Efek pada Kota Bersejarah bagi 3 Agama Setelah Turki Diguncang Gempa

Selasa, 14 Maret 2023 – 21:06 WIB
Warga Antkya, Turki, berjalan di depan masjid yang rusak parah karena gempa. Foto: Nir Elias/REUTERS

jpnn.com - ANTAKYA - Dua gempa dahsyat yang mengguncang Turki pada 6 Februari lalu tidak hanya meluluhlantakkan hunian dan perkantoran.

Lindu itu juga berdampak pada tempat-tempat bersejarah bagi Yahudi, Kristen, dan Islam.

BACA JUGA: Data Terkini Jumlah Korban Jiwa Gempa Turki, Ada Banyak Kota Tenda

Ketiga agama monoteisme itu memiliki tempat-tempat historis di Antakya.

Di ibu kota Provinsi Hatay itu terdapat Masjid Habib-i Najjar yang dibangun pada abad ketujuh Masehi.

BACA JUGA: WNI Korban Gempa Turki Kembali Terima Bantuan dari KBRI

Salah satu masjid tertua itu didirikan di atas kuil paganisme era imperium Romawi.

Namun, gempa dahsyat meruntuhkan Masjid Habib-i Najjar dan hanya menyisakan sebagian dindingnya.

BACA JUGA: KBRI Ankara Minta Keluarga WNI Tenang, Ini Daftar Daerah Terdampak Gempa Turki

Antakya juga memiliki sinagoge bersejarah.

Memang tempat ibadah umat Yahudi itu rusak ringan, tetapi kini masih ditutup.

Sinagoge itu menyimpan Taurat kuno yang ditulis di gulungan kulit kijang.

Namun, kitab suci bagi iman Yahudi itu dibawa ke luar kota agar lebih aman.

Selain itu, sebagian komunitas Yahudi di Antakya juga mengungsi ke Istanbul.

Nahas, presiden komunitas Yahudi di Antakya, Saul Cenudioglu, dan istrinya, Fortuna, meninggal dunia dalam bencana alam itu.

Di Antakyia pula terdapat gereja bersejarah milik Yunani Ortodoks.

Gereja kuno itu pernah direkonstruksi pada 1870 setelah rusak karena gempa.

Lokasinya ada di seberang sinagoge bersejarah.

Kini, para pekerja mulai meneliti kerusakan di gereja tersebut.

Antakya merupakan kota kuno yang sejarahnya dimulai sekitar era 300 sebelum Masehi (SM).

Pada masa kekuasaan Romawi dan Zaman Pertengahan, Antakya lebih dikenal dengan nama Antioch atau Antiokhia.

Kini, banyak hunian di Antakya yang tak dikenali lagi oleh para penghuninya setelah gempa hebat yang menewaskan hampir 48 ribu jiwa tersebut.

Kendaraan militer Turki terus berpatroli demi menjaga Antakya tetap aman setelah ditinggalkan oleh ribuan warganya.

Populasi Antakya sekitar 250 ribu jiwa.

Dahulu, kota itu merupakan salah satu titik penting di Jalur Sutra.

Antakyia merupakan pusat awal Kekristenan. Meski demikian, kota itu juga dianggap penting bagi Islam maupun Yahudi.

Pariwisata merupakan salah satu pilar ekonomi di kota kuno itu.

Hanya saja, banyaknya tempat-tempat suci yang ditutup membuat pariwisata Antakya lesu.

“Kota kami memiliki banyak tempat kuno. Sayangnya, kami mengalami kerugian besar. Saya berarap kami bisa segera membangun lagi dan turis akan kembali,” kata Diloh, pemandu wisata di Antakya.

Adam Ali, warga Antakya yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak, menyatakan kotanya memiliki sejarah kuno yang harus diletastarikan.

“Setiap kali kami membangun lagi kota ini, kami perlu melindungi budayanya,” ujar pria berusia 24 tahun itu.

Adam mengaku memiliki banyak teman dari Kristen, Yahudi, Alawi, dan juga Muslim Sunni.

Namun, kini banyak temannya yang memilih meningalkan Antakya.

“Mereka mengaku tidak punya apa-apa lagi di kota ini, dan mungkin mereka tidak akan kembali,” katanya.

Meski demikian, warga Antakya yang memilih pindah ke kota lain itu tetap menganggap penting budaya di daerah asal mereka.

“Saya meminta pemerintah melindungi budaya kami,” ucap Adam.(JPost/JPNN.com)


Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Gempa Turki   Turki   Kota Bersejarah   gempa   agama   Islam   Yahudi   Kristen  

Terpopuler