Donald Trump Dikeroyok Pejabat Inggris di Twitter

Jumat, 01 Desember 2017 – 12:46 WIB
Akun Donald Trump. Foto: Twitter

jpnn.com - Tidak hanya dengan para seteru Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump pun pandai memancing masalah dengan sekutu-sekutunya. Lewat Twitter, tentu saja.

Kali ini giliran Inggris yang jadi sasaran. Akibatnya, taipan 71 tahun tersebut terlibat adu argumen dengan Perdana Menteri (PM) Theresa May di jagat maya.

BACA JUGA: Andalkan Duta Damai Lawan Penyebaran Terorisme di Dunia Maya

Rabu (29/11) Trump mengunggah ulang tiga video yang sebelumnya diunggah Wakil Ketua Partai Britain First Jayda Fransen. Partai itu memang dikenal sangat antimuslim dan anti-imigran.

Tiga video tersebut berisi aktivitas tidak terpuji individu atau kelompok muslim. ’’Tidak seharusnya seorang presiden melakukan semua itu,’’ kata James Slack, kepala humas sekaligus jubir Downing Street 10. Dia mewakili May yang sedang melawat ke Timur Tengah.

BACA JUGA: Pangeran Muhammad: Terorisme Ancaman Terbesar Islam

Komentar Slack tersebut membuat Trump tersinggung. Presiden ke-45 AS yang tidak bisa lepas dari Twitter itu pun langsung berkomentar balik.

’’Jangan fokus kepada saya. Fokus saja pada terorisme Islam radikal yang destruktif dan mulai mengambil alih Inggris. Kami baik-baik saja dengan semua itu,’’ cuit ayah Ivanka tersebut.

BACA JUGA: Mengaku Pencipta Selfie, Paris Hilton Habis Di-bully

Sayang, cuitan yang sarat sindiran itu Trump alamatkan ke akun @theresamay. Padahal, itu bukan akun resmi May. Saat ditelusuri, pemilik akun @theresamay adalah orang lain yang kebetulan punya nama depan dan tengah yang sama, sedangkan nama keluarga alias nama belakangnya berbeda.

Akun tersebut juga hanya punya enam follower. Begitu menyadari kesalahannya, Trump langsung menghapus cuitan itu.

Dia lantas mengirim ulang cuitannya tersebut ke @theresa_may yang merupakan akun resmi May. Dalam hitungan detik, cuitan itu dibaca sekitar 426.000 follower sang PM.

Termasuk Wali Kota London Sadiq Khan, Menteri Dalam Negeri Amber Rudd, dan sejumlah politisi pemerintah yang duduk di parlemen. Mereka tidak terima dengan penilaian Trump dan langsung menumpahkan amarah mereka di Twitter.

’’Setiap hari terjadi penembakan masal di negara Anda. Angka pembunuhan di sana berkali lipat lebih banyak daripada Inggris. Skema asuransi kesehatan di negeri Anda memalukan. Anda juga tidak berhasil meloloskan gagasan Anda di Kongres yang dikuasai partai Anda,’’ tulis Brendan Cox, suami Jo Cox, politikus Inggris yang dibunuh ekstremis sayap kanan pada 2016, lewat akun pribadinya.

Menteri Urusan Pemerintah dan Masyarakat Lokal Sajid Javid juga mengecam Trump lewat Twitter.

’’Jadi, POTUS (President of the United States) lebih mendukung ideologi organisasi rasis yang mendasarkan pandangannya pada kebencian dan permusuhan seperti itu. Mereka membenci saya dan kaum saya,’’ kata politikus muslim tersebut. Dia merasa terhina dan tidak akan diam saja.

Lebih ekstrem daripada Cox atau Javid, Khan mendesak May membatalkan undangan untuk Trump. ’’Setelah insiden ini, jadi lebih jelas bahwa Inggris tidak memerlukan kunjungan kenegaraan Presiden Trump,’’ tulis wali kota muslim pertama London itu di Twitter.

Dia lantas mengimbau May membatalkan undangan tersebut. Dia yakin sebagian besar publik Inggris sepakat dengan dirinya.

Ketua Partai Demokrat Liberal Vince Cable juga mendesak May bersikap tegas terhadap Trump. ’’Beliau harus bisa membuat Trump minta maaf secara terbuka kepada publik Inggris atas penghinaan yang dilakukannya itu,’’ ungkapnya.

Di Twitter, dia juga menyarankan Downing Street 10 membatalkan undangan untuk Trump yang disampaikan May saat melawat ke Gedung Putih pada Januari lalu.

Rudd menegaskan bahwa tindakan Trump yang mengunggah ulang tiga video kontroversial tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Namun, mengenai usul untuk membatalkan undangan, dia menyatakan bahwa undangan yang dikirim dan dijawab tidak bisa dicabut.

’’Saya harap Presiden Trump mau mendengarkan keberatan PM May nanti,’’ kata Rudd. May bakal menanggapi polemik itu dari Jordania.

Dalam rapat dengan parlemen di ibu kota, Rudd menanggapi saran yang diajukan Peter Bone. Politikus konservatif tersebut mendesak May agar memberitahukan kepada Trump untuk menghapus akun Twitter-nya.

Rudd berjanji mengangkat wacana itu dalam pertemuan dengan May. ’’Saya yakin sebagian besar di antara kami punya pendapat yang sama,’’ ujarnya.

Satu-satunya politikus Inggris yang bangga dengan sikap Trump adalah Fransen. Perempuan yang bulan lalu terbukti melakukan kekerasan terhadap seorang muslimah tersebut menyambut baik penayangan ulang tiga video itu kepada sekitar 43,6 juta follower sang presiden.

Polemik yang bisa membuat hubungan Inggris dan AS retak tersebut bersumber pada tiga video. Pada video pertama, tampak seorang muslim yang diklaim sebagai imigran menyerang pemuda Belanda yang memakai kruk. Lewat video itu, Britain First dan Trump berusaha menyajikan bukti tentang kejahatan dan ancaman bahaya dari para pengungsi.

Namun, tak lama setelah video tersebut tersebar luas, Dutch Public Prosecution Service meluruskan keterangan tentang imigran muslim.

’’Fakta adalah sesuatu yang penting. Pelaku dalam video itu lahir dan besar di Belanda. Dia bukan imigran. Kini dia menjalani hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku di Belanda untuk warganya,’’ demikian keterangan Kedutaan Besar Belanda di Kota Washington.

Pada video kedua, terlihat seorang pria yang merusak patung Bunda Maria. Video yang beredar di YouTube sejak 2013 tersebut disebut-sebut berlokasi di Syria.

Selanjutnya, video ketiga dicuplik dari kerusuhan di Mesir pasca pelengseran Muhammad Mursi pada 2013. Di situ terlihat seorang pria didorong dari atap gedung di Kota Alexandria. Pelakunya lagi-lagi diklaim sebagai seorang muslim. (AP/Reuters/BBC/hep/c22/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... BNPT dan PPATK Fokus Putus Rantai Pendanaan Terorisme


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler