Dulu Guru Dianggap Sosok Paling Tahu, Sekarang Tidak Lagi

Selasa, 09 Oktober 2018 – 18:31 WIB
Siswa SD Global Sevilla Puri diajari mindfulness agar lebih fokus. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Guru era milenial harus lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Bukan zamannya lagi guru merasa paling tahu sehingga siswa harus tunduk serta mendengarkan "ceramah" tanpa diberikan kesempatan untuk melontarkan ide-idenya.

"Tantangan guru saat ini lebih berat dibanding zaman dulu. Dulu guru itu sosok yang dianggap paling tahu, sekarang enggak lagi. Banyak sumber belajar yang bisa digunakan siswa. Bahkan siswa milenial lebih banyak menyerap informasi justru dari luar sekolah dibanding gurunya," kata Anggota Dewan Pakar Pendidikan Jakarta Timur Robertus Budi Setiono di sela-sela peringatan ulang tahun Sekolah Global Sevilla Puri ke-16, Selasa (9/10).

BACA JUGA: 3 Hal yang Harus Dimiliki Guru Profesional

Kemampuan guru untuk menyajikan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa, menjadi tolok ukur kesuksesan tenaga pendidik. Apalagi anak-anak TK hingga SMP kelas 2, hanya fokus belajar selama 10 menit sehingga guru-gurunya harus kreatif. Dalam belajar harus diselingi dengan main game yang positif.

"Jadi guru jangan hanya jago ngoceh. Siswanya disuruh diam dan mendengarkan pidato guru. Ini akan membuat siswa tidak fokus dengan mata pelajaran yang diajari guru," terang Robertus yang juga direktur Sekolah Global Sevilla.

BACA JUGA: Sejahterakan Dulu Guru, Baru Bicara Kualitas Pendidikan

Di Global Sevilla Puri, lanjutnya, sudah tiga tahun ini mengembangkan metode mindfulness. Di antaranya lewat yoga, menikmati rasa makanan, silent moment, dan lain-lain. Selama ini siswa tidak tahu rasa makanan yang dia makan itu seperti apa karena asyik main gawai. Lewat mindfulness, siswa jadi tahu dan bisa membedakan rasa buah pisang, nasi, minuman jahe, dan lainnya.

Mindfulness adalah melatih agar kita menjadi sadar pada status pikiran dan emotions pada moment sekarang. Untuk memiliki mindfulness, guru atau siswa harus memiliki kemampuan dalam mengatur fokus untuk bersikap netral saat menjalani moment sekarang.

BACA JUGA: Guru Tersertifikasi Minim, Mapel Informatika Bakal Terganjal

"Sebelum mengajarkan siswa tentang mindfulness, guru-gurunya juga dilatih. Bagaimana anak bisa fokus kalau gurunya enggak. Jadi intinya ada di guru dulu," ujarnya.

Tiga tahun menjalani mindfulness, lanjut Robertus, dampaknya luar biasa. Aksi bullying di sekolah yang didirikan Nurcholish Madjid itu menurun drastis. Kepedulian anak-anak dengan sesamanya juga makin tinggi. Selain itu anak-anak tidak stres saat menghadapi ujian nasional maupun perlombaan tingkat dunia.

Dia menambahkan, mindfulness merupakan dasar dari pendidikan karakter. Dengan cara ini anak-anak ditanamkan tidak hanya mengandalkan modal pintar tapi juga aspek sosial, saling memberi, saling kasih, dan peduli dengan sesama. (esy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... CATAT! Guru Zaman Now Harus Menguasai HOTS


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler