Embargo Senjata Iran Berakhir Oktober, Kelompok Lobi Israel Ketakutan

Sabtu, 15 Agustus 2020 – 17:18 WIB
Pasukan Garda Revolusi Iran. Foto: Reuters

jpnn.com, WASHINGTON - Dewan Keamanan (DK) PBB pada Jumat malam (14/8) menolak resolusi yang diusulkan oleh Amerika Serikat (AS) untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, kegagalan Dewan Keamanan untuk bertindak tidak bisa dimaafkan.

BACA JUGA: Voting di Dewan Keamanan PBB, Indonesia Tak Bela Republik Islam Iran

“Ini menolak resolusi yang masuk akal untuk memperpanjang embargo senjata selama 13 tahun di Iran dan membuka jalan bagi negara sponsor terorisme terkemuka dunia untuk membeli dan menjual senjata konvensional tanpa pembatasan khusus PBB untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade," kata dia dalam sebuah pernyataan.

Pompeo mengatakan AS tidak akan pernah meninggalkan teman-temannya di kawasan yang mengharapkan lebih banyak dari DK PBB. Sebuah sinyal yang tampaknya mengacu pada Israel.

BACA JUGA: Amerika Berhasil Sikat Empat Tanker Iran, Jutaan Barel Minyak Dirampas

Menurut sumber, resolusi tersebut menghadapi tekanan yang kuat dari Rusia dan Tiongkok, dua anggota DK PBB pemegang hak veto dan sekutu dekat Iran.

Kelompok lobi pro Israel yang kuat di Kongres AS, AIPAC, mengatakan pemungutan suara itu mengancam untuk semakin mengguncang kawasan itu dan bertentangan dengan kepentingan keamanan AS serta sekutunya.

BACA JUGA: Amerika Serikat: Iran Sponsor Terorisme Terbesar di Dunia

Washington memperkenalkan resolusi yang direvisi ke DK PBB setelah draf sebelumnya tidak mendapat dukungan dari anggota, termasuk sekutu AS.

Presiden Iran Hasan Rouhani memperingatkan konsekuensi jika DK menerima resolusi tersebut.

Pejabat Iran menyatakan bahwa langkah tersebut melanggar ketentuan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), juga dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran, yang dinegosiasikan antara Iran dan negara-negara P5+1 yaitu AS, Inggris, China, Prancis, Rusia, serta Jerman pada 2015.

Laporan media AS menunjukkan pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk memicu sanksi snapback minggu depan. AS dalam beberapa waktu terakhir mengancam akan kembali memberlakukan sanksi kepada Iran atau snapback jika PBB tidak memperpanjang embargo senjata yang akan berakhir pada Oktober tahun ini.

AS bahkan mengedarkan dokumen kepada anggota DK yang mengatakan Washington memiliki hak eksplisit untuk memicu klausul snapback Resolusi PBB 2231 yang menjadi dasar kesepakatan bersejarah tahun 2015.

Namun, para ahli berpendapat bahwa AS mungkin tidak dapat memicu snapback sejak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada Mei 2018.

"Hasil pemungutan suara di DK PBB tentang embargo senjata terhadap Iran menunjukkan, sekali lagi, isolasi AS. AS harus belajar dari bencana ini. Upaya sanksi snapback adalah ilegal, dan ditolak oleh komunitas internasional, seperti yang terbukti hari ini," kata Duta Besar Iran untuk PBB Takht Ravanchi melalui Twitter.

“Pengenaan sanksi atau pembatasan apa pun terhadap Iran oleh DK PBB akan sangat dipenuhi oleh Iran dan opsi kami tidak dibatasi. AS dan setiap entitas yang dapat membantu atau menyetujui perilaku ilegalnya, akan memikul tanggung jawab penuh," tulis Ravanchi.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladmir Putin mengusulkan pertemuan puncak daring lima anggota tetap DK, bersama dengan Iran dan Jerman, untuk membahas embargo senjata dan menghindari kemungkinan konfrontasi. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler