ESG Jadi Isu Penting Perusahaan-Perusahaan Terkemuka di Indonesia 

Rabu, 02 Agustus 2023 – 20:36 WIB
Ki-Ka: Audit & Assurance Partner BDO Bambang Budi Tresno, CEO for BDO in Indonesia Thano Tanubrata, Associate Director of ESG & Sustainability BDO Indonesia Anjar Priandoyo. Foto Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Environmental Social Governance (ESG) kini menjadi perhatian seluruh dunia pada World Economic Forum.

Terungkap risiko bisnis bukan lagi hanya soal produk maupun persaingan, tetapi kini berhubungan erat dengan iklim. 

BACA JUGA: WanaArtha Life Hadir di Acara World Economic Forum Annual Meeting 2020

Associate Director of ESG & Sustainability BDO Indonesia Anjar Priandoyo mengatakan pelaku bisnis dan Investor sudah mulal menyadari kondisi bumi memburuk dan berdampak pada bisnis. Ketika bumi rusak pada akhirnya akan membuat semua bisnis mati.

"ESG menjadi isu penting bagi perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia dalam rangka keberlanjutan bisnis dan tatanan kehidupan global di masa mendatang (sustainability)," kata Anjar Priandoyo, di Jakarta, Rabu (2/8).

BACA JUGA: CSR Outlook Leadership Forum 2023, Soroti Konsep ESG dalam Membangun Bisnis Berkelanjutan

Dia melanjutkan kepedulian terhadap lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan adalah langkah baik. Namun, perlu diingat ESG bukanlah sekadar report keren-kerenan, tetapi sesuatu yang harus holistik dan perlu direncanakan matang.

Menurut Anjar, ketika sudah mengusung isu ESG, sejatinya perusahaan tersebut telah berada di jalan yang benar.

BACA JUGA: Di Tengah Isu Divestasi, Prinsip ESG PTVI Banyak Dipuji

Langkah perusahaan itu sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia yang ingin menuntaskan target sustainable development goals (SDGs) pada 2030 dan net zero emission (NZE) pada 2060 mendatang. 

Didukung oleh regulasi pemerintah POJK No. 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.

Audit & Assurance Partner BDO Bambang Budi Tresno pun mengakui kebutuhan anggaran untuk program sustainability harus disiapkan dengan matang sejak awal.

Langkah ini penting sebab, pelaku bisnis perlu memahami bahwa anggaran yang digelontorkan sangat mungkin tidak langsung kembali berupa keuntungan yang berupa uang lagi.

"Nah, di sinilal pentingnya harus diselaraskan karena ini adalah shifting dan ada target jangka panjang. Ingat, profit itu bisa berupa value atau nilai tambah lingkungan. Inilah yang harus dipahami oleh perusahaan sejak awal," tuturnya.

Agar bisnis dan program sustainability sama-sama bisa berjalan efektif, menurut Bambang perlu dibuat peta jalan (roadmap) secara komprehensif.

Bambang menjelaskan untuk mencapai hasil program secara holistik, di BDO sendiri memiliki sustainability methodology yang mencakup tiga fase. 

Pertama adalah Define Report Plan yang mencakup needs assessment and define plan, set methodology dan engage.

Kedua adalah Analyse and Measure yang mencakup elaboration and collection of data. Ketiga, Report and Improve yang meliputi develop report narrative, assurance support dan review, optimise and adjust. 

"Pendampingan bukan hanya untuk perusahaan yang belum menjalankan ESG, tetapi juga untuk perusahaan yang sudah menjalankan karena ingin lebih optimal dan efisien," terang Bambang.

Dia menegaskan pendekatan secara holistik ini penting karena regulasi terkait ESG di Indonesia juga cukup banyak lantaran setiap kementerian atau lembaga masih memiliki standar dan ketentuan tersendiri dalam kerangka mewujudkan NZE. 

Bambang berharap ke depan Indonesia bisa membuat satu standar regulasi yang bisa dijadikan patokan bersama. Selain lebih memudahkan pelaku bisnis, hal ini juga bisa mempercepat target emisi nol bersih. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler