DPR Minta Kementan Lakukan Terobosan yang Tidak Biasa

Selasa, 07 Juli 2020 – 18:59 WIB
Syahrul Yasin Limpo. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komisi IV DPR Sudin mengatakan bahwa menjaga ketersediaan produksi komoditas pertanian merupakan hal pokok dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menurut Sudin, bila berbicara tentang ketahanan pangan maka institusi yang paling bertanggung jawab ialah Kementerian Pertanian (Kementan).

BACA JUGA: Respons Mentan Syahrul Saat Kalung Antivirus Corona Jadi Polemik

Sebab, kata Sudin, tugas pokok dan fungsi utama Kementan ialah memproduksi hasil pertanian untuk kebutuhan pangan.

"Bertitik tolak pada hal tersebut maka Komisi IV DPR meminta Kementerian Pertanian melakukan terobosan meningkatkan produksi dengan menerapkan strategi yang tidak biasa," kata Sudin saat rapat kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dan jajaran, Selasa (7/7).

BACA JUGA: Cerita di Balik Penemuan Kalung Antivirus Corona

Bukan tanpa alasan Sudin berkata demikian. Politikus PDI Perjuangan itu menyatakan bahwa peningkatan produksi di situasi sekarang memerlukan pola pikir yang tidak biasa dan out of the box.

Mulai dari perencanaan, kegiatan, program utama sampai mewujudkannya dengan dukungan anggaran yang terbatas.

BACA JUGA: Kalung Antivirus Corona Jadi Ejekan, Fahri Hamzah Bela Kementan

Sudin mengatakan bahwa masih segar dalam ingatan bahwa setiap orang yang dipercaya menjadi menteri pertanian, selalu mencanangkan swasembada beberapa komoditas.

"Namun, hingga saat ini kita masih memperbincangkan dan mempertanyakan realisasi swasembada tersebut," ungkap Sudin.

Karena itu, Sudin meminta dalam sisa waktu enam bulan ke depan, Komisi IV DPR meminta Kementan memacu pelaksanaan program kegiatan, terutama peningkatan produksi.

"Kegiatan-kegiatan lain yang tidak relevan atau kurang mendukung produksi secara langsung sebaiknya tidak dilaksanakan," pesan Sudin.

Dia mengatakan bahwa semua berpacu pada waktu. Karena itu, kata dia, jangan sampai
Kementan melakukan kesalahan dalam mengimplementasikan kegiatan yang mengakibatkan kegagalan berproduksi. "Pada akhirnya, mencapai kegagalan dalam target produksi swasembada. Oleh karena itu, perlu evaluasi cermat," katanya. (boy/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler