Cinta & Dudung

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Rabu, 29 September 2021 – 20:14 WIB
Cinta Laura. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Cinta Laura Khiel, lebih kondang disebut Cinta Laura.

Kalau publik ditanya apa yang mereka tahu mengenai artis blasteran itu, pasti akan menjawab aksennya yang unik, karena suka berbicara cadel dengan bahasa gado-gado Inggris dan Indonesia.

BACA JUGA: Berpidato Soal Ini, Cinta Laura Menuai Pujian

Wajah indo dan bicara cadel campuran dua bahasa menjadi trade-mark Cinta Laura. Dengan dua modal itu dia menjadi salah satu selebritas yang cukup dikenal di Indonesia. Dua modal itu, tampang indo dan bahasa Inggris, memang gampang sekali memukau publik penggemar budaya pop.

Tidak banyak karya Cinta Laura. Tak ada yang benar-benar menjadi top hit.

BACA JUGA: Begini Klarifikasi Lengkap Letjen Dudung Soal Semua Agama Benar di Mata Tuhan

Salah satu lagu terbarunya adalah ‘’Guardian Angel’’. Beberapa waktu belakangan ini ia dikabarkan menjajal peruntungan berkarir di Hollywood. Salah satu film terbaru yang dibintangi adalah ‘’Target’’.

Aksennya yang cadel menjadi bahan tertawaan dan bahan bully-an oleh banyak orang. Banyak yang mencibir gaya cadel itu. Banyak pula yang suka. Buktinya, sampai sekarang, di usianya yang 28 tahun, Cinta masih cukup dikenal.

BACA JUGA: Juru Bicara Presiden Puji Cinta Laura, Keren

Ia mengaku trauma karena banyak dirundung soal aksennya itu. Namun, karena dia sudah terbiasa hidup di Barat, dia mengaku tidak ambil pusing dengan ulah para haters itu.

Dia mengatakan akan menjawab rundungan itu dengan tetap berkarya untuk membuktikan bahwa dia punya kemampuan. Bagi Cinta, para haters itu justru membuat namanya makin dikenal ‘’Haters make me famous,’’ mungkin begitu pikirnya.

Gaya cadel Cinta banyak dijadikan bahan parodi yang beredar di aplikasi TikTok. Kalau dikumpulkan jumlahnya bisa belasan. Salah satu yang paling banyak beredar adalah parodi Cinta yang sedang diwawancarai oleh seorang reporter infotainment.

Dalam versi asli, Cinta mengatakan bahwa orang banyak yang salah sangka terhadap dirinya. Banyak orang mengira dia hanya jual tampang bule dan aksen Inggris. ‘’They think that I’m a kind of a bimbo…’’ katanya dengan aksen Inggris Amerika yang kental.

Cinta melanjutkan 'Sebelum saya masuk universitas, orang-orang tidak tahu bahwa saya….smart’’. ungkapan ‘’smart’’ sengaja diberi jeda dan diberi penekanan khas oleh Cinta.

Kalimat-kalimat itulah yang dijadikan bahan parodi dengan berbagai ekspresi yang lucu oleh netizen.

Berbagai parodi itu bertebaran di kanal YouTube dan aplikasi TikTok, dan rata-rata ditonton puluhan ribu orang. Rupanya para youtuber itu memanfaatkan gaya khas Cinta untuk pansos (panjat sosial), dan hasilnya lumayan. Cinta mengaku sangat sedih oleh ulah para youtuber itu.

Beberapa hari ini Cinta viral lagi, karena unggahannya di Instagram banyak ditonton orang dan banyak dibagikan di berbagai grup pertemanan WhatsApp. Kali ini Cinta tidak sedang diwawancarai oleh reporter infotainment. Kali ini Cinta tampil serius di acara penting di depan sejumlah menteri dan pejabat negara.

Cinta menjadi pembicara tunggal dalam launching program ‘’Moderasi Beragama’’ yang diadakan oleh Departemen Agama (22/9). Ada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim di acara itu.

Dalam video berdurasi sembilan menit 48 detik itu Cinta tidak bicara soal karier atau soal film terbarunya. Beda dari trade-marknya selama ini, kali ini Cinta berbicara mengenai toleransi beragama, moderasi beragama, keberagaman, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak ada ungkapan-ungkapan cadel yang biasa dipamerkan di berbagai acara infotainment. Cinta berusaha berbicara dengan bahasa Indonesia yang benar, dan ternyata bisa, meskipun itu dilakukannya dengan membaca teks.

Beberapa ungkapan bahasa Inggris, tentu masih muncul dari Cinta. Ketika mengutip filosof Prancis Rene Descartes, Cinta memakai bahasa Inggris. ‘’Man is finite and god is infinite,’’ kata Cinta menirukan Descartes.

Apakah Cinta tahu dan paham mengenai Descartes? Mungkin saja. Atau setidaknya begitu menurut pengakuannya. Di awal pidato Cinta bercerita bahwa dia berkuliah di jurusan psikologi dan sastra Jerman dan juga belajar filsafat. Karena itu mungkin dia pernah membaca Descartes.

Descartes adalah filsuf yang banyak dikenal karena ungkapannya ‘’Cogito ergo sum’’. Ungakapan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris ‘’I think therefore I am’’, atau ‘’You are what you think’’. Dalam bahasa Indonesia, ‘’Saya berpikir karena itu saya ada’’. Eksistensi manusia ditentukan oleh pikirannya. Kira-kira begitu inti pemikiran Descartes.

Ungkapan Descartes ini banyak dipelesetkan menjadi ungkapan yang lucu. Banyak iklan produk yang memakai ungkapan itu sebagai bahan promosi. Produk garmen akan membuat ungkapan ‘’You are what you wear’’ (eksistensimu tergantung pakaianmu).

Produk otomotif membuat promosi ‘’You are what you drive’’ (eksistensimu tergantung mobilmu). Produk kuliner membuat materi promo ‘’You are what you eat’’ (eksistensimu tergantung apa yang kamu makan).

Kalau dipelesetkan untuk promosi Cinta Laura mungkin akan menjadi ‘’You are what you speak’’, eksistensimu tergantung aksenmu. Karena itu Cinta kemudian menjadikan aksennya menjadi modal untuk membangun eksistensi dan ketenaran.

Namun, Cinta bukan sedang berpromosi. Dia bicara serius mengenai pluralisme agama. Banyak netizen yang mengaku terkesan.

Menteri Yaqut termasuk salah satu di antaranya. Dalam unggahan di medsos Yaqut mengaku terharu, dan bahkan sampai mau menangis. ‘’Namun, malu sama istri,’’ kata Menteri Yaqut.

Dalam pidatonya Cinta mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas (finite), dan Tuhan bersifat tidak terbatas (infinite). Karena keterbatasan itu, manusia tidak mungkin bisa memahami Tuhan yang tidak terbatas.

Namun, kata Cinta, sekarang justru banyak manusia-manusia yang merasa paling tahu soal Tuhan. Manusia merasa paling dekat dan paling benar dalam memahami keinginan Tuhan. Karena itu kemudian muncul cara beragama yang radikal.

"Orang-orang terjebak dalam cara berpikir di mana mereka memanusiakan Tuhan. Mereka merasa memiliki hak mendikte kemauan Tuhan, tahu pemikiran Tuhan, dan berhak bertindak atas nama Tuhan, yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal’’. Begitu potongan pidato yang dibaca Cinta.

"Fungsi agama satu, yaitu membimbing kompas moral manusia. Mengingatkan manusia untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat. Sampai detik ini semua masih sering berkelahi dan menjatuhkan satu sama lain, hanya karena perbedaan ras, suku, dan terutama agama’’ kata Cinta.

Entah ungkapan ini dia kutip dari siapa. Mungkin dia pernah membaca pemikir Yahudi radikal Yuval Noah Harari yang menulis buku laris ‘’Homo Sapien’’.

Namun, sepertinya kutipan Cinta Laura itu lebih mirip dengan kutipan Panglima Kostrad Letjen Dudung Abdurrahman.

Cinta dan Dudung, mungkin, tidak saling kenal. Namun, pesannya soal beragama ternyata sama saja. Dudung mengatakan semua agama sama di mata Tuhan. Pernyataan ini memantik polemik dan kontroversi.

Kalau semua agama sama, mengapa Dudung tidak mencoba ganti-ganti semua agama. Dudung menjawab, dia panglima, bukan ustaz. Dia mengatakan ungkapan itu supaya prajuritnya tidak beragama secara radikal, tetapi dengan moderat.

Sama dengan Dudung, Cinta juga berbicara mengenai relativisme agama.

Agama dianggap sebagai kompas moral untuk memandu kehidupan sosial. Karena itu tidak perlu menjalankan agama secara kafah, komprehensif, cukup yang moderat-moderat saja, yang tanggung-tanggung saja.

Kampanye yang disampaikan Dudung dan Cinta sama saja. Mungkin sumber dan sponsornya sama. Siapa tahu? (*)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler