Empat BUMN Kaji Pengembangan Mobil Nasional

Selasa, 10 Januari 2012 – 09:11 WIB

JAKARTA--Kementerian BUMN tengah mengkaji kemungkinan pengembangan mobil nasional (mobnas) oleh perusahaan negara. Empat perusahaan pelat merah, yakni PT Inka, PT Bosma Bisma Indra (BBI), PT Barata Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia akan meriset kemungkinan pengembangan mobnas.

Dari ketiga BUMN itu, PT Inka memang telah memiliki prototipe mobil dengan nama GEA. "Saya hari Jumat (13/1) akan datang ke PT Inka. Nanti saya mau lihat, katanya sudah ada prototipenya, hampir selesai," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, kemarin (10/1).

Dahlan mengatakan pengembangan mobil nasional tidak bisa dilakukan dengan emosional. "Kan harus dihitung juga nilai bisnisnya," katanya.

Dia lantas mencontohkan, Malaysia saat ini memiliki mobnas bermerek Proton. Namun, belum tentu bisnis Proton menguntungkan dan tidak menguras uang negara melalui subsidi. Sehingga, menurut Dahlan, pertimbangan utamanya adalah sisi komersial. "Segera dihitung apakah secara komersial dan secara bisnis ini bisa masuk hitungan atau tidak. Begitu bisa masuk hitungan, harus ada yang berani di depan, BUMN harus berani," kata Dahlan.

Pertimbangan yang digunakan juga bukan hanya harga murah. Namun, juga kualitas dan sambutan pasar. "Belum tentu murah itu laku. Kalau misalnya murah tapi tidak aman, atau murah tapi gampang rusak," ujarnya.

Gairah pengembangan mobnas mengemuka setelah Walikota Solo Joko Widodo berniat menggunakan mobil buatan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kiat Esemka.

Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengapresiasi pengembangan mobnas. Meski begitu bukan hal mudah untuk mendorong Esemka masuk ke dalam lingkup industri otomotif. Karena, untuk masuk ke dalam pengembangan industri mobil, harus diikuti dengan kemampuan manufaktur secara permanen, teknologi dan kelayakan. "Nah kalau itu sudah lolos, baru kita berpikir untuk masuk ke dalam industrinya," tandas Hidayat.?

Di dalam pembahasan mengenai industri sendiri tidak hanya meliputi manufaktur, melainkan termasuk infrastruktur dalam hal purna jual. Menurut dia, kalau Esemka ingin masuk ke industri, harus mulai memikirkan dari segi bisnis. Yakni harus bergabung dengan investor yang ingin berinvestasi. "Untuk itu, pemerintah akan membantu. Tapi, pada akhirnya yang dihadapi industri mobil baru adalah kompetisi di pasar domestik yang kini didominasi 20 merek," tandas dia.

Sedangkan dari sisi pemerintah tidak bisa melakukan proteksi secara terus-menerus. Misalnya, proteksi berupa kebijakan fiskal dengan memberikan bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) terhadap mesin yang belum bisa diproduksi di sini, sehingga menjadi nol persen. Maupun bantuan kredit bagi investor. Apalagi kalau proteksinya dianggap melanggar ketentuan WTO.

"Nah, jangan sampai gagal, Timor itu dulu gagal karena tidak bisa bersaing. Dulu diproteksi berlebihan sehingga kita dimarahi WTO. Memberi proteksi juga ada batasnya, karena pada akhirnya harus siap berkompetisi," tukas dia.(sof/res/agm)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Panglima TNI Yakini Penembakan di Aceh Kriminal Murni


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler