Diplomatnya Diusir AS, Putin Malah Mengundang Pesta

Sabtu, 31 Desember 2016 – 10:01 WIB
Vladimir Putin. Foto; AFP

jpnn.com - JPNN.com - Presiden Rusia Vladimir Putin tetap kalem meski 35 diplomatnya diusir oleh Amerika Serikat. Putin bahkan menolak usulan Kementerian Luar Negeri untuk membalas aksi Paman Sam.

Jumat (30/12) kemarin, pemimpin 64 tahun itu menegaskan bahwa Rusia tidak akan balas mengusir diplomat AS. Sebaliknya, dia malah bakal mengundang para diplomat tersebut beserta keluarganya ke Kremlin.

BACA JUGA: Donald Trump Undang Tawa dan Ledekan Netizen

"Kami tidak akan mengusir siapa pun,’’ tegas Putin dalam pernyataan resmi.

Meski demikian, dia tidak bakal menghapuskan opsi balas dendam dari agenda politiknya. Dia memilih bersabar dan menunggu kebijakan Donald Trump. Sebab, dalam waktu kurang dari sebulan, Trump yang memegang kendali. Sebagai pengganti Presiden Barack Obama, taipan 70 tahun itu berhak merevisi kebijakan pendahulunya.

BACA JUGA: KZL! Israel Ngambek ke AS, Ini Sebabnya

"Kami memilih menunda hak Rusia untuk membalas (aksi diplomatik AS-Red). Kami tidak akan merendahkan diri dan ikut-ikutan melakukan aksi diplomatik murahan seperti ini,’’ kata Putin.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Rusia minta izin mengusir 35 diplomat AS sebagai balasan terhadap Washington. Mereka bertugas di Kedutaan Besar AS di Kota Moskow dan Konsulat AS di Kota St Petersburg.

BACA JUGA: Astaga, Bu Patricia Menikahi Putri Sendiri

Namun, Putin tidak merestui proposal yang diajukan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov tersebut. Padahal, sebelumnya kementerian sangat yakin sang presiden bakal mendukung rencana tersebut.

"Tentu kami tidak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja. Aksi balasan merupakan salah satu hukum wajib dalam diplomasi dan hubungan internasional,’’ ujar Lavrov.

Dalam siaran televisi nasional itu, Lavrov menepis tuduhan AS tentang peretasan surat elektronik (surel) Democratic National Committee (DNC) demi memenangkan Donald Trump dalam pilpres.

Dia menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak masuk akal. Rusia juga memerintahkan penutupan Anglo-American School di ibu kota. Di sekolah itulah, anak-anak diplomat dan staf Kedutaan Besar AS di Rusia menuntut ilmu.

Selain memerintahkan penutupan sekolah yang menjadi tempat belajar anak-anak diplomat Inggris dan Kanada tersebut, Rusia dikabarkan menutup akses menuju kedutaan besar di Rusia. Tetapi, Kementerian Luar Negeri Rusia membantah kabar tersebut.

Mereka menegaskan bahwa Moskow tidak memerintahkan penutupan sekolah atau akses menuju kedutaan.

Putin yang tidak mau membalas pengusiran diplomat Rusia dengan aksi senada menuturkan bahwa dirinya justru bakal mengundang para diplomat AS ke Kremlin. ’’Kami mengundang mereka semua dan keluarganya menghadiri pesta tahun baru,’’ ujarnya.

Sebanyak 35 diplomat yang Lavrov usulkan masuk daftar persona nongrata itu terdiri atas 31 staf kedutaan di Moskow dan 4 staf konsulat di St Petersburg.

Kemarin Kremlin menyebut keputusan Obama pada Kamis (29/12) sebagai tindakan tidak masuk akal. Apalagi, Moskow selalu membantah tudingan Washington bahwa merekalah yang mendalangi peretasan surel milik para pejabat DNC dan data riset Partai Demokrat terhadap Trump. Namun, Kremlin tidak mengambil tindakan sampai Trump dilantik menjadi pengganti Obama pada 20 Januari mendatang.

"Langkah selanjutnya menuju normalisasi hubungan Rusia-AS akan kami pikirkan bersama Presiden Trump,’’ ungkap Putin. Di Washington, Trump pun lantas sibuk. Dia langsung mengagendakan pertemuan dengan para petinggi intelijen AS demi membahas skandal yang membuat hubungan dua negara tegang tersebut. Sebagai sosok yang pro-Putin, Trump diyakini bakal membuat hubungan Washington dan Moskow lebih harmonis.

Pada Kamis lalu, Obama menetapkan 35 diplomat Rusia sebagai persona nongrata. Mereka dianggap terlibat dalam kasus pencurian data elektronik DNC menjelang pilpres lalu. Pemimpin 55 tahun yang masa jabatannya akan berakhir itu memberikan waktu 72 jam kepada 35 diplomat tersebut untuk hengkang dari AS. Selain itu, Obama menutup dua fasilitas milik Rusia di Negara Bagian Maryland dan New York.

Selain mengusir diplomat yang bertugas di Kota Washington dan San Francisco, presiden kulit hitam pertama Negeri Paman Sam itu menjatuhkan sanksi pada Rusia. Sanksi tersebut dijatuhkan terhadap badan intelijen dalam negeri Rusia dan badan intelijen militer Negeri Beruang Merah tersebut. Para pengamat AS menyebut langkah Obama itu sebagai yang paling tegas sejak berakhirnya Perang Dingin dua negara.

"Saya sudah menetapkan sejumlah langkah sebagai bentuk reaksi kami atas aksi agresif pemerintah Rusia terhadap beberapa pejabat AS serta pilpres lalu,’’ tegas Obama dalam pernyataan tertulis pada Kamis lalu. Seiring keputusan itu, Washington juga membeberkan informasi teknis tentang aktivitas cyber Rusia. Tujuannya, perusahaan AS bisa mengamankan data elektronik.

Obama sengaja membagikan informasi penting tentang perilaku Rusia di dunia maya tersebut agar sekutu-sekutunya waspada. Khususnya Jerman, Prancis, dan Belanda yang juga mengadakan pemilihan pemimpin dalam waktu dekat. ’’AS dan sekutunya serta seluruh mitranya di seluruh dunia harus bisa bekerja sama demi menghindari ancaman cyber Rusia,’’ katanya.

Bersamaan dengan itu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Evgeniy Bogachev dan Aleksey Belan. Dua warga Rusia tersebut diyakini terlibat dalam pencurian data. Berdasar sanksi itu, AS akan membekukan seluruh aset milik dua individu tersebut di wilayahnya. Selain itu, Washington berhak mencegah perusahaan atau pebisnis AS bekerja sama dengan Bogachev dan Belan.

Sejak tuduhan peretasan muncul, Kremlin selalu membantah. Moskow mengaku tidak pernah cawe-cawe urusan dalam negeri AS. Tetapi, Washington tidak percaya begitu saja. Apalagi, sebelumnya AS menangkap warga negara Rusia yang mencuri data elektronik beberapa perusahaan besar.

"Ini hanya upaya Obama untuk menghancurkan hubungan AS-Rusia yang sudah tidak baik,’’ kata Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin. (afp/reuters/bbc/hep/c14/any/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pria Shandong Jemput Pengantin Rusia dengan 30 Mobil Mewah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler