Demi Menimba Ilmu, Dua Bocah Bertaruh Nyawa di Tengah Laut

Senin, 14 Desember 2015 – 17:25 WIB
Tampak dua siswa SD di Pulau Gili Re, ujung selatan Lombok Timur (Lotim) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyeberangi laut dengan berjalan kaki saat hendak ke sekolah. Ketiadaan transportasi membuat siswa ini nekat meski nyawa terancam. FOTO: Lombok Post/JPNN.com

jpnn.com - Gili Re, salah satu pulau kecil di ujung selatan Lombok Timur (Lotim). Kondisi geografis yang terisolir oleh lautan membuat warga hidup dalam ragam keterbatasan.

Debur ombak laut selatan seolah membuat jeritan mereka tak terdengar oleh penguasa baik di Selong maupun Mataram. Berikut catatan wartawan Lombok Post (Grup JPNN.com), Wahyu Prihadi tentang perjuangan hidup masyarakat pulau mungil itu.

BACA JUGA: Kereeen!!! Tiga Pelajar SMP Indonesia Sabet Emas di Kejuaraan Catur Internasional

“Kami Belum Merdeka,” sebuah kalimat penuh arti yang dilontrakan Kadus Gili Re, Desa Pare Mas, Jerowaru Lombok Timur (Lotim), Abdurrahman. Sempat terpikir, mungkin itu dilontarkan karena ia sedang menghadapi masalah, atau karena banyak pikiran. Pria berbadan kurus itu lantas membawa kami menuju sudut lain di pulau kecil berpenduduk 400 jiwa tersebut.

Di sana tampak sejumlah anak asyik bermain di pinggir pantai. Berseragam lengkap warna coklat khas pakaian Pramuka yang digunakan untuk hari Sabtu, anak-anak itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bermain pasing, ada yang berkejaran ke sana ke mari, ada juga yang duduk-duduk santai. Beberapa abang-abang mereka yang juga berseragam terlihat serius bermain takraw.

BACA JUGA: Siswa SMP asal Jatim dan Jabar Raih Emas di Olimpiade Sains Korsel

Bukan sedang bermalas apa lagi membolos. Mereka sebenarnya hendak berangkat ke sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 Wita. Namun belum ada satupun perahu yang bisa ditumpangi untuk menuju pulau seberang. Ya, untuk menuntut ilmu, puluhan anak pulau itu harus menyeberang lautan. Sekolah satu atap mereka SD dan SMP ada di Gili Beleq. Jaraknya kedua pulau itu sebenarnya tak jauh. Kurang dari 300 meter saja. Namun lautlah yang membuat perjalanan itu terasa berat.

Pagi itu perahu tak kunjung datang. Semua perahu di pulau sudah keluar untuk melaut, menjual hasil tangkapan, ataupun mengambil air ke Lombok. Bosan menunggu, Ilham, seorang siswa SMP yang paling besar memutuskan berenang ke seberang.

BACA JUGA: Menteri Yohana: Ini Satu-satunya Di Indonesia

“Ayo, nanti terlambat,” teriaknya pada teman-temannya yang lain.

Langkah beraninya itu lantas diikuti siswa SMP lainnya. Tak berselang lama, sejumlah siswa SD juga mengikuti jejak kakak-kakak mereka. sepatu yang dikenakan terpaksa harus dibuka. Beberapa memasukkannya ke dalam tas yang kemudian diangkat tinggi di atas kepala agar tak basah.

“Kalau tak ada perahu kita memang seperti ini,” kata Putri, seorang siswa kelas V SD.

Pagi itu mereka agak beruntung. Air sedang surut. Lebih surut dari biasanya. Tingginya hanya sekitar satu meter saja. Padahal jika sedang  pasang yang bisa mencapai lebih dari empat meter. Namun, kendati begitu, sejumlah anak tampak begitu kepayahan.

Salah satunya Mariadi, siswa kelas I SD. Ia tertinggal jauh di baris paling belakang. Kendati sudah bersusah payah mengejar, ia tetap saja kesulitan. Kesal dengan keadaan, ia tak mau lagi mengangkat tasnya tinggi-tinggi. Bisa dipastikan seluruh sepatu dan buku pelajaran yang ada di dalam tasnya basah semua. Sambil menangis kencang, anak itu menggeret-geret tasnya di atas air laut yang setinggi dadanya. 

Sungguh miris melihat anak-anak bertaruh nyawa untuk mengenyam bangku sekolah. Bagaimana jika angin tiba-tiba tak bersahabat, ombak mengganas atau hujan lebat ketika mereka di tengah perairan.

Sekitar tahun 2001-2002 lalu bahkan sebuah kejadian tragis menimpa. Dua anak tewas meregang nyawa di perairan antara Gili Re dan Gili Beleq. Saat itu, ombak yang sedang mengganas disertai hujan membuat para orang tua was-was. Merekapun menunda keberangkatannya melaut atau menjual hasil tangkapan ke Lombok setelah mengantar anaknya sekolah. Nahas, sebuah perahu terbalik, dua anak yang masih kecil menjadi korban.

“Jadi ini bukan bertaruh nyawa, tapi memang sudah ada yang berkorban nyawa,” kata Abdurrahman sang kadus.

Solusi terbaik sebenarnya pengadaan jembatan yang tak begitu panjang. Mirip jembatan untuk dermaga penyebrangan. Namun beragam alasan pemerintah membuat harapan warga terus pupus. Jangankan jembatan beton yang permanen, permintaan mereka akan perahu juga tak pernah direalisasikan hingga kini.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... SAH, Guru Tidak Boleh Lagi Ada Kekerasan Di Sekolah, Jika Tidak Anda Bisa Berakhir Di Sini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler