Ekowisata Mangrove Tak Terurus Lagi

Jumat, 30 Juni 2017 – 21:38 WIB
Ekowisata Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Kota Kupang kini memprihatinkan. Foto: Timor Express/JPNN.com

jpnn.com, KUPANG - Baru satu tahun terakhir ekowisata Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang menjadi viral. Pengunjung pun padat. Namun apadaya, kini sudah tak terurus lagi.

FENTI ANIN, Kupang

BACA JUGA: NasDem Tanam Mangrove Serentak dari Brebes Sampai Rembang

Ekowisata Mangrove di Kelurahan Oesapa Barat yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Kota Kupang kini memprihatinkan. Tempat wisata yang dibangun melalui program International Fund for Agricultural Development (IFAD) ini kian terancam karena tidak diperhatikan lagi.

Tampak beberapa papan di jembatan tersebut sudah lapuk. Pagar jembatan pun sudah patah. Ada papan yang sudah terlepas. Warga pun terpaksa menutup jembatan bagian kiri karena sangat berbahaya.

BACA JUGA: Mensos Dorong TAGANA Asah Kemampuan Cegah Bencana

Salah satu warga RT 02/RW 01 Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Daud Ndolu yang biasa menjaga pintu masuk, mengatakan Pemerintah Kota Kupang sudah melarang mereka untuk memungut biaya masuk. Jadi saat ini pengunjung masuk ke objek wisata tersebut tanpa karcis. Awalnya harga karcis di tempat tersebut Rp 2.000. Namun karena dilarang oleh Pemkot maka tidak ada pungutan lagi.

Akibatnya warga setempat yang biasanya mengurusi objek wisata tersebut tidak lagi mau memperhatikan objek wisata tersebut. Alasannya tidak ada dana untuk sekadar mengganti papan yang lapuk.

BACA JUGA: Operasi “Serbuan Akar Lutut” Digelar di Cirebon

Menurut Daud, sebelumnya kalau ada kayu yang sudah lapuk, mereka langsung menggantinya dari biaya karcis yang terkumpul. Selain itu, warga sekitar juga selalu bergotong royong membersihkan pantai dan kawasan jem, batang mangrove tersebut.

"Dulu kami selalu peduli dengan kondisinya. Selalu diganti kayu-kayu papannya. Setiap sore warga gotong-royong untuk membersihkan, namun sekarang masyarakat sudah malas mengurus, karena pemerintah sudah melarang adanya pungutan parkir. Kami mau dapat uang dari mana untuk membeli kayu dan lainnya jika sudah tidak ada pemasukan," katanya seperti dilansir Timor Express (Jawa Pos Group).

Daud menambahkan, pada musim libur seperti sekarang, banyak pengunjung yang datang. Setiap hari bisa mencapai ratusan pengunjung. Berbeda ketika hari biasa yang hanya mencapai puluhan pengunjung.

Ia berharap pemerintah segera menata kembali objek wisata tersebut karena merupakan tempat wisata yang selalu dikunjungi masyarakat.

"Parahnya lagi, satu jalur masuk hutan mangrove sudah ditutup karena kayu penahan di samping-samping sudah terlepas dan lapuk, sehingga ditutup. Takutnya ada anak kecil yang jatuh dan anakan mangrove tajam sehingga bahaya jika sampai ada yang jatuh," ungkapnya.

Salah satu pengunjung, Densiana Muda yang merupakan mahasiswa Universitas Nusa Cendana mengaku dirinya sangat menyayangkan kerusakan yang terjadi.

Ia berharap ada penataan dan pemeliharaan agar tidak membahayakan pengunjung, karena banyak kayu yang sudah lapuk.

“Banyak kayu yang sudah lapuk, sehingga jika pengunjung tidak berhati-hati akan sangat membahayakan apa lagi di bawah anakan mangrove sangat tajam. Selain itu, satu jalur masuk sudah ditutup karena penahan di sampingnya sudah rusak," katanya.(*/JPG)

BACA ARTIKEL LAINNYA... SBY dan Istri Dapat Kaos dari Christiano Ronaldo


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler