Dia Itu Banyak Bebannya

Kamis, 29 Januari 2015 – 07:17 WIB
Ahmad Syafii Maarif. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - KEGADUHAN hubungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri menyita perhatian publik dalam dua pekan terakhir.

Semuanya dipicu keputusan Presiden Joko Widodo yang menunjuk Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon tunggal Kapolri, yang lantas berbuntut "kriminalisasi" para pimpinan KPK.

BACA JUGA: Suara Effendi Simbolon, Suara Megawati?

Publik pun bereaksi keras, menuding Jokowi tidak pro pemberantasan korupsi, hingga isu Jokowi ditekan oleh elit parpol dalam pengajuan Budi Gunawan. Sayangnya, dalam tiga kali kesempatan klarifikasi, presiden hanya berbicara sangat singkat, sekitar 2 - 3 menit, sehingga banyak pertanyaan yang masih menggantung dan menyisakan misteri.

Kemarin, sebagian misteri itu mulai terkuak, setelah Tim 9 menyampaikan rekomendasinya.  Berikut wawancara dengan Ketua Tim 9 Buya Ahmad Syafii Maarif usai bertemu dengan Presiden Jokowi di Kantor Presiden kemarin (28/1).

BACA JUGA: Kok Situasi Tambah Tegang Ya

Terkait kisruh KPK - Polri, apa saran Tim 9 kepada presiden?

Ini harus cepat (diselesaikan), karena situasi sudah mendidih. Tadi dijawab (presiden), iya. Dia itu banyak bebannya.

BACA JUGA: BW Bukan Orang Suci

DPR mendesak Jokowi untuk melantik BG. Tanggapan Tim 9?

Itu berat sekali. Kalau dilantik, lalu diminta berhenti, lha kalau (dia) tidak mau berhenti kan repot, dia bisa menyusun kekuatan. DPR itu kan punya agenda politik sendiri.

Jika BG tidak dilantik, apa bisa mengganggu hubungan eksekutif - legislatif?

Itu bagian dari risiko, maka perlu komunikasi politik.

Lalu apa opsi terbaik?

Yang paling bagus iBG (Budi Gunawan) mundur dari pencalonan, dan itu mungkin akan terjadi.

Berarti ada calon Kapolri baru?

Iya, harus, kalau orang ini (BG, Red) jadi Kapolri ya bagaimana.

Siapa saja calonnya?

Ada beberapa nama, saya tidak mau ungkap di sini. Kan ada Pak ini (Oegroseno), dia tahu (jenderal) bintang-bintang tiga (di Polri) yang baik itu masih ada. (Oegroseno adalah mantan Wakapolri yang juga masuk ke Tim 9. Selama ini, dia kerap melontarkan kritik keras pada BG).

Bagaimana tanggapan presiden?

Dia akan melakukan itu, tapi memang ada proses hukum yang agak rumit. Tapi, pokoknya bahwa yang akan jadi Kapolri itu bukan dia (BG, Red).

Apa ada rencana Tim 9 bertemu pimpinan KPK dan Polri?

Kalau mau serius, kita ini tidak punya legalitas, kita niat baik saja supaya pemerintah berjalan, presiden tidak dimacam-macamkan (diganggu, Red), kasihan negeri ini. Untuk itu perlu tegas, harus ada nyali, itu yang kita harapkan.

Terkait status tersangka Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, bagaimana, apa perlu mundur?

Dia kan tersangka, jadi ya terus saja (proses hukumnya). Soal dia mundur, undang-undang KPK memang (mengatur) begitu, itu namanya ksatria.

Ada usulan pemberian hak imunitas untuk pimpinan KPK, tanggapanya?

Itu tidak penting, malah jangan, setiap warga negara harus sama di hadapan hukum. Tapi saya bilang, itu jangan ada lagi kriminalisasi pada yang tiga itu (pimpinan KPK, Red), dan presiden akan lakukan itu. Nanti perintahkan Kabareskrim jangan ada lagi yang seperti itu.

Kapan presiden akan menyampaikan sikapnya?

Saya berharap bulan ini, biar cepat, kalau terlalu lama, kacau ini. Maka harus ada suara dari Istana secepatnya.

Ada komunikasi Tim 9 dengan Wantimpres, kan hari ini juga bertemu presiden?

Saya tidak tahu apa yang terjadi (di Wantimpres), tapi kabarnya di sana tidak satu suara. Ada tiga orang (anggota Wantimpres) yang minta (BG) dilantik. Kalau kita (Tim 9) bulat, satu suara (minta BG tidak dilantik).

Buya tadi bilang presiden mendapat banyak tekanan berat, dari mana saja?

Umumnya dari partai. Memang berat ini. Pak Jokowi ini diusung partai, tapi bukan tokoh partai, jadi bisa dipahami lah.

Saran Buya?

Ini saran pribadi, tapi tadi belum saya sampaikan ke Pak Jokowi. Saran saya, dia memang diusung partai, tapi dipilih rakyat, maka utamakan rakyat. Itu yang paling bagus.

Dalam 100 hari Jokowi - JK, bagaimana Buya menilai kinerja di bidang penegakan hukum?

Memang berat ya. Pokoknya bagi kami, presiden fokus mengurusi program (kerja). Tapi kan tidak bisa begitu saja, (kasus KPK - Polri) ini kan batu sandungan. Dan sebenarnya kalau mau jujur ya, kalau mau jujur, sesungguhnya pengajuan BG itu bukan inisiatif presiden !!! Saya dapat info yang terpercaya.
(Nada bicara Buya meninggi saat mengucap "bukan inisiatif presiden")

Lalu, siapa yang kira-kira berinisiatif mengusulkan BG sebagai calon Kapolri kepada presiden?

Bacaan saya, bukan dari presiden, tapi dari parpol, saya tidak mau sebut nama karena harus jaga hubungan baik dengan orang-orang (parpol) ini. (owi/dyn/Jawa Pos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tujuh Turunan, Tak Akan Hilang Cerita Ini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler