Duel Akademi Ajax dan Barcelona

Bertemu sebagai Buah Revolusi Total Football

Minggu, 11 Juli 2010 – 10:24 WIB
ALUMNUS - Rafael van der Vaart (Belanda) dan Cesc Fabregas (Spanyol), dua lulusan dari akademi sepakbola terkemuka di negerinya masing-masing. Foto: FIFA.com.
Duel Spanyol versus Belanda dianggap sebagai final idealSebab, selain menampilkan permainan atraktif sejak babak penyisihan grup, duel keduanya juga merupakan buah sukses dari pembinaan di akademi sepak bola terkemuka yang ada di dua negara tersebut.

YA
, jika diteliti lebih dalam, pertemuan La Furia Roja (sebutan timnas Spanyol) versus The Oranje (sebutan timnas Belanda) dini hari nanti, tak ubahnya pertarungan antara dua akademi sepak bola yang kerap melahirkan pemain kaliber dunia

BACA JUGA: Dukungan Kerajaan untuk Finalis

Yaitu akademi sepak bola Barcelona dan Ajax Amsterdam
Dalam skuad kedua tim di Piala Dunia 2010, tercatat ada 17 pemain jebolan dua akademi itu.   

Di timnas Spanyol saat ini, ada delapan lulusan akademi sepak bola Barcelona

BACA JUGA: Belanda Didukung Penuh Afrikaners

Mereka adalah Victor Valdes, Gerard Pique, Carles Puyol, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Pedro Rodriguez, serta Cesc Fabregas
Sementara, di timnas Belanda bercokol sembilan pemain jebolan SSB Ajax

BACA JUGA: Fans Sudah Lupakan Senna

Mereka adalah Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Klaas-Jan Huntelaar, Eljero Elia, John Heitinga, Nigel de Jong, Maarten Stekelenburg, Gregory van der Wiel, serta Ryan Babel.

"Kami bisa solid, karena mayoritas pemain Spanyol berasal dari satu akademi (Barcelona)," cetus Puyol kepada Marca.

Bertemunya Spanyol dan Belanda di partai puncak ini pun, tak ubahnya buah dari revolusi total footballPencetus gaya ini adalah pelatih asal Inggris, Jack Reynolds, yang mengarsiteki Ajax di era 1915-1925, 1928-1940, dan 1945-1947.

Salah satu pemain andalan Reynolds adalah Rinus Michels, yang kemudian memoles gaya total football dengan lebih elegan ketika menjadi pelatihStrategi Michels itu akhirnya menurun pada salah satu pemainnya, Johan CruyffMichels adalah salah satu legenda Ajax yang pernah melatih Ajax Amsterdam dan BarcelonaSedangkan Cruyff, bahkan mencatatkan dirinya sebagai legenda di kedua klub itu, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Saat menjadi pemain Ajax, Cruyff pernah delapan kali mempersembahkan gelar Eredivisie (1966, 1967, 1968, 1970, 1972, 1973, 1982 dan 1983)Sementara, ketika bermain untuk Barcelona, Cruyff mempersembahkan gelar Liga Primera di musim 1974 dan Copa del Rey musim 1978Nah, sosok Michels dan Cruyff inilah yang berjasa besar menyebarkan "virus" total football ke Ajax Amsterdam dan FC Barcelona.

Sekarang, virus itu mengilhami permainan Spanyol dan dan BelandaKetika dipercaya menjadi pelatih Barcelona pada 1988-1996, yang akhirnya mencatatkan dirinya sebagai manajer tersukses dan terlama di Nou Camp (markas Barcelona), Cruyff berhasil membentuk The Dream Team dengan gaya main total footballBelasan trofi bergengsi pun berhasil diraihHal sama sebelumnya diterapkan Cruyff saat melatih Ajax Amsterdam (1985-1988).

Lebih jauh, ketika menjadi manajer Barcelona, salah satu pemain kesayangan Cruyff adalah Josep GuardiolaGuardiola akhirnya juga berhasil menjadi pelatih sukses, ketika dipercaya menjadi pelatih Barcelona pada dua tahun terakhirDan anak buah Guardiola inilah yang saat ini menjadi tulang punggung Spanyol di Piala Dunia 2010.

"Final Piala Dunia 2010 akan menjadi penegasan tentang filosofi total football yang lahir sekitar 40 tahun lalu di Amsterdam," kata Barry Hulshoff, mantan rekan satu tim Cruyff ketika bermain di Ajax"Kami sering berdiskusiCruyff selalu bicara tentang pemain ke mana harusnya berlari, bediri, dan kapan untuk tidak bergerak dari posisinya," sambungnya(ali/bas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Demi Selebrasi, Bronckhorst Siap Disanksi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler