Dua Kecamatan di Magetan Dilanda Krisis Air Bersih

Senin, 09 Juli 2018 – 00:06 WIB
Warga antre air bersih. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, MAGETAN - Krisis air bersih pada musim kemarau ini sudah melanda dua kecamatan di Magetan, Jatim. Ketiga desa itu, yakni, Trosono dan Sayutan (Kecamatan Parang) serta Kuwon (Kecamatan Karas).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan sudah siap-siap melakukan dropping air bersih untuk ketiga desa tersebut. ‘’Dropping air kami prediksi akan mulai bulan ini,’’ jelas Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan, Fery Yoga Saputra.

BACA JUGA: Ratusan Warga Krisis Air karena Banjir Bandang

Prediksi itu lantaran dua kabupaten tetangga sudah mula mengalami kekeringan. Yakni, Pacitan dan Ponorogo. Sehingga, sudah dipastikan akan merembet ke Magetan. Agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pelayanan air bersih, harus diantisipasi sebelum keberadaan air itu benar-benar langka.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan PDAM Tirta Darma pun dilibatkan. ‘’Karena kemungkinan kekeringan itu akan meluas, sesuai surat edaran BMKG (badan meteorologi, klimatologi dan geofisika),’’ terangnya.

BACA JUGA: 6 Tips Kulit Tetap Sehat dan Mulus di Musim Kemarau

Armada yang bakal digunakan untuk dropping air bersih itu pun sudah disiapkan. Ada dua mobil tangki dengan kapasitas 6.000 liter yang kini dimiliki BPBD Magetan. Satu armada diparkir di halaman BPBD, sedangkan satu unit lainnya di kantor Dinas Sosial (Dinsos).

Kapanpun warga meminta dropping air itu, langsung akan diterjunkan personel. BPBD juga sudah menyiapkan 12 tandon air dengan kapasitas 2.300 liter. ‘’Semuanya dalam kondisi ready,’’ terangnya.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Ada Sumur di Areal Masjid tak Pernah Kering

Fery memprediksi untuk setiap kali dropping air kali ini membutuhkan 3 tangki sekaligus. Itu menyesuaikan kebutuhan air setiap jiwanya. Jumlah itu diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Tahun lalu hanya sekitar 15 tangki air yang di-dropping kepada warga. Sebab, kemarau tahun lalu terbilang lebih singkat dibandingkan tahun ini. ‘’Kami akan upayakan dropping air semaksimal mungkin,’’ terangnya.

Dropping air itu lebih diutamakan bagi desa–desa yang memang tidak terjangkau oleh layanan PDAM. Sehingga, tanpa dropping air dari BPBD, pastilah warga kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu tentunya harus diantisipasi lebih awal. Mengingat, kebutuhan air di setiap desa berbeda.

Tidak tergantung pada jumlah kartu keluarga (KK), melainkan dihitung hingga ke setiap jiwanya. ‘’Yang jelas, akan kami dahulukan daerah yang tidak terlayani PDAM,’’ terangnya.

Namun, bukan berarti daerah yang terjangkau dengan layanan PDAM akan aman-aman saja. Kemarau rupanya juga mengancam mereka. Seperti di Kecamatan Ngariboyo. BPBD sudah berkoordinasi dengan pihak PDAM. Agar semua desa tetap mendapatkan layanan air bersih itu, maka dilakukan secara bergiliran. Sehingga, terkadang aliran air di satu desa itu akan mati untuk sesaat. Agar desa lain bisa mendapatkan air bersih. ‘’Back up dari PDAM sangat membantu,’’ pungkasnya. (bel/rif)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polres Kirim Air Bersih untuk Korban Bencana Kekeringan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler