Dahlan Berhenti Pakai Sepatu Luar Negeri

Launching Novel Sekaligus Bagi-bagi Sepatu

Senin, 28 Mei 2012 – 05:05 WIB

JAKARTA - Tawa ceria anak-anak Sekolah Dasar (SD) terdengar meriah di di sisi barat Hotel Kempinsky tak jauh dari Bundaran HI kemarin (27/3). Sejak pukul 06.00 pagi, ratusan anak-anak dari beberapa daerah di Jakarta itu memadati depan panggung kecil berukuran 3 x 4 meter. Saking banyaknya, beberapa dari mereka harus rela duduk lesehan di mulut panggung.

Meskipun tidak kebagian kursi, mereka yang lesehan justru beruntung. Sebab, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga enggan duduk di kursi. Dia justru memilih duduk di atas tikar di tengah anak-anak. Mereka duduk bersama mantan Dirut PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang cerita hidupnya dituangkan dalam novel yang diluncurkan pagi itu.

Kemarin pagi memang hari spesial. Setelah sukses di Surabaya minggu lalu, novel Sepatu Dahlan diluncurkan di sela-sela pergelaran car free day di Jakarta. Yang istimewa, peluncuran novel terbitan Noura Books itu dibarengi Gerakan Sepatu untuk Anak Indonesia. Sebanyak 3.600 pasang sepatu akan dibagikan untuk anak-anak tidak mampu.

"Keuntungan dari novel ini akan dibelikan sepatu untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung," kata penulis novel Sepatu Dahlan Khrisna Pabichara.

Bersama sejumlah jajaran pimpinan BUMN dan sponsor gerakan, Dahlan membagikan sepatu secara simbolis untuk sepuluh anak. Mereka adalah Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga, General Manager Piero Adrian Riyadi, tokoh ESQ Ary Ginanjar Agustian, Khrisna Pabichara, dan CEO Noura Books Deden Ridwan.

Acara kemarin berlangsung segar dan penuh guyonan. Apalagi pemandu acara adalah pelawak Abdel Achrian yang biasanya tampil dalam Stand Up Comedy, sinetron komedi Bukan Superman, dan memandu acara Mamah Dedeh. "Senang sekali peluncuran buku Sepatu Dahlan ada bagi-bagi sepatu buat adik-adik. Semoga sebentar lagi ada buku Mobil Dahlan biar ada bagi-bagi mobil," kata Abdel disambut tawa hadirin.

Dahlan menyambut baik novel Sepatu Dahlan. Namun, sampai sekarang dia mengaku belum membaca. Bukan karena tidak ada waktu, tapi karena dirinya tidak berani membaca sendiri kisah hidupnya itu. Dia tidak sampai hati jika akhirnya menemukan kisah getir yang dialami tokoh utama dalam novel. "Saya tidak tega melihat tokoh di dalamnya menghadapi hidup yang sengsara," katanya.

Sepanjang hidup Dahlan, ini adalah buku kedua yang tidak berani dia baca. Buku yang pertama adalah serial Winnetou tulisan Karl May. Dahlan membaca dari awal satu sampai enam buku novelis kondang asal Jerman tersebut.

Tapi, saat membaca seri terakhir, hanya setengah novel yang dia selesaikan. "Saya tidak berani meneruskan. Saya tidak sampai hati mengetahui bagaimana akhir nasib dari tokoh yang mengalami kesulitan dalam hidupnya," katanya.

Meskipun begitu, kata Dahlan, novel Sepatu Dahlan mengajarkannya banyak hal. Salah satunya adalah teguran untuk menggunakan sepatu dalam negeri. Dahlan mengakui selama ini dirinya gemar memakai sepatu merek New Balance bikinan Amerika Serikat. "Karena itu, mulai sekarang saya akan membuang sepatu saya dan memakai sepatu asli bikinan dalam negeri," katanya.

Dahlan lantas melepas sepatu New Balance abu-abu miliknya dan melempar ke arah peserta. Satu sepatu dilempar ke sisi utara panggung dan satu sepatu ke sisi selatan. Para hadirin dan peserta car free day yang memadati acara langsung berebut ingin mendapat sepatu "bersejarah" tersebut.

Dahlan lantas mengenakan sepatu barunya. Pada sisi luar sepatu kets paduan hitam dan abu-abu itu bertulisan DI. "Mereknya DI 19. Singkatan dari Demi Indonesia. 19 itu adalah jumlah huruf (Arab) dalam ayat Bismillahirrahmanirrahiim," katanya sambil tersenyum memamerkan sepatu tersebut.

"Dalam Bismillahirrahmanirrahiim, ada dua asmaul husna. Pertama Ar Rahman kedua Ar Rahiim. Yang pertama berarti memberi manfaat untuk orang banyak yang kedua baru manfaat untuk diri sendiri. Semoga setiap langkah yang kita lakukan adalah untuk orang banyak terlebih dahulu," katanya lantas disambut tepuk tangan.

Untuk sementara, sepatu DI 19 masih jadi "barang langka". Soalnya, baru diproduksi dua pasang. Sepasang untuk dipakai Dahlan dan sepasang lainnya untuk istrinya, Nafsiah Dahlan Iskan. Dahlan merahasiakan perusahaan yang memproduksi sepatu tersebut. Pokoknya, kata dia, pabrik pembuat sepatu adalah perusahaan yang biasa memproduksi merek-merek internasional. "Kelak akan bisa dijual untuk umum," katanya.

Di akhir acara, mereka yang sudah membaca novel diminta memberi testimoni. Di antaranya adalah Wakil Pemimpin Redaksi RCTI Putra Nababan, presenter Tina Talisa, dan Ary Ginanjar. Putra mengaku terharu saat membaca novel. Saat menghabiskan bab-bab terakhir novel dalam perjalanan pesawat Medan-Jakarta, dia sampai menitikkan air mata. Sejak itu, dia sadar banyak alasan yang membuat Dahlan selalu mendorong semua orang bekerja keras.

"Pak Dahlan pernah hidup sangat miskin. Sarung dipakai mengikat perut buat menahan lapar. Ketika pagi ini saya memasangkan sepatu untuk anak saya, saya sangat bersyukur. Masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa pergi ke sekolah karena tidak memiliki sepatu," katanya.

Putra masih mengingat betul kerja keras Dahlan. Saat masih menjadi Redaktur Pelaksana di harian Rakyat Merdeka (Jawa Pos Group), Putra berkali-kali harus membangunkan Dahlan yang tidur di meja kantor. "Saya bilang, Pak Bos mohon maaf meja mau saya pakai buat rapat. Pak Dahlan kemudian bilang, baik Putra, kalau begitu saya tidur di mejamu saja," katanya.

Tina Talisa mengatakan, buku tersebut memberi pelajaran berharga tentang "roller coaster" dalam hidup. Setiap orang, kata dia, selalu mengalami naik turunnya kehidupan. "Jangan pernah menyalahkan kemiskinan. Justru kemiskinan harus harus terus kita lawan," katanya.

Komentar lain datang dari Ary Ginanjar. Kisah hidup Dahlan, kata dia, memberi banyak pelajaran. "Kisah hidup Pak Dahlan mengajarkan kita untuk memegang teguh prinsip, miskin bermartabat, kaya bermanfaat. Adik-adik jangan pernah menyerah. Saat hidup dalam kesusahan ingatlah kisah Pak Dahlan," katanya. (aga)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Lagi, Wiranto Sarankan SBY Tanggalkan Jabatan Partai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler