Dahlan Iskan Menulis Tips Membangun Rumah Tahan Gempa, Ini Penting

Kamis, 24 November 2022 – 08:36 WIB
Gempa susulan hari ini masih dirasakan warga Cianjur. Ilustrator: Sultan Amanda/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dahlan Iskan mewawancarai Prof Priyo Suprobo soal gempa Cianjur yang berujung kematian ratusan warga. Data terakhir BNPB pada Rabu malam (23/11), 271 orang meninggal dunia.

"Gempa tidak pernah menyebabkan kematian. Yang bikin banyak korban itu bangunan yang tidak tahan gempa," demikian Dahlan mengutip ucapan Prof Priyo Suprobo, Disway edisi Selasa (22/11) dengan judul Korban Bangunan.

BACA JUGA: Gempa Probolinggo, BPBD: Belum Ada Laporan Kerusakan

Kondisi ruang kelas SMKN 1 Cugenang di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, yang rusak akibat gempa dengan magnitudo 5,6 yang berpusat di barat daya Cianjur pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB. (ANTARA/HO-Humas Disdik Jawa Barat)

Prof Suprobo merupakan ahli teknik sipil. Disertasi doktornya tentang beban dinamis: di Purdue University Amerika Serikat.

BACA JUGA: BIN Sisir Warga Terdampak Gempa di Cianjur Hingga ke Desa Terisolir

"Soal gempa ada di dalamnya," lanjut Dahlan.

Prof Suprobo juga anggota Pusat Riset Gempa Nasional (Pusgen). Ia jadi rektor ITS Surabaya 2007 - 2011.

BACA JUGA: Hotman Paris Ungkap Pernyataan Irjen Teddy soal Narkoba di Rumah AKBP Dody

Gempa Cianjur itu sebenarnya hanya 5,6 skala richter. Bahwa begitu banyak bangunan yang roboh, itu pertanda disiplin yang rendah dalam memenuhi persyaratan bangunan di daerah gempa.

Menurut Dahlan, pemerintah, termasuk Pusgen sudah menerbitkan peta gempa yang sangat terperinci. Sampai per wilayah, bahkan Kementerian PUPR telah membuat pedoman pembangunan rumah tahan gempa.

"Sangat perinci. Peraturan pemerintah pun sudah ada. Sudah sangat perinci," lanjutnya.

Namun, masyarakat kita sepertinya memang telah lupa. Sudah lama tidak ada gempa yang menimbulkan banyak korban jiwa.

"Gempa Cianjur seperti membangunkan ingatan masa duka nan lalu," tulisan Dahlan.

Dahlan menyebut di zaman medsos ini begitu banyak muncul video tutorial melalui YouTube. Banyak pula penggemarnya. Pun sampai tutorial bagaimana menata alis.

Demikian pula Prof Suprobo, dia pun membuat tutorial khusus soal tips membangun rumah tahan gempa, termasuk bila rumah itu dibangun dengan batu bata.

"Tidak ada jalan lain. Tiap tiga meter harus diberi slop yang terbuat dari beton. Lalu antar-slop itu dihubungkan dengan slop pula," Dahlan mengutip perkataan Prof Suprobo.

"Kalau itu sudah dipenuhi masih harus dilihat disiplin penerapannya. Yang biasa 'dicuri' kontraktor, mandor, atau tukang adalah tulangannya," lanjutnya.

"Tidak bisa ditawar. Tulangan itu harus tiap 10 cm," katanya. "Biasanya dijarangkan sampai 15 atau 20 cm," begitu Dahlan menulis penjelasan profesor kelahiran Klaten itu.

Kemudian, ukuran baja tulangan yang menghubungkan satu tulang dengan tulang lainnya itu seharusnya 10 mm. "Biasanya juga dicuri menjadi 6 mm," ujarnya.

Meski peraturan, petunjuk, dan tutorial sudah sangat lengkap, Indonesia memang punya problem yang sama dengan Filipina, India, Pakistan, Meksiko, dan negara setara lainnya.

"Izin bangunan dan kontrol akan izin bangunan itu. Rasanya kita masih perlu menunggu satu generasi lagi untuk mulai melangkah ke sana," lanjut Dahlan.

Menurut Dahlan, siapa pun yang di SMA belajar fisika tentu tahu rumus ini: daya gempa adalah masa x percepatan. Percepatan di situ berarti cepatnya gelombang getaran.

Maka kian berat beban sebuah rumah, kian besar daya yang diterima. Bata merah adalah bahan bangunan yang amat berat.

"Karena itu disiplin dalam mengatur jarak slop dan tulangan tidak bisa ditawar," tulisan Dahlan.

Di sisi lain, berkembangnya industri bata ringan belakangan ini bisa mengurangi risiko itu.

"Saya sama sekali tidak tahu bahwa bata merah tidak ideal untuk bangunan di wilayah gempa. Rasanya orang Cianjur juga tidak tahu," lanjutnya.

Pertanyaannya, lanjut Dahlan, apakah setelah gempa ini mereka membangun kembali rumah dengan taat aturan gempa? "Itulah persoalannya.

"Semua ahli heran: gempanya 5,6 skala richter. Korbannya begitu banyak. Maka benar: gempa tidak membunuh manusia; bangunanlah yang membunuh mereka," tulisan Dahlan Iskan. (disway/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

BACA ARTIKEL LAINNYA... Korban Bangunan


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi, M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler