Dari Pedalaman Papua, Kartini-Kartini ini Terinspirasi Berkat IPN

Rabu, 26 April 2017 – 04:34 WIB
Wilma Sawaki bersama murid-murid didiknya. Foto IST

jpnn.com, MIMIKA - Sosok Hermina Kosay dan Wilma Sawaki bisa disebut sebagai Kartini di masa kini.

Dari pedalaman Papua, dengan dukungan Freeport mereka mencoba menginspirasi masyarakat sekitar.

BACA JUGA: Tim ERG Bantu Evakuasi Kecelakaan Pesawat Cesna

Hermina Kosay adalah instruktur di Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) sejak pertama kali dibuka pada 2007.

IPN didirikan Freeport sebagai balai latihan kerja untuk mempersiapkan SDM Papua.

BACA JUGA: 4 Putera Asli Papua Sandang Gelar S1 Pertambangan ITB

Tugasnya di IPN mempersiapkan calon peserta magang di PT Freeport Indonesia agar bisa membaca dan berhitung untuk tes berikutnya, sehingga dapat masuk program apprentice. Walaupun terlihat mudah, namun tugasnya sebenarnya berat karena para calon peserta ini dalam enam minggu harus bisa membaca dan berhitung.

Hebatnya, dia bisa mengetahui kemampuan siswanya dari cara duduknya. Siswa yang semangat belajar biasanya duduknya lebih tegak, dibanding temannya yang kadang tertidur.

BACA JUGA: DPR: IUPK Freeport Indonesia Berpotensi Melanggar UU

Tantangan yang dirasakan ketika mengajar adalah murid yang ia miliki dalam satu ruangan terdiri dari beragam tingkat kemampuan pendidikan yang berbeda, ada yang sudah bisa membaca tapi belum lancar, ada yang baru mengenal huruf dan bahkan ada yang belum bisa membaca walaupun sudah memiliki ijazah SMU.

“Saya adalah salah satu bagian dari masyarakat ini. Saya sayang dengan mereka dan saya ingin mereka mendapat kehidupan yang lebih baik,” ujar Hermina ketika ditanya latar belakang kenapa ia memilih menjadi instruktur.

Sedangkan Wilma Sasaki, memutuskan menjadi sukarelawan karena suaminya adalah karyawan Freeport, dan ia sebagai istri, merasa terpanggil untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada 2011, dia mulai bergabung menjadi anggota ibu PKK Tembagapura. Seperti kebanyakan ibu PKK lainnya, dia mengajari ibu-ibu masyarakat di Kampung Banti dan sekitarnya untuk merangkai bunga dari bahan daur ulang, menganyam, dan lainnya.

Karena sering ke kampung-kampung, ia melihat banyak anak-anak usia sekolah dasar belum mengenal huruf, bahkan memegang alat tulis saja tidak bisa.

Ibu dari lima anak ini memutuskan untuk fokus mengajar pendidikan anak usia dini (PAUD).

Pada April 2012 bersama dengan ibu-ibu PKK Tembagapura dan persatuan wanita gereja, ia membuka PAUD pertamanya di Kampung Kimbeli.

"Aktivitas ini adalah multiplier effect positif dari keberadaan Freeport untuk masyarakat sekitar. Freeport juga kerap mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan komunitas seperti, pemberian sepatu untuk anak, alat tulis untuk anak, dan program cuci tangan dengan sabun," katanya.

Tak hanya mengajar, bersama ibu-ibu PKK lainnya, dia juga memberikan makanan sehat tambahan dan melatih para ibu menganyam sembari menunggu anaknya belajar.

Suatu kebagiaan tersendiri bagi Wilma saat bertemu dengan salah satu muridnya yang sudah duduk di bangku sekolah dasar. Apalagi setelah anak didiknya bisa membaca menulis dan berhitung.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hal ini Bisa Ganggu Iklim Investasi Sektor Pertambangan


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler