CIA Ungkap Peran Adik Pangeran MBS di Pembunuhan Khashoggi

Minggu, 18 November 2018 – 12:26 WIB
Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat Khalid bin Salman. Foto: Reuters

jpnn.com, NEW YORK - Pangeran Khalid bin Salman berang. Dia tak terima dituding terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu terkait dengan berita yang diunggah The Washington Post Jumat (16/11). Sumber yang dikutip harian tersebut menyatakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat (AS), yakni Central Intelligence Agency (CIA), menyimpulkan bahwa Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) adalah dalang di balik pembunuhan Khashoggi.

Lembaga yang berpusat di Virginia itu tak sembarangan menarik kesimpulan. Mereka telah mempelajari beberapa sumber intelijen. "Termasuk sambungan telepon antara Pangeran Khalid dan Khashoggi," ujar sumber itu.

BACA JUGA: Amerika Serikat Jatuhkan Sanksi kepada Pembunuh Khashoggi

Khalid adalah adik MBS. Dia juga duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS). Saat itu Khalid disebut menyarankan kepada Khashoggi untuk mengambil dokumen di Konsulat Saudi yang berada di Istanbul, Turki.

Khashoggi membutuhkan dokumen keterangan cerai dari istri pertamanya agar bisa menikahi tunangannya, Hatice Cengiz. Khalid memberikan jaminan bahwa pengambilan dokumen itu bakal aman.

BACA JUGA: Warga Saudi Salat Gaib untuk Khashoggi

Tidak diketahui dengan pasti apakah Khalid tahu bahwa Khashoggi akan dibunuh di Istanbul. Yang jelas, dia melakukan panggilan itu atas arahan saudaranya, MBS. Sambungan telepon tersebut telah disadap intelijen AS.

"Saya tak pernah berbicara dengannya (Khashoggi) lewat telepon dan tentu saja tak pernah menyarankan dia pergi ke Turki untuk alasan apa pun," tulis Khalid Sabtu (17/11) di akun Twitter-nya seperti dikutip Arab News.

BACA JUGA: Saudi Tegaskan Pangeran MBS Tak Terlibat Pembunuhan Khasoggi

Dia meminta pemerintah AS mengungkapkan bukti-bukti dan informasi terkait klaim yang diunggah media AS tersebut. Khalid menegaskan pernah memaparkan kepada The Post (sebutan untuk The Washington Post) bahwa dirinya kali terakhir berhubungan dengan Khashoggi pada 26 Oktober 2017. Itu pun via pesan teks, bukan telepon. "Ini adalah tudingan serius dan seharusnya tidak boleh hanya ditulis dari sumber anonim," tegasnya.

CIA tidak menyimpulkan berdasar panggilan telepon itu saja. Bukti lainnya adalah rekaman di Konsulat Saudi di Istanbul pada detik-detik kematian Khashoggi. Direktur CIA Gina Haspel telah mendengarkan rekaman tersebut. Dari rekaman itu diketahui bahwa Khashoggi dibunuh sesaat setelah masuk ke gedung konsulat.

CIA juga meneliti panggilan telepon di dalam gedung konsulat pasca pembunuhan. Saat itu Maher Mutreb menelepon Saud Al Qahtani. Mutreb adalah petugas keamanan yang kerap tampak di sisi MBS. Lalu, Qahtani adalah penasihat sekaligus tangan kanan sang putra mahkota. Mutreb meminta Qahtani mengatakan ke tuannya bahwa perintah telah dijalankan.

Terkait laporan The Post itu, CIA menolak berkomentar. Demikian juga Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump selama ini memang menghindari menuduh MBS terlibat. (sha/c10/oni)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Saudi Akhirnya Ungkap Nasib Jenazah Khashoggi, Mengerikan


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler