Dibuka Gangnam Style, Ditutup Instrumen Tradisional Sanjo

Kamis, 18 Oktober 2012 – 00:08 WIB
Foto: istimewa
Di Negeri Ginseng, pertemuan diformat di Jeju, pulau wisata alam Korea yang terdaftar di tujuh keajaiban dunia. Titelnya “Joint Working Level Task Force on Economic Cooperation, Korea-Indonesia Jeju Initiative” 11-12 Oktober. Menko Hatta Rajasa pun mengawali pembicaraan investasi yang serius itu dengan demam Gangnam Style di Indonesia.

Di depan rombongan yang dipimpin Minister of Knowledge Economy Sukwoo Hong, Hatta pun menceritakan hebohnya goyang kuda yang dipopulerkan penyanyi hip hop Korea, Psy yang bernama asli Park Jae Sang, 35 tahun itu. Dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua, mengenal dengan fasih lagu Gangnam Style yang bernuansa jenaka itu.

Tentu saja, pejabat-pejabat Korea yang mengikuti Jeju Initiative itu tertawa keras dan bertepuk tangan. Suasana yang kaku dan serius itu pun melelah menjadi sangat cair. Hatta semula juga tidak terlalu ngeh dengan video Gangnam Style yang sejak di up load di youtube 16 Juli 2012 itu sudah di klik oleh hampir 473 juta viewers itu.

Jogetan mirip rodeo yang dipopulerkan oleh alumni Boston University dan Berklee College of Music AS itu rupanya sudah merakyat di Korea. Gangnam adalah kawasan segitiga emas di Seoul, yakni Gan-nam-gu, Seo-cho-gu dan Song-pa-gu. Kawasan elite, seperti Manhattan, New York, atau Beverly Hills, Orange County California AS.

:TERKAIT Setelah membuka dengan Gangnam Style, Hatta Rajasa melanjutkan pembicaraan dengan Korean Style di Indonesia. Anak-anak muda punya kiblat baru dalam life style, yakni Korea. Jumlah orang Korea yang bekerja di Indonesia ada 40.000 lebih, dan ribuan restoran korea di kota-kota besar di tanah air. “Orang Indonesia yang di Korea juga cukup besar, 35.000 orang.

Rata-rata, penghasilan mereka USD 1.500, sekitar Rp 14.250.000,- Rata-rata yang dikirim ke keluarganya di tanah air, USD 1.000 per kepala, atau total USD 35 juta sebulan. Karena itu, Jepang dan Korea adalah dua negara yang sangat penting bagi Indonesia,” ungkap Hatta. Pertemuan lanjutan ini, menghasilkan banyak hal penting.

Termasuk soal komitmen Korea terhadap proyek-proyek besar MP3EI, juga pembentukan Sekretariat Bersama RI-Korea untuk mempercepat implementasi hubungan perdagangan dan investasi kedua negara. “Catatan kami, realisasi investasi Korea ke Indonesia maju pesat, lebih dari 4 kali lipat. Dari dari USD 330 juta tahun 2010, menjadi USD 1,2 M tahun 2011.

Dan, akan terus meningkat tajam,” papar Menko berambut perak itu. Banyak sekali proyek-proyek yang dibicarakan dengan serius di forum tersebut. Seperti rencana connecting Jawa-Sumatera, Jembatan Selat Sunda (JSS) yang siap berkomitmen USD 24 M. Jembatan sepanjang 29 kilometer, plus dua kawasan di kedua kaki jembatan itu sendiri membutuhkan lebih dari Rp 140 Tiliun.

Lebar jembatan itu 60 meter, yang dirancang untuk jalan raya, double track kereta api, pipa gas, pipa minyak, fiber optic cable dan kabel listrik. “Pemerintah sudah membentuk Tim Tujuh, dari Tujuh Kementerian, untuk mereview dan menilai perencanaan JSS itu. Mereka tertarik dengan berbagai skema kerjasama,” jelas Hatta. “Korea punya teknologi dan pengalaman dalam membangun jembatan panjang.

Mereka sudah membuktikan saat membangun bridge 23 kilometer, di Inchoen, Seoul. Di JSS, tantangannya juga tidak sederhana, karena harus ada studi yang lengkap dan detail, karena ada gunung yang aktif, potensi gempa, oceanografi, arus laut, angin, dan sebagainya,” lanjut Hatta. Juga dibicarakan proyek Jembatan Batam-Bintan (JBB) yang bentangannya sepanjang 6,97 km, dan menggandengkan dua pulau itu sebagai bagian integral dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun (BBK).

Nilai proyeknya ada di kisaran USD 334 juta, yang ditawarkan melalui skema public private partnership. “Kami berharap feasibilty study projek itu dibiayai oleh Korea dengan grant dari EDCF, yang perkiraan sebesar USD 3 juta. Jika FS dimulai tahun 2012, maka akhir 2013 sudah selesai, dan proyek bisa dimulai pada 2014,” papar Hatta.

Ada juga proyek kereta api Bengkulu-Muara Enim dan Port Project akan terdiri dari 3 hal, yakni jalur kereta api sepanjang 220 km dari Bengkulu-Muara Enim,  pelabuhan laut, dan pembangkit tenaga listrik 30 MW. “Proyek ini juga akan ditawarkan dengan skema PPP, dengan biaya sekitar USD 3,3 M. Pres feasibility study sudah selesai digarap, tinggal FS yang akan ditenderkan secara internasional. Apabila Samsung dan Mandela Resources mendapat status inisioatir, maka mereka berhak mendapatkan right to match,” jelas dia.

Jika Bengkulu dibangun port, maka potensi bisnisnya akan sangat besar. Kapal-kapal bisa langsung ke akses laut internasional di Atlantik. Pertemuan itu sekaligus diadakan penandatanganan MoU antara Samsung, Dohwa, dan Mandala Resources untuk melanjutkan kerjasama proyek tersebut.

Masih ada beberapa projek besar yang dibicarakan di forum tersebut. Menteri Sukwoo Hong sangat terkesan dengan pertemuan joint working itu. “Kami akan bekerja lebih keras dari yang dikerjakan oleh delegasi Indonesia. Kami akan mempercepat, agar semua yang dibicarakan dan disepakati ini segera terealisasi di lapangan,” ungkap Sukwoo, yang sekaligus mengajak makan siang di lantai atas Jeju Convention Center (JCC), yang langsung menatap birunya laut Jaju. Dia ingin memamerkan, salah satu keindahan alam Korea yang dia sebut “Bali”-nya Korea itu. (dk/bersambung).
BACA ARTIKEL LAINNYA... MLM Kebaikan, Kunci Keberhasilan Andi Suhandi Asuh Ratusan Anak di Sanggar Matahari

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler