Curse of the Weeping Woman, Teror Hantu Penculik Anak dari Meksiko

Jumat, 26 April 2019 – 17:51 WIB
Curse of the Weeping Woman. Foto: YouTube

jpnn.com - Di Meksiko, pada 1973, pekerja sosial Anna Tate-Garcia diserang ibu tunggal Patricia Alvarez. Anna mendapat amukan hebat setelah melepas Carlos dan Tomas, anak-anak Patricia.

Patricia mengurung kedua anaknya untuk menyelamatkan mereka dari incaran La Llorona, si hantu perempuan menangis. Namun, Anna menilai hal itu tidak masuk akal.

BACA JUGA: Danur 3: Sunyaruri Hadirkan Sosok Gaib yang Lebih Jahat

Ironisnya, setelah dilepaskan, Carlos dan Tomas justru ditemukan meninggal di sungai. Patricia menyatakan, kematian kedua putranya adalah kesalahan Anna.

Teror hantu La Llorona belum usai. Kini hantu yang mengenakan gaun serbaputih bak pengantin itu mengincar Chris dan Samantha, anak Anna. Keduanya pun mulai dihantui. Namun, Anna yang tidak percaya takhayul menolak anggapan tersebut.

BACA JUGA: Danur 3: Sunyaruri Diklaim Lebih Menakutkan

Dia terpaksa percaya saat muncul tanda misterius. Telapak tangan La Llorona membekas di pergelangan tangan anaknya. Anna pun berjuang menyelamatkan anaknya. Di sisi lain, dia harus melawan hantu yang tak henti membalas dendam selama ratusan tahun tersebut.

Bagi penonton tanah air, inti kisah The Curse of the Weeping Woman amat familier. Penampakan hingga "aksi" La Llorona amat mirip dengan wewe gombel, hantu di folklor Jawa yang dikenal suka menculik anak.

BACA JUGA: Us, Horor Terbaru dari Sutradara Get Out

Pembedanya, La Llorona lebih "jahat" karena anak-anak yang diculiknya tewas. Sutradara Michael Chaves mengemas kisah klasik tersebut menjadi film horor dengan banyak jump scare. Karena itu, walau alurnya mudah ditebak, penonton tidak bakal dibikin bosan.

"Kita tahu kisahnya. Namun, Chaves tetap mampu menampilkan jump scare yang oke. Filmnya efektif," papar Manohla Dargis, kolumnis New York Times.

Sementara itu, kontributor The Wrap Yolanda Machado menilai The Curse of the Weeping Woman punya kekuatan di visual yang detail.

"Tapi, keputusan Michael Chaves mengubah cerita rakyat menjadi film monster patut dipertanyakan. Tokoh-tokohnya kurang kuat," imbuh dia.

Di sisi lain, Peter Travers dari Rolling Stone menilai kisah tersebut mudah dilupakan lantaran terlalu biasa. (fam/c11/jan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Takut Trump Marah, Meksiko Ogah Bantu Imigran


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler