Era Disrupsi Harus Dibarengi Revitalisasi Sistem Pendidikan

Rabu, 19 Desember 2018 – 21:07 WIB
Irfan L. Sarhindi dan Yusuf Hidayat dalam Forum Berbagi bersama dengan mahasiswa dan komunitas muda kreatif di Aula Rektorat lantai satu Universitas Lambung Mangkurat. Foto: Istimewa

jpnn.com, BANJARMASIN - Pegiat literasi Irfan L. Sarhindi mengatakan, anak-anak muda yang kreatif, visioner, dan inovatif akan terkoneksi satu sama lain.

"Dengan demikian, nantinya bersama-sama mewarnai Indonesia ke depannya dengan hal-hal yang kreatif dan terbaik," ucap Pendiri Pondok Pesantren Salamul Falah itu dalam Forum Berbagi bersama dengan mahasiswa dan komunitas muda kreatif di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Selasa (18/12).

BACA JUGA: Literasi Digital Bukan Satu Anak Satu Komputer

Kegiatan bertema Membangun Budaya Literasi Komunitas Digital itu digelar oleh Gerakan Kolaborasi Positif dan dihadiri sekitar seratus peserta.

Irfan menambahkan, saat ini anak muda menghadapi dua isu utama dalam literasi. Yaitu, literasi yang sifatnya minat baca dan digital.

Irfan menjelaskan, dalam konteks minat baca, Indonesia masih berada di posisi 60 dari 62 negara.

"Inilah yang juga berpengaruh dalam literasi digital di kalangan masyarakat, terutama anak muda dalam menggunakan media digital dengan bijak," terang lulusan Master University College London, Institute of Education itu.

Irfan mengatakan, Gerakan Kolaborasi Positif adalah hal yang dibutuhkan saat ini. Menurut dia, gerakan seperti ini berusaha membangun konektivitas antaranak muda agar saling terkoneksi satu sama lain.

Akademisi Jurusan Pendidikan Sosiologi Universitas Lambung Mangkurat Yusuf Hidayat menjelaskan, saat ini masuk dalam era disrupsi yang mana segala hal sudah terkoneksi satu sama lain melalui internet.

"Kondisi tersebut harus bisa dimaksimalkan. Jangan sampai dengan perubahan yang begitu cepat, anak muda Indonesia tidak mampu mengikuti perubahan tersebut," kata Yusuf.

Menurut dia, era disrupsi saat ini juga harus dibarengi dengan revitalisasi sistem pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi.

"Era disrupsi ini menuntut adanya revitalisasi dalam sistem pembelajaran saat ini yang meliputi kurikulum dan pendidikan karakter; bahan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, kewirausahaan, penyelarasan dan evaluasi," kata Yusuf. (jos/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler