'Dulu yang Masukin Umar Patek ke Moro itu Saya'

Minggu, 06 Desember 2015 – 00:28 WIB
MANTAN TERORIS : Abdurrahman Ayub, mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) yang sempat berencana memerangi NKRI. Fotografer:Hanri DL Siahaan /Radar Kaltara/JPG

jpnn.com, TANJUNG SELOR - KELOMPOK berpaham radikal  yang menamakan diri Jemaah Islamiyah (JI) pada 1996 berencana memerangi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Kabupaten Nunukan. Abdurrahman Ayub pernah bergabung dalam kelompok itu.

HANRI DL SIAHAAN, Tanjung Selor

BACA JUGA: Ya Tuhan! Si Anak Menangis Kelaparan, Ibu Pura-pura Memasak

Setelah ditugaskan 5 tahun di Afganistan, Abdurrahman Ayub kembali ke Moro, dengan “area garapan” mencakup dari Kinabalu, Tawau, termasuk Kota Tarakan, Sungai Nyamuk dan Sebatik. Sungai Nyamuk menjadi tempat Ayub dan kawan-kawan untuk bolak-balik dengan mudah tanpa menggunakan identitas atau paspor.

“Dulu yang masukin Umar Patek ke Moro itu saya,” sebut Ayub. Jalurnya melalui Tawau, Nunukan, terus ke Tarakan. Ini merupakan jalur yang sudah dikuasi oleh Ayub saat bergerilya.

BACA JUGA: Drama Papa Minta Saham dan Jebakan Batman, Setya Novanto Akhirnya...

Bahkan pada tahun 1996, kelompok ini telah menyiapkan diri untuk melakukan pembukaan akademi militer dalam bentuk camp pelatihan yang bekerja sama dengan beberapa unsur petinggi JI.

Di tahun yang sama, kelompok JI yang dipimpinnya ini hampir memerangi Indonesia melalui Kabupaten Nunukan, Sebatik dan Tarakan termasuk juga daerah-daerah perbatasan darat lainnya.

BACA JUGA: Wenri Wanhar, Sempat jadi Mata-mata, Memburu Denyut Peristiwa Sejarah

“Sebenarnya ini bukan tempat yang aman, akan tetapi dibuat aman, karena sebenarnya ini bukan target peledakan kami,” sebut Ayub.

Jalur yang telah disiapkan melalui Sebatik sebenarnya hanya dijadikan jalur masuknya senjata, personel dan membangun komunikasi. “Kami merasa aman saja waktu itu, karena tidak pernah ada kasus peledakan di wilayah Kaltim (saat ini Kaltara, red) yang kami lakukan,” sebut Ayub.

Daerah seperti Kaltara, di dalam pemetaan kelompok JI, Alkaeda atau orang-orang yang mau memerangi NKRI,  disebut kantong potensi.

Oleh karena itu Ayub yang seorang mantan teroris itu pun mengimbau kepada anak-anak remaja, karena mereka bisa dimanfaatkan sebagai petunjuk tempat atau persembunyian yang terselubung.

Hal ini memang benar adanya, bisa dilihat pada saat kasus peledakan bom Bali dengan pelaku Ali Imron. Ali Imron ini ditangkap di Kalimantan, tepatnya di tambak udang salah satu warga.

“Saya dulu buka jalur dari Tawau ke Tarakan melalui tambak udang milik warga yang tidak dimasuki warga karena disana dikatakan angker,” ungkap Ayub. Karena tambak udang ini tidak pernah digunakan warga setempat, akhirnya kelompok JI yang dipimpin Ayub memanfaatkan area tambak tersebut.

“Sangat luas sekali tambaknya, itu ditinggalkan oleh si pemilik tambak karena disebut-sebut angker,” beber Ayub. Diceritakan Ayub, awalnya masuk dua orang terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke Tarakan.

Warga kampung sekitar juga tidak mengetahui keberadaan kelompok ini, karena mereka dianggap oleh warga sekitar sebagai pekerja tambak, padahal mereka adalah kader-kader militan kelompok JI yang melakukan ekspansi.

Hal ini juga semakin sangat mudah dilakukan oleh kelompok teroris ini, pasalnya di lokasi tersebut sangat jarang sekali dilakukan pemeriksaan oleh petugas atau aparat setempat. “Kami masuk biasa saja, sopan santun, seperti layaknya orang pekerja tambak,” cerita Ayub.

Ditahun 1996 juga, kelompok JI ini telah merencanakan untuk melakukan peperangan. Akan tetapi karena semua tidak satu suara, akhirnya Ayub sempat  diangkut ke Kuala Lumpur untuk disidang. Sidang ini sebagai bentuk pertanggungjawaban Ayub kenapa ingin perang, padahal belum siap untuk berperang. Jadi pada saat itu kelompok ini memang belum siap berperang, karena tidak satu suara.

Sebelumnya Ayub juga pernah belajar selama dua tahun dengan Dr Abdul Najam. Dalam kitab Dr Abdul Najam, yang terdiri dari 13 jilid tersebut menyebutkan semua jemaah yang tidak menjalankan jihad di medan perang maka kelompok  itu sia-sia.

Oleh karena itu, kelompok teroris ini sangat mudah merekrut pemuda yang berasal dari Nahdatul Ulama (NU) maupun Muhammadiah untuk melakukan jihad. Biasa pertanyaan awal yang diajukan  adalah mempertanyakan apa jihadnya NU mapun Muhammadiah? Mereka itu hanya buka sekolah, buka rumah sakit, dan tahlilan.

“Lebih baik gabung dengan kami, kita lakukan perang dan kita nantinya akan mendapatkan bidadari seperti apa yang dijanjikan dalam Alquran bagi lelaki beriman. Ini adalah cara merekrut mereka dengan menggunakan dalil-dalil yang ada di Alquran,” jelas Ayub.

Menurut kelompok ini, semua yang tidak berdasarkan atas hukum Islam maka mereka menyebutnya kafir. Dan menurut kelompok ini juga, Indonesia adalah negara kafir karena Indonesia berlandaskan pada asas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45). ***

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Dua Pegawai Teladan: Datang Paling Awal, Pulang Belakangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler