Ditjen Hortikultura Dukung Penggunaan Pestisida Ramah Lingkungan

Rabu, 07 Juli 2021 – 13:50 WIB
Pestisida alami yang ramah lingkungan. Foto: Ditjen Hortikultura

jpnn.com, JAKARTA - Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto menyatakan pihaknya mendorong program Gerakan Mendorong Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura (GEDOR HORTI) melalui pengembangan Kampung Hortikultura.

Prihasto menjelaskan pengelolaan OPT hortikultura ramah lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian Kampung Hortikultura berdaya saing, berkualitas baik, dan minim residu pestisida.

BACA JUGA: Bawang Merah dan Cabai Rawit Rubaru, Potensi Andalan Hortikultura Sumenep

Penggunaan pestisida kimia sintetis diharapkan mulai dikurangi.

“Kenapa tidak dimanfaatkan dan olah bahan-bahan alami untuk membuat pestisida nabati sendiri? Kami tidak ingin produk hortikultura Indonesia tercemar oleh pestisida kimia, padahal kita juga mengonsumsinya,” sambung pria yang sering disapa Anton itu.

BACA JUGA: Ditjen Hortikultura Kementan Kucurkan Bantuan Demi Menggenjot Produksi Bawang Putih

Pihaknya juga akan menggiring perubahan konsepsi pengelolaan hortikultura melalui pengembangan Kampung Hortikultura. Kampung Hortikultura ini terkonsentrasi di suatu lokasi perkampungan, satu desa satu komoditas (one village on product).

"Selanjutnya kampung- kampung ini berkembang menjadi kampung manggis, kampung durian dan kampung hortikultura lainnya,” ungkap Anton.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi menyatakan Ditjen Hortikultura siap mendukung pengelolaan OPT di lapangan sesuai prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).

BACA JUGA: Kementan Bakal Bangun Food Estate Berbasis Hortikultura di Pulau Jawa

Secara praktiknya, pelaksanaan pengelolaan OPT membutuhkan kerja sama berbagai pihak di pemerintahan pusat maupun daerah, petani, dan pelaku usaha hortikultura.

“Saat ini kami sedang berupaya memperkuat kelembagaan perlindungan hortikultura di lapangan, khususnya laboratorium pengamatan hama dan penyakit, laboratorium agens hayati dan Klinik PHT," kata Inti.

Klinik PHT tersebut, lanjut dia, berhubungan langsung dengan petani, sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik.

"Salah satunya dalam penyediaan bahan pengendali yang ramah lingkungan bagi petani,” ujarnya.

Inti menerangkan penerapan PHT yang dimaksud terhitung mulai dari budi daya tanaman sehat, pengamatan OPT, pemanfaatan agens hayati, dan musuh alami serta terus mengajak petani mempraktikkan PHT langsung di lahannya.

Pakar hama dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Andi Trisyono menyatakan apa yang terjadi di masa mendatang mungkin akan sama dengan yang dihadapi saat ini, jika tidak ada perubahan mulai dari sekarang.

"Misalnya terkait dengan pestisida. Sebagai langkah awal harus memperbaiki cara penggunaan pestisida yang benar sesuai anjuran. Tidak menggunakan pestisida kalau tidak perlu,” jelas Andi.

Seperti diketahui, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo selalu menginginkan jajarannya tetap bekerja seoptimal mungkin guna melakukan pengawalan terhadap komoditas hortikultura meski di tengah pandemi Covid-19.

Walaupun kegiatan pertemuan langsung dikurangi, Ditjen Hortikultura tetap memfasilitasi bimbingan teknis (bimtek) kepada petugas maupun petani.

Kali ini bimtek mengambil tajuk Pengelolaan OPT Hortikultura Ramah Lingkungan melalui Penerapan PHT. Bimtek tersebut diikuti oleh 1000 orang dalam zoom meeting dan 2.545 viewers pada channel Youtube Pustaka Kementan.

Sejauh ini permintaan produk hortikultura di Indonesia sangat tinggi, baik untuk dalam negeri maupun ekspor.

Kondisi yang terjadi di lapangan, pelaku usaha sering mengalami kesulitan karena keterbatasan volume produksi dan akses lokasi sentra produksi.

Senada, petugas Pengendali OPT Madya Yogyakarta, Paryoto menyebutkan pertanian ramah lingkungan tidak hanya berfokus untuk mencapai produksi yang tinggi saja.

Di dalamnya harus mengandung komitmen dalam menjaga keberlanjutan agroekosistem dan efisiensi biaya.

“Petani memerlukan pendampingan yang tulus. POPT dan petugas lainnya dapat berperan sebagai fasilitator agar kelompok tani bisa mandiri.”, tukasnya.

Pestisida Nabati Sebagai Bahan Pengendali OPT Ramah Lingkungan

Dosen sekaligus pengelola Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) Bonjok mengungkapkan secara umum pestisida nabati sangat berpotensi digunakan dalam pengelolaan OPT.

Walaupun cenderung terlihat kurang efektif dibanding pestisida kimia sintetis, pestisida nabati berisiko minimal terhadap agroekosistem dan berpeluang rendah dalam menyebabkan resistensi hama.

Dia menyebutkan sumber pestisida nabati ada banyak. Beberapa bahan pestisida nabati biasanya tanaman rimpang seperti lengkuas, tanaman yang berbau menyengat, minyak esensial, dan sebagainya tergantung OPT sasaran.

"Jangan khawatir jika hama tidak langsung terlihat mati. Memang efek pestisida nabati bermacam-macam, misalnya mengurangi kemampuan makan atau kemampuan bertelur,” papar Bonjok.

Masih banyak tantangan dalam pengelolaan OPT ramah lingkungan terutama dalam hal teknis seperti sosialisasi dan pendampingan petani serta penyediaan bahan pengendali ramah lingkungan.

"Meskipun demikian, diharapkan penerapan PHT dapat dilaksanakan dengan baik di lapangan untuk kemaslahatan umat," tegas Bonjok. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler