Demi Hadapi Covid-19, Emrus Minta Jokowi Tambah Satu Satgas Lagi

Rabu, 05 Agustus 2020 – 02:00 WIB
Pengamat politik Emrus Sihombing. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan sampai saat ini belum ada tanda-tanda angka Covid-19 menurun. Padahal, kata Emrus, sudah ada dua juru bicara pemerintah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat menaati protokol kesehatan terkait Covid-19.

Dia melihat ada yang kurang dari pemerintah dalam penanganan Covid-19, yakni persoalan komunikasi.

BACA JUGA: Satgas TNI Evakuasi Korban Pengadangan Bandit Bersenjata di Kongo

Emrus menyarankan Presiden Joko Widodo agar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, menambah satu satuan tugas lagi sehingga menjadi tiga satgas. Pertama, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19. Kedua, Satgas PEN, dan ketiga, Satgas Komunikasi.

"Tupoksi utamanya (Satgas Komunikasi) menggerakkan kemandirian setiap WNI menghadapi Covid-19," kata pengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH) itu, Selasa (4/8).

BACA JUGA: Wakil Ketua MPR RI: Daya Beli Makin Lemah, Ekonomi Jatuh

Emrus berpendapat sebagai tindakan extraordinary, maka akan lebih bagus lagi bila Satgas Komunikasi itu langsung di bawah presiden. Sebab, Emrus menegaskan, bidang kerja komunikasi sangat penting dan strategis di era new normal ini.

Direktur eksekutif lembaga EmrusCorner itu menyatakan Satgas ini nantinya melakukan manajemen berbasis sebuah strategi komunikasi dan program yang terukur.

BACA JUGA: Danlanal Tegal Anjangsana ke Rumah Eks Pejuang ALRI, Nih Biodatanya

"Ini dalam rangka menumbuhkan serta memelihara kesadaran yang tinggi, menciptakan sikap mendukung dan melakukan protokol kesehatan penanganan Covid-19 secara mandiri bagi setiap individu di tengah masyarakat," jelasnya.

Emrus menjelaskan dari aspek medis, penularan Covid-19 terjadi dari manusia ke manusia. Oleh karena itu, kata dia, peningkatan jumlah penderita Covid-19 tidak sedikit yang disebabkan oleh masyarakat yang belum memiliki kesadaran memadai. Termasuk sikap dan perilaku kurang mendukung maupun menaati protokol kesehatan penanganan Covid-19 secara ketat.

Menurut Emrus, ketidaktaatan sebagian masyarakat baik yang berada di keramaian maupun tempat kerja merupakan bukti bahwa manajemen komunikasi pemerintah terkait penanganan Covid-19 belum terkelola secara serius. "Karena tidak tereksekusi berkelanjutan, belum tersistematis, dan tidak terdefusi masif di tengah masyarakat," jelas Emrus.

Dia menegaskan sepanjang pengelolaan komunikasi masih seperti yang sekarang ini, dan dengan asumsi belum ditemukannya vaksin, dan daur hidup Covid-19 secara natural berakhir, maka dapat diprediksi jumlah penderita akan terus bertambah, bukannya malah menurun. "Ini sangat berpotensi menjadi ancaman serius bagi negeri ini ke depan," kata dia.(boy/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

Read more...

Terpopuler