Didorong Pengawal Raja Salman, Nyaris Terjepit Lift

Rabu, 08 Maret 2017 – 07:32 WIB
Muchlis Hanafi (tengah) di antara Presiden Joko Widodo dan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi saat menyambut di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017). FOTO : Imam Husein/Jawa Pos

jpnn.com - jpnn.com - Selama empat hari Muchlis Hanafi mendampingi Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dengan Presiden Jokowi. Meski mendapat tugas dadakan, dia mampu menjalankannya dengan baik.

KHAFIDLUL ULUM, Jakarta

BACA JUGA: Ssttt... Ada Kanjeng Ratu HB X Ingin Temui Raja Saudi

Akhir Februari lalu (28/2), tiba-tiba handphone Muchlis Hanafi berdering. Rupanya, yang menelepon adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dia diminta Pak Menteri ikut menyambut kedatangan Raja Salman dan rombongan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, keesokan harinya, Rabu (1/3).

BACA JUGA: Kata Sekretaris Kapolri, Harga Pedang Emas Itu Cuma...

“Saya diminta mendampingi beliau (Menag Lukman Hakim, Red),’’ ujar kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kemenag itu di kantornya, kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kemarin (7/3).

Esoknya, sesuai dengan perintah, Muchlis berangkat ke Bandara Halim Perdanakusuma untuk menemui atasannya di ruang tunggu VVIP.

BACA JUGA: Istana Senang Liburan Raja Salman Diperpanjang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga berada di ruangan tersebut untuk menunggu kedatangan sang raja.

Selain dari Indonesia, tampak pula salah seorang menteri dari Kerajaan Arab Saudi.

Menteri itu berusaha berbincang dengan Presiden Jokowi, tetapi tidak ada penerjemah di antara keduanya. Muchlis pun bergerak cepat membantu menjadi penerjemah untuk kedua pihak.

“Saya menjadi penerjemah dadakan yang tidak masuk tim yang sudah disiapkan Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Arab Saudi,’’ papar ayah empat anak tersebut.

Saat pesawat Raja Salman mendarat, Presiden Jokowi dan para pejabat keluar dari ruang tunggu dan menuju tempat penyambutan.

Saat itulah tiba-tiba presiden memanggil Muchlis untuk mendampinginya.

Muchlis pun berusaha mengenal seluruh pejabat Indonesia yang datang menyambut raja.

Sebab, biasanya presiden akan mengenalkan satu per satu pejabat yang ikut menyambut kepada tamunya.

Setelah penyambutan di bandara selesai, presiden dan raja menuju ke Istana Bogor.

Tak dikira, Muchlis naik semobil dengan Raja Salman dan Menteri Lukman Hakim.

“Saya di kursi depan,’’ tutur doktor lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, itu.

Di dalam mobil Mercedes-Benz S600 Limousine yang membawa Raja Salman ke Istana Bogor, Muchlis bisa mendengarkan percakapan raja berusia 81 tahun itu dengan Menteri Lukman.

Muchlis sempat mengira Raja Salman akan banyak diam selama perjalanan.

Kenyataannya, justru Raja Salman-lah yang lebih aktif mengajak berbicara daripada Menag.

Saat itu hujan deras mengguyur Kota Bogor. Raja Salman lalu bercerita tentang hujan yang turun di Saudi.

Jalanan jadi tergenang. Ada yang berenang di dalamnya. Air hujan juga digunakan untuk mengaliri pohon kurma. Sang raja beberapa kali menyebutkan dalil dalam Alquran.

’’Raja Salman sangat humanis.’’ Itulah kesan yang diperoleh Muchlis.

Raja yang juga dijuluki khadimul haramain (penjaga dua Tanah Suci) itu baru berhenti bercerita ketika rombongan tiba di Istana Bogor.

Raja sangat kagum melihat begitu hangatnya warga di sepanjang jalan yang menyambut kedatangannya.

Sesampai di Istana Bogor itu, tugas Muchlis hari itu selesai.

Sebab, Kemenlu sudah menyiapkan penerjemah, baik saat jamuan makan maupun ketika acara penandatanganan naskah kerja sama bilateral kedua pemerintah.

Hari kedua, Kamis (2/3), Muchlis sudah stand by di Hotel Raffles, Jakarta, tempat menginap Raja Salman.

Dia lantas ikut rombongan raja menuju gedung DPR. Gedung Nusantara sudah penuh sesak oleh para undangan.

Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) menyambut Raja Salman di depan gedung kura-kura. Saat itulah Muchlis kembali bertugas menjadi penerjemah.

Dia selalu mendekat kepada Raja Salman agar yang dikatakan sang raja bisa dia terjemahkan dengan baik dan benar. Begitu pula sebaliknya.

’’Usia beliau kan sudah sepuh,’’ terangnya.

Ketegangan sempat terjadi ketika Raja Salman dan Setnov hendak masuk lift. Muchlis bingung.

Pasalnya, lift itu hanya bisa menampung empat orang. Raja Salman dan Setnov bersama ajudannya.

Setnov meminta Muchlis untuk ikut masuk. Namun, pengawal raja melarangnya.

Ajudan Setnov kembali menarik Muchlis agar masuk lift, tapi lagi-lagi pengawal raja mendorongnya ke luar.

Akibatnya, Muchlis nyaris terjepit lift. Pintu lift akhirnya tetutup. Muchlis pun lantas menuju eskalator dan berlari menuju pintu lift di lantai 2.

Di depan pintu lift lantai 2 ternyata sudah penuh undangan yang juga ingin menyambut Raja Salman. Muchlis pun sulit mendekati posisi raja dan Setnov.

Mereka kemudian masuk ke gedung paripurna. Di ruangan itu sudah ada penerjemah yang siap bertugas. Maka, Muchlis tidak perlu melakukan penerjemahan.

Setelah acara di DPR, Muchlis kembali ikut rombongan Raja Salman menuju Masjid Istiqlal.

Di masjid bersejarah itu, Raja Salman melakukan salat Tahiyatul Masjid bersama Presiden Jokowi.

Dari Istiqlal, Muchlis kembali mendampingi raja dan presiden dalam satu mobil menuju Istana Merdeka.

Di istana, raja murah senyum itu bertemu dengan Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri. Mega didampingi anaknya, Puan Maharani.

Raja Salman sangat ingin bertemu dengan Puan yang tak lain adalah cucu Soekarno, presiden pertama RI yang cukup dikenal keluarga Raja Salman.

Muchlis juga mendampingi Raja Salman saat naik boogie car yang disopiri Presiden Jokowi keliling istana.

’’Saya duduk di belakang presiden dan Raja Salman,’’ tutur suami Rifqiyati Mas’ud itu.

Selanjutnya, raja dan presiden melakukan penanaman pohon di kompleks istana.

Setelah melakukan kunjungan kenegaraan, pada hari keempat, Raja Salman berlibur ke Bali.

Muchlis sempat diminta mendampingi sang raja pada hari pertama di Pulau Dewata itu.

Dia menerjemahkan apa yang disampaikan Raja Salman maupun pejabat Pemprov Bali. Minggu (5/3), tugas Muchlis selesai. Dia pun kembali ke Jakarta.

Pria yang menamatkan kuliah S-1 hingga S-3 di jurusan tafsir dan ilmu-ilmu Alquran di Universitas Al Azhar, Kairo, itu mengungkapkan, bisa menjadi penerjemah Raja Salman merupakan sebuah kebanggaan.

Sebelumnya, dia tidak membayangkan bisa menjadi penerjemah raja yang juga pelayan dua Tanah Suci itu.

’’Pengalaman ini sangat bersejarah dalam hidup saya,’’ papar pria kelahiran 18 Agustus 1971 tersebut.

Dia sangat terkesan pada Raja Salman. Ada empat hal yang didapatnya dari sang raja.

Menurut Muchlis, Raja Salman merupakan sosok yang friendly, humanis, humoris, dan religius.

Sisi humanis tampak saat jamuan minum teh di Hotel Raffles. Ketika Presiden Jokowi datang, raja turun menjemput presiden dan mengajaknya ke ruang jamuan.

Ketika pertemuan selesai, raja ikut mengantarkan presiden sampai lantai bawah.

Sementara itu, sisi friendly terlihat ketika Raja Salman berbincang dengan Menag Lukman Hakim di dalam mobil.

Walaupun seorang raja, dia begitu akrab dengan pejabat yang ditemuinya. Bahkan, Raja Salman-lah yang lebih banyak mengajak bicara. Dia, tampaknya, tidak menjaga jarak dengan orang yang ditemuinya.

Sisi humoris sang raja bisa dilihat ketika dia datang ke gedung DPR.

Saat itu, Raja Salman melihat sangat banyak anggota parlemen yang menyambutnya. Ruangan pun sesak dengan manusia.

’’Ini banyak sekali orang. Ditambah saya, pasti sudah kuorum,’’ tutur Muchlis menirukan pernyataan raja.

Begitu juga ketika bertemu dengan Presiden Jokowi. Saat berada di hotel, presiden bertanya kepada raja, apakah Raja Salman ingin jalan-jalan ke kota untuk belanja.

’’Saya ingin sekali, asalkan Anda mendampingi saya. Saya ke atas dulu ya, ganti baju,’’ ucap Raja Salman, lantas tertawa kecil.

Meski empat hari mendampingi Raja Salman, Muchlis mengaku tidak sempat berjabat tangan dengan sang raja.

Apalagi ber-selfie. Hal itu terjadi karena jadwal Raja Salman yang sangat padat sehingga dirinya tidak mungkin mendahulukan kepentingan pribadi.

Selain itu, tugasnya sebenarnya hanya membantu menerjemahkan percakapan raja dengan pejabat yang ditemui selama di Indonesia.

Muchlis menyatakan, walaupun ditunjuk sebagai penerjemah dadakan, dirinya tidak mengalami kesulitan berarti dalam menjalankan tugas. Sebab, dia sudah terbiasa menjadi penerjemah.

Pengalaman pertama menjadi penerjemah adalah ketika Muchlis menghadiri peringatan 80 tahun Pondok Pesantren Modern Gontor pada 2006.

Kala itu, dia juga menjadi penerjemah dadakan. Awalnya, dia hanya datang untuk menghadiri acara sebagai alumnus.

Saat itu, ungkap Muchlis, sebelum sampai di Gontor, dirinya dihubungi Menteri Agama M. Maftuh Basyuni.

Sang menteri hendak mengajak Muchlis menjemput tamu di bandara. Yaitu, Grand Syaikh Al Azhar Prof Dr M. Sayid Tantowi.

’’Tapi, waktu itu saya baru sampai di Solo. Maka, akhirnya Pak Maftuh mengajak ketemuan di Gontor saja,’’ tuturnya.

Hadir dalam peringatan 80 tahun Ponpes Modern Gontor itu, antara lain, Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah bertemu dengan Maftuh, Muchlis diminta menjadi penerjemah Presiden SBY dan Grand Syaikh Al Azhar Prof Dr Syaid Tantowi.

Dia kaget karena tidak sempat melakukan persiapan apa-apa. Bahkan, Muchlis hanya membawa baju lengan pendek untuk acara tersebut.

Anak M. Hanafi dan Siti Cholis itu pun lantas meminjam jas dan dasi kepada teman-temannya. Dia juga membeli kemeja seharga Rp 30 ribu.

’’Saya masih ingat sekali harganya,’’ ujar dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dari situlah nama Muchlis sebagai penerjemah andal dikenal Presiden SBY. Dia lantas sering diminta menjadi penerjemah di Istana Negara saat ada tamu dari Timur Tengah. Muchlis tidak hafal lagi berapa tamu yang pernah didampinginya.

’’Yang jelas, sudah puluhan tamu negara yang saya dampingi,’’ tandas dia. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Raja Salman Nyaman di Bali, Aparat Jangan Lalai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler