Digital Marketing Dorong Peningkatan Kelas Pengusaha UMKM

Sabtu, 03 November 2018 – 12:08 WIB
Anggota DPD RI GKR. Hemas saat jadi pemateri Sarasehan Pengembangan UMKM Dalam Menyongsong Pasar Global di Kampus STIE YKPN Yogyakarta, Kamis (1/1/2018). Foto: Humas DPD RI

jpnn.com, YOGYAKARTA - Anggota DPD RI GKR Hemas mengatakan kekhawatiran penurunan nilai tukar rupiah dapat diimbangi jika UMKM dijadikan fokus penguatan sebagai fondasi perekonomian Indonesia.

Hal tersebut disampaikan GKR. Hemas saat jadi pemateri Sarasehan Pengembangan UMKM Dalam Menyongsong Pasar Global di Kampus STIE YKPN Yogyakarta, Kamis (1/1/2018).

BACA JUGA: FJPI Gelar Seminar Perempuan Sumut Menuju Senayan

Menurut data dari Kemenko Perekonomian, Hemas menyebutkan profil ekonomi Indonesia terdiri dari perusahaan besar ada satu persen, perusahaan menengah ada 5,1 persen, dan perusahaan mikro dan kecil ada 93,4 persen. Artinya pelaku ekonomi UMKM menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kemajuan ekonomi di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah unit UMKM mencapai 56.534.592 unit atau 99,9 persen dari total unit usaha di Indonesia. Tenaga kerja yang mampu diserap UMKM lebih dari 107.657.509 orang atau sebesar 97,16 persen dari angkatan kerja.

BACA JUGA: Komite II DPD Berdukacita Atas Kecelakaan Pesawat Lion Air

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional adalah sebagai berikut, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak 61,41 persen terhadap Tenaga Kerja : 96,71 persen dan terhadap Ekspor Non Migas sebanyak 15,73 persen. Dengan demikian peran UMKM (terutama mikro dan kecil) tidak dapat diremehkan.

Namun, menurut Hemas, besarnya peranan UMKM dalam negeri akan sulit bersaing jika tidak ditopang dengan faktor lain, yakni memanfaatkan “digital marketing”. Pesatnya perkembangan teknologi, banyak dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi di banyak negara untuk memasarkan produknya lebih cepat, efisien, efektif, dan massif. Banyak orang menyebutnya sebagai revolusi digital, sehingga muncul istilah revolusi industri 4.0.

BACA JUGA: Muqowam: Pembangunan Infrastruktur Untuk Pemerataan Ekonomi

Tren ekonomi ini disebut juga era disruption, dimana model ekonomi konvensional digantikan dengan model ekonomi dengan teknologi yang sifatnya kreatif sekaligus destruktif. Model ekonomi digital yang lebih efisien, lebih bermanfaat, dan lebih murah ini telah menghancurkan model ekonomi konvensional. 

“Para pengusaha taksi konvensional mengeluh dan panik menghadapi Go-Car atau Grab. Para agen distributor konvensional di Jawa mengalami kerugian besar karena pasarnya secara tak terlihat diambil pelaku-pelaku bisnis masa kini seperti Bukalapak,” ujar Senator DIY.

Peserta Sarasehan

Hemas melanjutkan, era ekonomi digital ini sesungguhnya sangat menguntungkan pelaku ekonomi mikro ataupun kecil karena ekonomi digital tidak lagi membutuhkan gedung atau fasilitas kantor yang besar. Pelaku ekonomi kecil, meskipun di ujung desa jauh dari keramaian asalkan memiliki inovasi dan kreativitas dalam membuat produk serta handal dalam teknologi digital maka akan dikenal dan dicari orang. Sudah banyak pelaku ekonomi yang dijuluki “start-up”  memanfaatkan ekonomi digital dan sukses, tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang belum sukses.

“Namun demikian, eksistensi UMKM di Indonesia masih sangat perlu mendapatkan dukungan Pemerintah maupun stakeholder lainnya. Karena faktanya di lapangan, pelaku ekonomi Mikro dan Kecil Indonesia masih mengalami banyak kendala.

Menurut data BPS dan Kementerian Koperasi dan UMKM menyebutkan bahwa UMKM di Indonesia yang masih mengalami kesulitan ada sebesar 72,47 persen dan sementara yang sudah baik ada 27, 53 persen. Permasalahan yang dihadapi para UMKM antara lain Masalah permodalan, masalah akses pemasaran, persoalan bahan baku, teknologi dan manajemen. Dari semua permasalahan yang ada, yang paling utama adalah masalah pemasaran dan permodalan”, tegas Hemas.
 
Dunia digital akan menjadi poin krusial bagi seluruh aktivitas manusia, termasuk aktivitas bisnis. Pesatnya perkembangan teknologi, dunia digital dan internet tentu juga berimbas pada dunia pemasaran. Tren pemasaran di dunia beralih dari yang semula offline menjadi online. Artinya ada peluang besar bagi UMKM Indonesia untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi digital untuk mengatasi persoalan utamanya yakni “pemasaran”.

Pihak pemerintah daerah diharapkan juga dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan yang dapat memberdayakan UMKM terutama di bidang digital marketing.

Strategi digital marketing perlu diterapkan UMKM karena memungkinkan para calon pelanggan potensial untuk memperoleh segala macam informasi mengenai produk dan bertransaksi melalui internet. Setidaknya ada dua keuntungan penggunaan digital marketing, satu sisi, digital marketing memudahkan pebisnis memantau dan menyediakan segala kebutuhan dan keinginan calon konsumen, pada sisi lain calon konsumen juga bisa mencari dan mendapatkan informasi produk hanya dengan cara menjelajah dunia maya sehingga mempermudah proses pencariannya. Digital marketing, yang pasti dapat menjangkau seluruh masyarakat di manapun mereka berada tanpa ada lagi batasan geografis ataupun waktu.

“Ketika anda sebagai pelaku UMKM sudah berhasil menguasai pasar atau paling tidak mempunyai pasar yang menguntungkan maka modal yang dibutuhkan akan sangat mudah didapat. Modal itu sebenarnya bukan segala hal dalam bisnis. Ketika konsep bisnis anda bagus dan ketika dipraktekkan juga menunjukan yang baik maka  modal akan datang sendiri. Seperti GO-Jek, Bukalapak, Traveloka dan sebagainya,” pungkas Hemas, yang di akhir acara mendapatkan kejutan kue dan ucapan HUT dari panitia dan peserta sarasehan.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DPD RI Dorong Mahasiswa agar Memahami Politik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
DPD RI  

Terpopuler