisnya, dia dengan almarhum kakaknya tersebut cukup lama tidak bertemu lantaran harus memutuskan merantau sebagai pengasuh di ibu kota. “Ada sekitar tiga tahun saya tidak pulang. Ini baru pulang karena saudara meninggal. Tapi mau bagaimana lagi karena situasinya seperti ini,” imbuhnya.

Sejak dinyatakan tutup, aktivitas penerbangan dari beberapa maskapai yang biasanya berlalu lalang mengantar penumpang pun tidak tampak lagi. (zulfika rahman/rb/zul/mus/jpr)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Garuda Mulai Terbangkan Penumpang Dari dan Menuju Lombok


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler