Ditabrak Kereta, Siswa SMA Masih Hidup, Ini Kata Ahli Kejiwaan

Selasa, 24 Mei 2016 – 08:51 WIB
Ilustrasi. dok/jawaposgroup

jpnn.com - KEJADIAN yang dialami Alvin, siswa SMAN 5 Surabaya yang selamat setelah ditabrak kereta, di sekitar Stasiun Gubeng Surabaya, Senin (23/5) bisa menjadi peringatan bagi guru dan orang tua. Dari kejadian itu, guru dan orang tua seharusnya lebih peduli dan mengenal anak. Beban berlebihan di sekolah ternyata bisa berujung pada kondisi depresi.

Hal itu mungkin menjadi penyebab Alvin nekat berdiri menantang rel kereta api. 

BACA JUGA: Mengejutkan, Inilah Hasil Operasi Selama Sepekan

Spesialis kejiwaan RSJ Menur dr Hendro Riyanto SpKJ mengungkapkan, selama ini beban sekolah menjadi salah satu penyebab stres pada anak dan remaja. 

Lantaran tekanan yang sangat kuat, anak menunjukkan gejala depresi. Misalnya, muncul kekhawatiran dan rasa takut yang terlalu besar. 

BACA JUGA: Malangnya Yanti, Bangun Pagi Lihat Anak Tewas di Kamar Mandi

Gejalanya, anak menjadi gampang bengong dan sering melamun serta pikirannya kacau. "Lama-lama seperti tidak sadar. Seperti kesurupan sementara," ujarnya kemarin (23/5).

Menurut Hendro, kondisi tersebut dikenal sebagai kesadaran berkabut. Yakni, kesadaran seseorang menurun. Para penyandangnya sudah tidak mampu berpikir jernih. Selain menunjukkan gejala bengong, ada yang justru mengungkapkan dengan cara berteriak-teriak. Bergantung kepribadiannya.

BACA JUGA: Ajaib... Ditabrak dan Terseret Kereta, Siswa SMA Masih Hidup

Jika ada gejala itu, sebaiknya orang tua lebih peduli. Caranya, bisa dengan menanyai anak. Selanjutnya, bila perlu, anak dibawa ke psikiater. Dokter akan memberikan terapi nonobat. 

"Selama ini masih jarang yang mau berobat. Merasa tidak apa-apa. Jangan tunggu sampai berat," tutur dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala (UWM) Surabaya tersebut.

Yang tak kalah penting adalah kesadaran guru. Pendidik sebaiknya tidak memberikan beban yang terlalu berat kepada siswa. Bila melihat murid tidak mampu mengikuti pelajaran, sang guru harus memberikan perhatian khusus. "Diberi pembelajaran lebih," ucapnya. 

Hendro menambahkan, sebenarnya tidak setiap anak akan mengalami depresi saat menghadapi tekanan. Ada yang bisa melewatinya. Karena itu, orang tua dan sekolah bisa memberikan pelatihan mental bagi murid untuk menghadapi beban. "Melatih kepribadiannya juga, bukan cuma mata pelajaran." 

Spesialis kesehatan jiwa RSUD dr Soetomo Surabaya dr Yunias Setiawati SpKJ(K) menambahkan, salah satu penyebab anak mengalami depresi adalah tekanan dan tuntutan diri sendiri yang sangat tinggi. Misalnya, anak sekolah dituntut mendapat nilai bagus. Nah, selama belum mencapai tujuan itu, mereka menghadapi kendala. 

Seperti diberitakan, siswa SMAN 5 Surabaya, Alvin Ananda Siregar seharusnya mengerjakan soal ujian bahasa Indonesia dan kesenian di sekolahnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Secara tidak sadar, dia menabrakkan diri ke KA Sancaka yang hendak masuk Stasiun Gubeng.

Peristiwa itu terjadi di dekat palang pintu lintasan Jalan Ambengan. Persisnya di rel kereta api depan Jalan Kanginan DKA. Johan, warga sekitar, sempat melihat korban duduk di pinggir rel depan rumahnya sambil memainkan handphone.

''Dia diam saja. Memang seperti orang bingung. Saya juga tidak sempat menegur,'' kata Johan.

Kereta api jurusan Jogjakarta tersebut benar-benar menabrak Alvin. Bahkan menurut beberapa saksi mata, tubuh Alvin sempat terseret 15 meter.  Beruntung, nyawa remaja berusia 16 tahun itu tidak sampai melayang. (nir/c9/fat)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ingat! Setahun PNS Harus Kerja 6 Ribu Menit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler