Fahri Hamzah: Setiap 20 Tahun Selalu Ada Guncangan

Sabtu, 18 Juli 2020 – 00:50 WIB
Fahri Hamzah. Foto: Instagram fahrihamzah

jpnn.com, JAKARTA - Waketum Partai Gelombang Rakyat Indonesia Fahri Hamzah mengatakan negeri ini telah melewati perjalanan panjang dan luar biasa melelahkan untuk menjadi sebuah bangsa. Mulai dari masa perang, hingga memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada 2020, Indonesia akan memperingati HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan.

"Ini sebuah perjalanan yang teguh dan harus dirasakan terus menerus untuk menyakinkan setiap anak bangsa bahwa kita akan terus melangkah," kata Fahri saat membuka Gelora Digital Fest 2020 yang disiarkan lewat YouTube resmi partaigeloraID, Jumat (17/7) malam.

BACA JUGA: Kalung Antivirus Corona Jadi Ejekan, Fahri Hamzah Bela Kementan

Hanya saja, kata Fahri, sepanjang sejarah selalu ada tantangan. Menurutnya, tantangan di republik ini selalu muncul setiap 20 tahun.

"Itu semacam jam tubuh dari republik kita, setiap dua puluh tahunan itu kita berguncang," ungkapnya.

BACA JUGA: Disorot karena Bisnis Lobster, Begini Reaksi Fahri Hamzah

Fahri mencontohkan misalnya sejak abad 20, Sumpah Pemuda, era kemerdekaan, lahir dan tumbangnya orde baru, kemudian 2018 kemarin peringatan 20 tahun reformasi.

Mantan aktivis mahasiswa itu menjelaskan saat orba tumbang, Indonesia seperti mengalami kelahiran baru.

BACA JUGA: Terungkap, Ternyata Ini yang Membuat Cewek Bule Pembunuh Polisi di Bali Cepat Bebas

Menurut dia, Indonesia yang dirumuskan dalam konstitusi yang telah mengalami empat kali amendemen pascaruntuhnya rezim otoriter orba, bisa disebut sebagai sejenis negara dengan karakter yang lebih baru.

"Tesisnya atau isinya adalah negara ini harus makin demokratis. Negara ini harus menganut nilai universal di dalam batang tubuhnya," katanya.

Dengan demikian, kata Fahri, negara ini berjalan sesuai dengan kehendak nurani, pikiran, dan nilai-nilai manusia secara universal dan nilai kebangsaan secara khusus.

Menurut Fahri, hal itulah yang mendandakan lahirnya reformasi dan demokrasi sekitar 20 tahun lalu.

"Pada 20 tahun kemudian saya sering mengatakan sebuah tesis, paling tidak kita mengalami persoalan penting sekali sebagai bangsa dan negara," kata dia.

Mantan wakil ketua DPR itu menjelaskan pertama ialah terjadi kegamangan naratif. Menurutnya, banyak para pemimpin yang bingung apa sebenarnya value dari bangsa ini.

"Kita ini sedang berdebat hari-hari ini karena adanya inisiatif dari satu kelompok yang ingin menginteroduksi Pancasila versi lama, yang disebut Trisila atau Ekasila itu," ujarnya.

Padahal, kata Fahri, persoalan ini sebenarnya sudah selesai di dalam perdebatan sejak lama.

"Saat persidangan BPUPKI maupun 18 Agustus 1945, kita mengesahkan Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya terdapat versi akhir dari Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara yang diakui sudah final perdebatannya," kata dia.

Hanya saja, kata Fahri, masih ada yang bingung sehingga terjadilah sebuah kegalauan atau kegamangan naratif. "Jadi, banyak yang memang tidak mempelajarinya," tegasnya. (boy/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler