Eks Lokalisasi Dolly Jadi Sarang Narkoba

Kamis, 14 Agustus 2014 – 14:12 WIB

jpnn.com - SURABAYA – Asumsi bahwa bisnis haram akan tumbuh subur di tempat maksiat bisa jadi benar. Eks lokalisasi Dolly, misalnya, ternyata bukan hanya surga prostitusi. Tapi, kawasan yang kini tengah ditata ulang oleh Pemkot Surabaya itu juga menjadi sarang narkoba.

Fakta itu tergambar dari hasil pengungkapan jajaran Satreskoba Polrestabes Surabaya. Polisi berhasil membongkar jaringan pengedar narkoba yang dikendalikan dari Gang Dolly.

BACA JUGA: Pundak Pemuda Ditembus Pelusu Nyasar Polisi

Barang bukti yang diamankan polisi pun tidak main-main. Korps Bhayangkara menyita tidak kurang dari 1,4 kg sabu-sabu. Atau tepatnya 1.414,34 gram. Nilai serbuk haram itu mencapai Rp 2 miliar.

Lima orang dicokok polisi dari pengungkapan tersebut. Dua di antaranya merupakan residivis narkoba, yakni Beni Bahtiar, warga Putat Jaya, Surabaya; dan Yudi Prasetya, asal Jalan Abadi, Balikpapan.

BACA JUGA: Setubuhi ABG, Anggota Dewan Langsung Pulang Usai Vonis

Tiga tersangka lainnya merupakan kaki tangan Beni. Dua di antaranya asal Putat Jaya: Fajar, 30; dan Toni alias Sinyo, 25; serta Zendy Shariar yang beralamat di Gunung Sari Indah, Surabaya.

”Ini merupakan hasil operasi Unit III Satreskoba Polrestabes Surabaya pada Kamis, 7 Agustus lalu. Yang mengejutkan, jaringan ini digerakkan dari lokalisasi Dolly,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombespol Setija Junianta kemarin.

BACA JUGA: Dalangi Pembunuhan Bidan, Pengusaha Asal Batam Dihukum 16 Tahun

Terbongkarnya jaringan pengedar narkoba dari Dolly tersebut berawal dari informasi masuknya Yudi ke Surabaya pada awal Agustus lalu.

Nama Yudi memang tidak asing di telinga penyidik Satreskoba Polrestabes Surabaya. Sebab, pada pertengahan 2000-an, Yudi ditangkap aparat Polwiltabes Surabaya –kini Polrestabes Surabaya– karena kasus narkoba.

Kedatangan pria 41 tahun itu ke Kota Pahlawan juga ditengarai hendak mengambil sabu-sabu. Polisi lantas berupaya mencari tempat menginap Yudi.

Lebih tiga hari mencari tahu daftar tamu hotel dari satu tempat ke tempat lainnya, pada Kamis dini hari (7/8), polisi mendapati namanya menginap di hotel di kawasan Jalan Kombespol M. Duryat, Surabaya.

Begitu memastikan Yudi ada di kamar, sekitar pukul 03.00 polisi menggerebeknya. ”Dari kamar tersangka, anggota kami menemukan satu bungkus aluminium foil yang disembunyikan di dalam kardus susu berisi 700 gram sabu-sabu,’’ terang Setija.

Dengan barang bukti sabu-sabu sebanyak itu, Yudi tidak bisa mengelak bahwa dirinya masih berbisnis narkoba. Dia pun diinterogasi polisi dan akhirnya mengaku datang ke Surabaya memang untuk membeli sabu-sabu.

Barang haram itu dibeli dari YO dan MG yang disebut tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya masih buron. ”Sabu-sabu dari YO dan MG tersebut dikirim melalui Beni di Dolly,” jelas Kasatreskoba Polrestabes Surabaya AKBP Agus Yulianto.

Kiriman pertama sebanyak 700 gram sabu-sabu diantar Senin pekan lalu (4/8) oleh Toni. Yudi juga ”bernyanyi” bahwa Kamis sore itu hendak dikirimi lagi 520 gram sabu-sabu. Rencananya, Yudi bertemu dengan kurir Beni di kawasan Kedungsari, Surabaya.

Kamis sore itu pula polisi menyanggong lokasi yang disebutkan Yudi tersebut. Sekitar pukul 16.00 polisi akhirnya mendapati dua pria yang hendak mengirim sabu-sabu itu. Mereka adalah Zendy dan Fajar.

Tanpa basa-basi, polisi langsung menyergapnya. Dari tangan mereka, polisi mengamankan dua bungkus plastik berisi 520 gram sabu-sabu.

Meski sudah menangkap tiga orang dengan barang bukti yang cukup jumbo, polisi belum mau berhenti. ”Anggota kami lalu melakukan pengembangan penyidikan dengan masuk ke Gang Dolly. Sebab, gudang penyimpanan berada di eks lokalisasi tersebut,” ujar Setija.

Kamis itu juga sekitar pukul 19.00, polisi menggerebek tempat kos di Gang Dolly yang dihuni Beni. Pria yang sehari-hari menyamar sebagai penjual dompet dan kacamata di Dolly tersebut ditangkap.

Di kamar Beni polisi menemukan 193,84 gram sabu-sabu. Di situ polisi juga menemukan kardus paket kiriman sabu-sabu yang tertulis 8 kg.

”Kemungkinan Beni memang mendapat kiriman 8 kg sabu-sabu. Tapi, saat kami gerebek, sebagian besar sudah diedarkan. Beni sendiri mengaku kiriman yang diterimanya 5 kg,” ungkap Kanitidik III Satreskroba Polrestabes Surabaya AKP Gatot Setyo Budi.

Di tempat Beni juga, polisi menangkap Toni yang sebelumnya mengantarkan 700 gram sabu-sabu kepada Yudi. Total dari hasil pengungkapan tersebut, polisi mengamankan tidak kurang dari 1,4 kg sabu-sabu.

Serbuk haram sebanyak itu jika dikalkulasi bisa digunakan 2.829 orang. ”Jadi, dari pengungkapan ini, setidaknya kami berhasil menyelamatkan 2.829 orang dari bahaya narkoba,” sebut Setija.

Jaringan pengedar sabu-sabu yang dikendalikan Beni dari Gang Dolly tersebut berjalan sejak Maret lalu atau sebulan setelah bebasnya Beni dari penjara.

Pada akhir 2000-an, Beni memang dijebloskan ke penjara karena kasus narkoba. Setelah bebas, dia menjalankan bisnis itu lagi dengan memosisikan diri sebagai gudang penyimpanan sabu-sabu pasokan YO dan MG.

Sabu-sabu dari tangan Beni tidak hanya untuk melayani konsumen yang datang ke Dolly. Tapi, dia juga mengedarkannya ke seantero Surabaya. ”Selain itu, ke luar kota dan pulau,” kata Agus.

Luasnya area peredaran tersebut disebabkan sabu-sabu yang dipasok ke tempat Beni sangat besar. Sejak Maret lalu, Beni mendapat kiriman dua kali yang masing-masing diakuinya 5 kg.

Dengan mempekerjakan empat kawannya yang tiga di antaranya warga Putat Jaya, Beni mengedarkan sabu-sabu tersebut ke berbagai konsumen. Baik dalam jumlah besar maupun kecil.

Salah satu kaki tangan Beni kini masih buron. Inisialnya B. Dia itu pula yang bersama Toni mengirimkan 700 gram sabu-sabu kepada Yudi. ”Kurir tersebut kini sedang kami buru. Begitu pula YO dan MG,” tegas Setija.

Berdasar pengakuan Beni, YO dan MG berada di Cilacap. Tapi, polisi tidak menelan mentah-mentah keterangan tersebut. Apalagi dari paket kiriman yang masuk kepada Beni, polisi menemukan catatan bahwa barang ilegal tersebut dikirim dari Jakarta.

”Ini yang masih kami telusuri. Yang jelas, apa yang kami ungkap ini menunjukkan bahwa penutupan Dolly merupakan langkah yang tepat. Sebab, kalau dibiarkan, banyak sisi negatif dari lokalisasi tersebut,’’ papar Setija. (fim/c6/ib)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Alasan Sekuriti yang Garap Siswi SMP Berulang Kali


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler