Ditinggal Orangtua Kerja Berbulan-bulan, Empat Bocah Ini Bunuh Diri Minum Pestisida

Sabtu, 13 Juni 2015 – 21:15 WIB

jpnn.com - BEIJING - Empat bersaudara di Kota Bijie, Provinsi Guizhou, Tiongkok, tewas bunuh diri setelah berbulan-bulan ditinggal orang tuanya bekerja. Akibatnya Jumat (12/6) Beijing menjatuhkan sanksi kepada lima pejabat setempat.  

Empat bersaudara yang berusia 5-14 tahun itu diduga menenggak racun pada Selasa malam waktu setempat (9/6). Tetapi, para tetangga baru menemukan mereka esok paginya atau Rabu (10/6). Saat itu si bocah lelaki dan tiga adik perempuannya tersebut berjuang melawan maut. Mereka kejang-kejang. Para tetangga pun segera melarikan keempatnya ke rumah sakit.
  
"Begitu tiba di rumah sakit, empat bocah itu sudah tidak bernyawa," kata seorang pejabat Bijie sebagaimana dilansir Kantor Berita Xinhua. Hasil investigasi awal menyebutkan bahwa mereka tewas karena pestisida. Diduga, si sulung mengajak adik-adiknya mengonsumsi pestisida untuk mengakhiri hidup bersama-sama. Sebelumnya, bocah lelaki yang beranjak remaja tersebut juga pernah berusaha bunuh diri.

BACA JUGA: Air India Membantah Sajikan Cecak dalam Makanan di Pesawat

Media Tiongkok menyebut empat bocah malang itu sebagai anak-anak telantar. Masalah domestik dan tuntutan ekonomi memaksa orang tua empat bocah tersebut meninggalkan anak-anak mereka sendirian. Sang ibu meninggalkan rumah pada Februari 2013 setelah bertengkar hebat dengan suaminya. Pertengkaran yang berakhir dengan tindak kekerasan itu membuat si ibu nekat angkat kaki dari rumah.
  
Selanjutnya, selama sekitar dua tahun, empat anak tersebut tinggal bersama sang ayah saja. Mereka terpaksa hidup seadanya dan putus sekolah. Maret lalu, Zhang Fangqi, sang ayah, meninggalkan rumah untuk bekerja di kota lain. Secara berkala, dia mengirimkan uang kepada empat anaknya. Tetapi, dia tidak pernah pulang ke rumah atau menjenguk buah hatinya.

BACA JUGA: Astaga... Cecak Ini Ada dalam Makanan Penumpang Pesawat Air India

Kendati punya uang, empat bocah itu hidup dalam tekanan. Tumbuh sebagai anak-anak yang tidak merasakan kasih sayang dan bimbingan orang tua, tampaknya, terlalu berat untuk mereka jalani. Empat bocah itu diduga depresi, terutama si sulung. Sebab, mereka tidak tahu harus ke mana mencari ayah dan ibu yang sudah meninggalkan rumah.
  
Kehadiran orang tua, menurut All-China Women’s Federation, sangat penting bagi anak. Empat bocah nahas tersebut, misalnya. Si sulung yang pernah kena hukuman berdiri telanjang menantang terik matahari pun tetap ingin hidup bersama orangtuanya. Tanpa orangtua yang mendidik dan kadang-kadang memarahi serta menghukumnya, si sulung ternyata tidak sanggup melanjutkan hidup.

BACA JUGA: Tony Abbott Bantah Pengusiran Kapal Pencari Suaka dengan Cara Menyuap Kru Rp 66 Juta

Menurut seorang kerabat dekat Zhang, si sulung pernah meninggalkan rumah pada Agustus 2012. "Dia pergi selama 10 hari. Ketika pulang, dia mendapat hukuman berjemur telanjang selama sekitar dua jam," terangnya sebagaimana dikutip seorang pejabat lokal Partai Komunis Cina. Si sulung, lanjut dia, juga pernah mengalami tindak kekerasan dari sang ayah sampai patah tulang dan cedera telinga serius.
  
Tragedi kemanusiaan di Bijie itu memantik simpati publik. Perdana Menteri (PM) Li Keqiang pun angkat bicara. "Tragedi seperti ini harus segera kita akhiri. Seluruh pejabat lokal yang mengabaikan fenomena seperti yang dialami empat bocah tersebut layak mendapat hukuman," ungkapnya. Jumat, lima pejabat Bijie dikenai sanksi berat. Mereka dipecat dari jabatannya karena dianggap tidak peduli terhadap warga.

All-China Women’s Federation menyatakan bahwa fenomena keluarga tanpa orangtua atau anak-anak telantar itu kian marak di Tiongkok. Saat ini lebih dari 60 juta anak-anak hidup tanpa orangtuanya. Rata-rata mereka dititipkan kepada kakek nenek atau paman bibi di kampung halaman. Bahkan, 3,4 persen di antaranya harus hidup sendiri tanpa orangtua atau kerabat.
  
"Melonjaknya jumlah angkatan kerja yang mencari nafkah di luar kota melahirkan generasi anak-anak telantar yang tinggal di kampung halaman agar bisa mengenyam pendidikan murah," terang juru bicara federasi yang berkantor pusat di Kota Beijing tersebut. Biasanya, orang tua hanya mengirimkan uang untuk keberlangsungan hidup anak-anak mereka di kampung.(ap/afp/hep/c19/ami)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inflasi Berlebihan, Mata Uang Zimbabwe Tak Bernilai, Uang pun Dijual ke Turis sebagai Suvenir


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler