Fakta Mengejutkan dari Sri Mulyani tentang Pertumbuhan Ekonomi, Sangat Berat

Kamis, 07 Mei 2020 – 06:18 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto : Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada quartal I atau Q1 sebesar 2,97 persen (year on year).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan angka itu disebabkan karena konsumsi masyarakat mengalami penurunan sangat besar selama masa pandemi Covid-19.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Jokowi Kesal, Sri Mulyani Buka Data Menyedihkan, Korban PHK Mau Jual Ginjal

 “Kalau dilihat angka pertumbuhan 2,97 persen di kuartal 1, yang nampak sangat besar di sisi demand adalah konsumsi yang turun sangat besar,” kata Sri Mulyani saat rapat dengan Komisi XI DPR secara virtual, Rabu (6/5).

Ani, panggilan akrabnya, mengatakan biasanya angka konsumsi tumbuh di atas lima persen, kali ini merosot ke 2,84 persen.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Almira Yudhyono Dirundung Denny Siregar, Bule Asyik Berbikini di Bali, Najwa Lagi

Menurut dia, kondisi ini pun terjadi pada Q1, di mana pembatasan sosial berskala besar (PSBB) baru diberlakukan minggu kedua Maret 2020.

“Bisa dibayangkan kuartal kedua, April, Mei, dan PSBB meluas, maka konsumsi akan drop jauh lebih besar,” ungkap mantan petinggi Bank Dunia, itu.

BACA JUGA: Dini Hari, Warga Lain sedang Salat Subuh, Dua Pria Ini Malah Pilih Berbuat Terlarang

Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi XI DPR Fraksi Partai Golkar Dito Ganinduto itu, Ani menyatakan bahwa gross domestic product (GDP) Indonesia itu 57 persennya adalah konsumsi. Nilai konsumsi itu mencapai Rp 9000 triliun.

“Dan dari GDP indonesia, kontribusi Jakarta dan Jawa lebih dari 50 persen, yakni hampir 55 persen. Kalau sekarang Jakarta dan Jawa PSBB meluas, sudah pasti konsumsi tidak tumbuh bahkan mengalami kontraksi,” ungkap Ani.

Nah, Ani menjelaskan yang menjadi pertanyaan sekarang ini ialah seberapa dalam kontraksi itu.

Dia menjelaskan, dari jumlah Rp 9.000 triliun itu, sebanyak Rp 5000 triliunnya dari Jawa, dan mereka mengalami kontraksi, maka kalaupun kemudian dilakukan kebijakan bantuan sosial Rp 110 triliun, tidak bisa mensubstitusi penurunan konsumsi dari Rp 5000 triliun tersebut.

“Mungkin kalau turun katakanlah 10 persen saja, itu berarti kita sudah bicara tentang angka yang sangat besar,” kata Ani.  

Dia menjelaskan ini adalah situasi yang dihadapi dalam  melihat dalam melihat perekonomian Indonesia di Q2 ke depan bahkan kemungkinan masih berlanjut di Q3.

Menurutnya, kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke dalam skenario sangat berat bisa saja terjadi.

Yakni, dari estimasi pertumbuhan ekonomi dalam situasi berat sebesar 2,3 persen, menjadi -0,4 persen dalam skenario sangat besar.

“Ini apabila pada kuartal tiga dan kuartal empat kita tidak mampu merecover,” ujarnya.

Dampak lebih panjang di kuartal dua dan kuartal tiga secara penuh dan PSBB memengaruhi pertumbuhan ekonomi saat ini.

“Kalau itu dilakukan kita masuki skenario sangat berat,” pungkas Ani. (boy/jpnn) 

 


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler