Ella Ubaidi, Motor Revitalisasi Stasiun Kereta Api di Indonesia

Geram dengan Citra Neraka dan Sarang Genderuwo

Kamis, 03 April 2014 – 12:38 WIB
Ella Ubaidi (kanan). FOTO: jawa pos

jpnn.com - Sejak 2009 PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan revitalisasi besar-besaran. Yang kasatmata, stasiun-stasiun kereta api kini tampak lebih elok, rapi, dan menarik. Adalah Ella Ubaidi sosok penting di balik proyek revitalisasi itu. 

AHMAD BAIDHOWI, Jakarta 
--- 
TAK BISA dimungkiri, stasiun-stasiun kereta api (KA) di Indonesia beberapa tahun lalu kumuh, kotor, semrawut, panas, bau pesing, banyak gelandangan dan preman, hingga angker. Kesannya seperti neraka dan sarang genderuwo. 

"Padahal, stasiun-stasiun itu adalah mahakarya arsitektur termegah dan terindah di masanya," ujar Ella Ubaidi saat ditemui Jawa Pos seusai meeting di salah satu rumah makan di Jakarta Pusat Kamis pekan lalu (27/3).

Sebagai aktivis konservasi bangunan dan benda cagar budaya, Ella selalu digelayuti rasa risau dan pedih tatkala melihat bangunan-bangunan stasiun tua tersebut dibiarkan tak terawat. Karena itu, bagai gayung bersambut, pada 2009 dia diajak Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan untuk membantu merevitalisasi bangunan stasiun-stasiun KA di berbagai kota 

Ella dengan senang hati menerima ajakan tersebut. 

Berlatar belakang pendidikan bidang administrasi bisnis dan konservasi perkotaan di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), Ella memang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam program revitalisasi bangunan-bangunan tua. Apalagi, perempuan yang lahir dan besar di Jakarta itu pernah bekerja di district management untuk penataan kota lama di kawasan Pasadena, California, AS.

Memang, pada masa kepemimpinan Jonan, PT KAI seolah melakukan revolusi besar-besaran. Mereka bertekad melakukan revitalisasi layanan kereta api di berbagai aspek. Mulai kemudahan pemesanan tiket, kepastian mendapat tempat duduk di kereta jarak jauh, pemasangan penyejuk udara (air conditioner) di semua gerbong kereta, hingga ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan.

Karena itu, Ella menyambut baik program "bersih-bersih" stasiun yang dicanangkan Jonan tersebut. Ella yang didapuk sebagai kepala Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI lantas berfokus menangani pembenahan stasiun dan bangunan-bangunan yang terkait dengan kereta api. 

"Tekad kami memberikan better services (pelayanan yang lebih baik) bagi masyarakat. Tentu belum sempurna, tapi setidaknya sudah lebih baik dibanding layanan sebelum 2009," katanya.

Apa yang dilakukan Ella? Mula-mula dia beserta timnya menginventaris aset-aset milik PT KAI. Setelah itu, masuk proses identifikasi, konservasi, renovasi, sosialisasi, dan menggali kembali sejarah serta nilai-nilai yang terkandung dalam benda dan bangunan tua.

"Intinya sebenarnya sederhana, bangunan yang kotor dibersihin, yang semrawut dirapiin, yang rusak dibetulin, mulai stasiun hingga penunjangnya seperti tempat parkir," ucapnya.

Namun, hal sederhana itu, rupanya, tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai hambatan dan tantangan harus dihadapi Ella, mulai membersihkan stasiun dari pengamen, preman, dan gelandangan; menertibkan pedagang kaki lima; menghadapi para pencuri aset-aset kereta api; sampai meyakinkan para pegawai PT KAI bahwa bangunan-bangunan tua harus diperbaiki dan dilestarikan, bukan malah dibiarkan tak terurus sehingga terkesan angker. 

"Dulu banyak pengamen bawa kecrekan (alat musik dari tutup botol) yang ujungnya dikasih silet untuk menakut-nakuti dan memeras penumpang. Yang seperti itu harus dibersihkan," ujarnya.

Itu semua, kata Ella, merupakan bagian dari program revitalisasi stasiun-stasiun kereta api. Awalnya di tiga stasiun, yakni Stasiun Purworejo, Stasiun Jebres Solo, dan Stasiun Tawang Semarang. Namun, sebelum itu bangunan pertama yang direvitalisasi Ella adalah Gedung Lawang Sewu di Semarang. 

Ella menceritakan, dahulu gedung yang dibangun pada 1904-1907 tersebut adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), pengelola kereta api di zaman Hindia Belanda. Perusahaan itulah yang lantas diambil alih pemerintah Indonesia pada zaman kemerdekaan yang kemudian menjadi cikal bakal PT KAI. 

"Waktu itu Pak Jonan (Dirut KAI) bilang, Lawang Sewu adalah cikal bakal KAI. Kalau cikal bakalnya saja identik dengan genderuwo, bagaimana KAI mau maju. Karena itu, Lawang Sewu yang dulu cakepnya luar biasa, kita poles agar kembali memesona," katanya.

Kini, di antara 680 stasiun KA di Indonesia yang tersebar di Jawa dan Sumatera, hampir semua sudah tersentuh program revitalisasi. Hanya, baru sekitar 50 persen yang perbaikannya cukup besar. Lainnya baru diperbaiki secara minor seperti pengecatan dan pembenahan fasilitas-fasilitas yang rusak. 

"Target kami dua tahun lagi semua fisik stasiun di Indonesia harus sudah bagus," ucapnya.

Dalam proses revitalisasi itulah, Ella makin terkagum-kagum dan takjub dengan mahakarya stasiun-stasiun tersebut. Apa saja itu? Misalnya, di Stasiun Tanjung Priok Jakarta Ella dan tim menemukan konstruksi baja melengkung yang menopang atap stasiun. Konstruksi baja melengkung tersebut persis dengan konstruksi Menara Eiffel di Paris, Prancis. Stasiun itu dibangun arsitek Belanda bernama C.W. Koch yang memang termasyhur dalam konstruksi baja.

Konstruksi itu dipilih karena Tanjung Priok berada di pinggir pantai sehingga bangunan didesain dengan struktur yang kuat menahan angin, tahan gempa, bahkan tsunami karena Indonesia berada di wilayah rawan gempa. Selain itu, stasiun tersebut dilengkapi basement atau ruang bawah tanah yang dulu difungsikan sebagai tempat perlindungan jika sewaktu-waktu terjadi pertempuran dan pengeboman.

Ella mengatakan, program revitalisasi stasiun merupakan bagian dari rencana besar untuk mengembalikan kebanggaan dan kebesaran industri kereta api di Indonesia. Menurut dia, pada 1952 Indonesia sempat sejajar dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Saat itu Presiden Soekarno berhasil mendatangkan generasi pertama kereta diesel dunia yang menggantikan teknologi kereta uap. Namun, sejak era 1960-an kereta api mengalami kemunduran tajam karena tidak dikelola dengan baik dan kalah oleh moda transportasi lain. 

"Untuk mengembalikan pride (kebanggaan, Red) itu, harga diri perkeretaapian harus diangkat. Caranya, memberikan layanan yang baik kepada masyarakat, menyuguhkan stasiun dan kereta yang bersih dan menarik," ujarnya. (*/c10/ari) 

BACA JUGA: Tahun Depan Garap Indonesia International Film & TV Market

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tak Peduli meski Difitnah Cari Keuntungan Pribadi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler