Detik-detik Dada Bripda Fathur Dihantam 2 Seniornya, Ngeri!

Selasa, 04 September 2018 – 16:52 WIB
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. Foto: dokumen JPNN

jpnn.com, KENDARI - Seorang anggota Polisi Bripda Muh Fathurrahman Ismail tewas dihajar seniornya. Insiden itu terjadi di barak Dalmas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin dini hari, 3 September.

Korban merupakan anggota polisi yang bertugas di Polda Sulawesi Tenggara. Dua seniornya, Bripda Zulfikar Ali Akbar (angkatan 40) dan Bripda Fislan (angkatan 41) diduga sebagi pelaku.

BACA JUGA: Polisi Tewas Dibantai Perompak di Perairan Aceh

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhart mengatakan, korban merupakan Bintara Remaja Polda Sultra angkatan 42. Mulanya, para pelaku datang ke Barak Polda Sultra.

Mereka mengumpulkan anggota Dalmas di barak C sebanyak 19 orang termasuk korban. Lalu, Zulfikar menghantam dada korban. Fislan menyusul. Juga memukul bagian dada.

BACA JUGA: Jenazah Iptu Jesaya Tiba, Polisi Masih Kejar Pelaku

"Setelah itu korban mengalami sesak napas dan pingsan," kata Harry kepada Jawa Pos, Senin (3/9).

Saat terjatuh dan susah bernapas, wajah Fathur juga pucat. Sempat dilarikan ke RSUD Abunawas, Kendari, untuk mendapat pertolongan medis. Namun, nyawanya tak terselamatkan.

BACA JUGA: Intel Polres Kutai Timur Tewas di dalam Mobil

Harry menambahkan pada pukul 04.00 Wita jenazah korban dipindahkan ke RS Bhayangkara Polda Sultra untuk dilakukan autopsi. Kemudian pihak Polda Sultra mendatangi lokasi dan menggelar prarekonstruksi dan menginterogasi saksi-saksi.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan, pelaku akan mendapatkan tindakan tegas bila terbukti melakukan penganiayaan tersebut. "Bisa dipidanakan, bisa dipecat kalau terbukti dia melanggar," kata Setyo di Mabes Polri.

Saat ini, kata Setyo, kedua terduga pelaku penganiayaan yang juga anggota polisi telah diamankan Polda Sultra untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi masih mendalami kasus tersebut.

Kerabat Fathur, Arifatul Aini, mengaku sangat kehilangan. Sejak SD, dia sepermainan dengan Fathur. "Jenazahnya dimakamkan di Lasusua, Kolaka Utara," katanya kepada FAJAR (Jawa Pos Group).

Pakar Kriminolog Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Heri Thahir, mengatakan, tradisi kekerasan senior tak boleh lagi dilanjutkan. Menurut dia, fenomena itu masih terjadi lantaran adanya keinginan untuk merawat tradisi kekerasan. Jika itu masih terjadi, mesti diproses hukum. "Jangan lagi dilestarikan. Itu sudah bukan masanya," kata Heri.

Justru, lanjut dia, senior mesti memperlihatkan pembelajaran yang baik. Prof Heri pun berharap, jangan sampai kekerasan serupa terulang lagi di instansi pendidikan lainnya. (ril-jpg/rif-zuk)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mantan Wakapolda Tewas Terikat, Polisi Gelar Olah TKP


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler