Delapan Ribu Siswa Tak Ikut SNM PTN

Sabtu, 08 Maret 2014 – 00:52 WIB

SURABAYA - Panitia SNM PTN menyatakan 401 sekolah di Jawa Timur tidak mengikutsertakan murid-muridnya dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). Hingga hari terakhir pengisian PDSS kemarin (6/3), ratusan sekolah itu tidak meng-input data siswanya. 

Humas SNM PTN Ismaini Zain menyebutkan, tahun lalu 705 SMA sederajat di Jawa Timur tidak mengikutsertakan siswanya dalam SNM PTN. Artinya, ada penurunan. "Itu data per hari ini (kemarin, Red) yang kami dapat," jelasnya. Dia menyatakan telah menghubungi secara acak sekolah-sekolah yang tidak meng-input data ke pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) itu. 

Kebanyakan ternyata sekolah menengah kejuruan (SMK). Alasannya, antara lain, mereka memang tidak berniat berpartisipasi dalam SNM PTN. Ada pula yang sengaja memilih berkuliah di perguruan tinggi swasta. Diperkirakan jumlah siswa di 401 sekolah yang tidak mengisi PDSS mencapai 7.500 hingga 8 ribu siswa. 

Di antara siswa yang tidak dapat ikut SNM PTN itu, ada 17 murid kelas XII di MA Nurul Khoir Wonorejo. Mereka masih bermasalah dengan nomor induk siswa nasional (NISN). Belasan siswa itu pun tidak bisa mengisikan data ke PDSS dan otomatis tidak dapat ikut SNM PTN. 

Kepala MA Nurul Khoir Abdul Qoyyum mengatakan sudah mengirimkan e-mail ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik) perihal para siswanya yang bermasalah dengan NISN. Tapi, hingga kini belum ada jawaban. "Untungnya, anak-anak yang bermasalah dengan NISN itu tidak daftar SNM PTN," ujarnya. 

Meski begitu, Abdul menyesalkan lamanya respons panitia dalam pengurusan NISN. Dia tidak bisa membayangkan seandainya para siswa yang NISN-nya bermasalah itu ingin ikut SNM PTN. "Kalau ini buat kebaikan siswa, seharusnya tidak dipersulit seperti sekarang," tegasnya. 

Ismaini menyangkal adanya pengurusan NISN yang dipersulit. Menurut dia, panitia sudah memberikan waktu cukup lama untuk mengurus NISN. Yaitu, 6 Januari 2014 sampai 6 Maret 2014.

Ismaini menilai sejauh ini tidak ada yang merasa dipersulit. Pihak Kementerian Pendidikan menginginkan peningkatan jumlah mahasiswa setiap tahun. Ini karena jumlah lulusan S-1 dari Indonesia masih rendah daripada negara berkembang lain, seperti India.

Tidak adakah toleransi untuk input data PDSS? Dengan tegas Ismaini mengatakan tidak. Dia mengatakan, sekolah bisa mengantisipasi hal ini jauh sebelum pembukaan pendaftaran SNM PTN. Memang guru harus proaktif mengecek kondisi NISN para siswa. Itu diingatkan sejak sosialisasi. Ismaini menyarankan anak-anak yang belum bisa mengikuti SNM PTN karena terhambat NISN agar mencoba SNB MPTN atau jalur mandiri yang pelaksanaannya digelar pasca SNM PTN. (ina/c2/roz)
 

BACA JUGA: Guru SMA Kelebihan, SD -SMP Kekurangan

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemendikbud Belum Cairkan Anggaran Pengawasan Unas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler