Eks Menkes Minta Budi Pekerti Masuk Kurikulum, Pak Muhadjir Jawab Begini

Jumat, 13 September 2019 – 09:18 WIB
Siswa SD di Kecamatan Selo, Boyolali, Jateng. Ilustrasi Foto: Soetomo Samsu/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Mantan Menteri Kesehatan Faried Anfasa Moeloek menyampaikan pentingnya penanaman budi pekerti masuk kurikulum pendidikan nasional.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan audiensi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Jakarta, Kamis (12/9).

BACA JUGA: Pendidikan Karakter dan Penguatan Literasi Harus Dimulai Sejak Dini

“Saya prihatin melihat pemberitaan-pemberitaan yang menunjukkan tindakan tidak berakhlak dan tidak bermoral. Selain pandai, SDM Indonesia itu mempunyai karakter. Karakter itu yang seperti baik hati, tahu apa yang dikerjakannya untuk masyarakat luas dan sebagainya, itu sangat penting ditanamkan dalam pendidikan,” tuturnya.

Pada pertemuan tersebut, Faried mengemukakan pengalamannya saat mendapatkan pelajaran budi pekerti di sekolah dasar (SD).

BACA JUGA: UT Perkuat Kurikulum Pendidikan Karakter di Fakultas Keguruan

“Saya saat SD mendapatkan pelajaran budi pekerti khusus. Saya sudah bercerita kepada bapak menteri, jadi tergantung bapak menteri bagaimana cara mengembangkannya. Namun, saya sangat mengapresiasi sekali pelajaran budi pekerti waktu saya masih SD di tahun 1950-an,” terang Faried.

Dia menambahkan, manusia itu harus berbudaya dan pendidikan adalah salah satunya untuk membuat manusia jadi berbudaya. "Saya titipkan penanaman budi pekerti masuk dalam kurikulum pendidikan,” pesan Faried.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Muhadjir mengatakan penanaman budi pekerti sudah masuk dalam proses belajar mengajar di sekolah melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

PPK merupakan gerakan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memerkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

“Sekarang tidak dalam bentuk mata pelajaran tapi tema dan sub tema. Untuk intranya masuk ke dalam mata pelajaran termasuk PPKN, agama, sejarah. Sedangkan untuk ekstranya masuk ke dalam ekstrakurikuler seperti Pramuka, OSIS. Kalau berkaitan dengan kerohanian masuk dalam kegiatan keagamaan di sekolah,” terangnya. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler